- Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertemu di Vladivostok pada Kamis, 3 September 2026.
- Putin menyambut Prabowo sebagai tamu utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) 2026 dan membahas peningkatan kerja sama bilateral.
- Pertemuan strategis tersebut diwarnai perubahan cuaca ekstrem mendadak serta kemunculan fenomena pelangi ganda di lokasi acara.
Suara.com - Cuaca berubah drastis saat Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok, Kamis (3/9/2026) waktu setempat.
Menurut laporan media Rusia, Life, saat Putin memulai pidatonya dalam sesi pleno Eastern Economic Forum (EEF) 2026 cuaca di Vladivostok berubah mendadak.
Laporan media Rusia itu menyebut hujan deras tiba-tiba mengguyur lokasi acara ketika Putin mulai berbicara.
Para peserta yang berada di area terbuka pun terlihat harus membuka payung untuk melindungi diri dari hujan.
Namun, hujan tersebut tidak berlangsung lama.
![Ilustrasi pelangi. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/12/05/95991-ilustrasi-pelangi.jpg)
"Cuaca kemudian berubah secara cepat ketika Putin melanjutkan pidatonya di hadapan para peserta forum," tulis laporan media Rusia itu.
Momen menarik terjadi ketika Putin mulai membahas pembangunan kawasan Timur Jauh Rusia.
Awan gelap yang sebelumnya menutupi langit di sekitar kampus Far Eastern Federal University (FEFU) perlahan mulai terpecah.
Tak lama kemudian, sebuah pelangi ganda terlihat membentang di langit Vladivostok.
Fenomena tersebut langsung menarik perhatian para peserta yang berada di lokasi.
Sejumlah fotografer dan operator kamera pun mengabadikan kemunculan pelangi tersebut.
Rekaman fenomena alam itu dengan cepat menjadi perhatian dalam rangkaian pelaksanaan EEF 2026.
Pertemuan Prabowo dan Putin
Sebelumnya, Putin menyambut langsung kedatangan Prabowo yang hadir sebagai tamu utama dalam Eastern Economic Forum (EEF).
Dalam pertemuan tersebut, Putin menegaskan Indonesia merupakan salah satu mitra utama Rusia di kawasan Asia Tenggara. Ia juga menilai hubungan personal kedua pemimpin mencerminkan semakin strategisnya hubungan Jakarta dan Moskow.