Kemendiktisaintek: Ragi Tempe Jadi Bukti Sains Bisa Hadir Menjawab Kegelisahan Perajin

Vania Rossa

Jum'at, 04 September 2026 | 11:32 WIB
Kemendiktisaintek: Ragi Tempe Jadi Bukti Sains Bisa Hadir Menjawab Kegelisahan Perajin
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Prof Yudi Darma. (ANTARA)
baca 10 detik
  • Direktur Kemendiktisaintek Prof Yudi Darma menyatakan riset ragi adaptif UI menjawab kegelisahan perajin tempe di Jakarta pada Rabu (2/9/2026).
  • Tim periset UI mengembangkan ragi tempe adaptif menggunakan spesies Rhizopus Indonesia lewat Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP.
  • Inovasi ragi tempe bertujuan menjaga biodiversitas mikroba, memperkuat ketahanan pangan, dan membantu perajin menghadapi perubahan lingkungan.

Suara.com - Tempe sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Namun, di balik sepotong tempe yang akrab di meja makan, ada proses fermentasi yang sangat bergantung pada mikroorganisme dan kondisi lingkungan.

Karena itu, pengembangan ragi tempe tak semata soal menghasilkan produk fermentasi yang lebih baik. Bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), riset mengenai ragi juga menunjukkan bagaimana sains dapat hadir untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk para perajin tempe.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Prof Yudi Darma menyebut pengembangan ragi adaptif oleh periset Universitas Indonesia (UI) sebagai bentuk empati sains terhadap perajin tempe.

“Riset ragi yang memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia ini hadir bukan sekadar sebagai terobosan biologis, melainkan sebagai bentuk empati sains terhadap kegelisahan para perajin,” ujar Yudi dalam diskusi publik “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Yudi, pendekatan semacam itu penting karena tempe bukan sekadar produk pangan. Tempe telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia dan memiliki nilai budaya yang panjang.

“Tempe bukanlah sekadar panganan pengganjal lapar. Ia adalah mahakarya Nusantara yang mewakili keluhuran budi dan kelangsungan hidup antargenerasi,” katanya.

Ia menyinggung keberadaan tempe dalam Serat Centhini yang ditulis pada 1815. Dalam catatan tersebut, tempe disebut hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa dan menjadi bagian dari tradisi yang mencerminkan keramahtamahan, keharmonisan, serta kecukupan pangan.

Dari pangan yang dahulu sempat dipandang sebelah mata, tempe kemudian mendapatkan pengakuan yang lebih luas melalui perkembangan riset mengenai fermentasi dan kandungan gizinya.

“Jejak sejarahnya tertanam kuat, salah satunya dalam Serat Centhini (1815), yang mana tempe dihidangkan sebagai lambang keramahtamahan, keharmonisan, dan kecukupan gizi masyarakat Jawa,” ujar Yudi.

baca juga

Menurut dia, perjalanan tempe menunjukkan bahwa pangan tradisional dan sains sebenarnya tidak pernah berdiri dalam dua dunia yang terpisah. Pengetahuan mengenai mikroorganisme, fermentasi, hingga kondisi lingkungan justru dapat membantu mempertahankan keberlanjutan pangan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kebutuhan itu semakin terasa ketika perubahan suhu dan kelembapan lingkungan dapat memengaruhi proses fermentasi tempe. Kondisi tersebut membuat pengembangan ragi yang mampu beradaptasi menjadi penting, terutama bagi perajin yang menggantungkan produksi pada proses fermentasi.

Tim periset UI melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP kemudian mengembangkan ragi tempe dengan memanfaatkan kombinasi beberapa spesies Rhizopus. Pengembangan dilakukan melalui pendekatan living lab, yakni menguji inovasi dalam kondisi nyata sekaligus melibatkan umpan balik dari pengguna.

Bagi Yudi, pendekatan tersebut memperlihatkan fungsi sains yang tidak berhenti di laboratorium. Pengetahuan ilmiah perlu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Hal serupa disampaikan periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI Prof Wellyzar Sjamsuridzal. Menurutnya, riset ragi tempe sekaligus menjadi upaya untuk mengenali dan menjaga kekayaan biodiversitas mikroba Indonesia.

“Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan demikian, inovasi ragi tidak hanya berbicara tentang bagaimana membuat tempe. Lebih jauh, riset tersebut mempertemukan kekayaan mikroorganisme Indonesia, kebutuhan perajin, perkembangan teknologi, dan upaya menjaga keberlanjutan pangan.

Tempe pun menjadi contoh sederhana bahwa sains dapat berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari proses fermentasi sepotong tempe, pengetahuan tentang biodiversitas dan teknologi dapat dikembangkan menjadi solusi untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekonom Nilai Target Pajak Naik 12% di RAPBN 2027 Tak Realistis

Ekonom Nilai Target Pajak Naik 12% di RAPBN 2027 Tak Realistis

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 18:23 WIB

RAPBN 2027: Defisit Anggaran Turun, Tapi Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 876 Triliun

RAPBN 2027: Defisit Anggaran Turun, Tapi Pemerintah Tarik Utang Baru Rp 876 Triliun

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 15:53 WIB

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:55 WIB

Terkini

Bulog Tertibkan Penyaluran Beras SPHP, Bentuk Satgas Khusus & Perkuat Pengawasan Nasional

Bulog Tertibkan Penyaluran Beras SPHP, Bentuk Satgas Khusus & Perkuat Pengawasan Nasional

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:39 WIB

Kecewa Berat, Kronologi Kasus Pemanis Beeru Stevia yang Berujung Penjualan Dihentikan

Kecewa Berat, Kronologi Kasus Pemanis Beeru Stevia yang Berujung Penjualan Dihentikan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:34 WIB

100 Persen Negara Asia Dukung Gianni Infantino, Erick Thohir: Sudah Jelas

100 Persen Negara Asia Dukung Gianni Infantino, Erick Thohir: Sudah Jelas

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:33 WIB

Mendagri Terbitkan SE untuk Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG

Mendagri Terbitkan SE untuk Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:32 WIB

Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau

Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro

Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:27 WIB

Tarif dan Rute Angkot T19 yang Bawa Mahasiswa ke Bundaran HI Bak Kuda Troya

Tarif dan Rute Angkot T19 yang Bawa Mahasiswa ke Bundaran HI Bak Kuda Troya

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:25 WIB

Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?

Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:24 WIB

Penanganan Pascabencana Sumatera, Kasatgas Tito Monitor Penanganan Infrastruktur dan Fasilitas UMKM

Penanganan Pascabencana Sumatera, Kasatgas Tito Monitor Penanganan Infrastruktur dan Fasilitas UMKM

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:22 WIB

Wacana Revisi UU Tipikor, Diingatkan Jangan Berdiri Sendiri, Harus Dibarengi Reformasi Sistemik

Wacana Revisi UU Tipikor, Diingatkan Jangan Berdiri Sendiri, Harus Dibarengi Reformasi Sistemik

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:21 WIB

×