Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:35 WIB
Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?
Unsplash/Ivana Cajina

Suara.com - Hari-hari dengan panas lembap yang membahayakan kesehatan kini terjadi jauh lebih sering dibandingkan lima dekade lalu. Analisis terbaru Climate Central menunjukkan frekuensinya telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1970-an akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Temuan tersebut menunjukkan ancaman perubahan iklim tidak lagi hanya ditandai oleh suhu yang semakin tinggi. Kombinasi suhu panas dan kelembapan udara yang tinggi membuat tubuh semakin sulit mendinginkan diri, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heat stroke) yang dapat berujung pada kematian.

Sepanjang 2025, sekitar 83 persen wilayah di dunia mengalami tambahan hari dengan panas lembap berbahaya akibat perubahan iklim. Kondisi ini paling banyak terjadi di kawasan tropis lembap, seperti Asia Tenggara, pesisir Afrika Barat, dan sebagian Amerika Selatan, yang kini mengalami hingga enam bulan kondisi panas lembap berbahaya setiap tahun.

Namun, ancaman tersebut tidak lagi terbatas di kawasan tropis. Wilayah yang selama ini dikenal kering, seperti Semenanjung Arab, Australia bagian tengah, dan barat daya Amerika Serikat, juga mengalami peningkatan jumlah hari dengan panas lembap berbahaya dibandingkan dekade 1970-an.

Climate Central menggunakan indikator suhu bola basah (wet-bulb temperature) untuk mengukur tingkat bahaya tersebut. Ketika suhu bola basah mencapai 25 derajat Celsius atau lebih, kemampuan tubuh untuk membuang panas melalui penguapan keringat mulai menurun secara signifikan.

Akibatnya, seseorang dapat mengalami gangguan kesehatan meski tidak beraktivitas berat di luar ruangan. Risiko tersebut meningkat pada kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit kronis, serta masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan.

Laporan itu mencatat, panas lembap telah menyebabkan lebih dari 250 ribu kematian di seluruh dunia sejak tahun 2000. Para peneliti memperingatkan jumlah tersebut berpotensi terus meningkat apabila emisi gas rumah kaca tidak ditekan.

Temuan Climate Central mengacu pada penelitian "Multi-method rapid attribution shows climate change is worsening humid heat" yang diterbitkan dalam Environmental Research Letters pada Mei 2026. Penelitian tersebut menunjukkan perubahan iklim telah meningkatkan suhu bola basah maksimum harian rata-rata sekitar 1,2 derajat Celsius serta membuat kejadian panas lembap ekstrem 65 hingga 175 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan kondisi tanpa pengaruh pemanasan global.

Analisis dilakukan menggunakan data suhu bola basah maksimum harian sepanjang 1970–2025 dan membandingkannya dengan simulasi dunia tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

baca juga

Hasilnya menunjukkan perubahan iklim telah menambah sekitar tiga minggu hari panas lembap berbahaya setiap tahun di berbagai belahan dunia. Temuan ini memperkuat bukti bahwa dampak krisis iklim kini tidak hanya membuat Bumi lebih panas, tetapi juga membuat panas tersebut semakin sulit ditoleransi oleh tubuh manusia—bahkan bagi orang yang sehat sekalipun.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Health | Jum'at, 10 Juli 2026 | 15:09 WIB

Suhu Bumi Terus Naik, Mengapa Para Ahli Menyarankan Kita Tak Bergantung pada AC?

Suhu Bumi Terus Naik, Mengapa Para Ahli Menyarankan Kita Tak Bergantung pada AC?

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:30 WIB

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 13:09 WIB

Terkini

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

News | Senin, 14 September 2026 | 19:51 WIB

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

News | Senin, 14 September 2026 | 19:49 WIB

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:48 WIB

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 19:47 WIB

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

Asa Belum Padam, Operasi Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Diperpanjang Tiga Hari

News | Senin, 14 September 2026 | 19:44 WIB

Gempa M 5,5 Guncang Banten: Benda Gantung Bergoyang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Gempa M 5,5 Guncang Banten: Benda Gantung Bergoyang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

News | Senin, 14 September 2026 | 19:41 WIB

Suahasil ke Pelaku Pasar: Kebijakan Purbaya Soal APBN Tetap Dilanjut

Suahasil ke Pelaku Pasar: Kebijakan Purbaya Soal APBN Tetap Dilanjut

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:34 WIB

Suahasil Gantikan Purbaya, Pemprov Sumsel Berharap Kebijakan Fiskal Daerah Kembali seperti Semula

Suahasil Gantikan Purbaya, Pemprov Sumsel Berharap Kebijakan Fiskal Daerah Kembali seperti Semula

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:32 WIB

Tok! Polisi di Bengkalis Disanksi Demosi 5 Tahun Terkait Penganiayaan Warga

Tok! Polisi di Bengkalis Disanksi Demosi 5 Tahun Terkait Penganiayaan Warga

Riau | Senin, 14 September 2026 | 19:31 WIB

Dunia Usaha Diminta Tak Anggap Lingkungan Sebagai Beban, tapi Investasi

Dunia Usaha Diminta Tak Anggap Lingkungan Sebagai Beban, tapi Investasi

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:31 WIB

×