-
Akses Menara Eiffel ditutup akibat aksi mogok kerja karyawan menuntut kesetaraan gender.
-
Pemindahan staf perempuan saat kunjungan delegasi keagamaan memicu kemarahan pekerja dan kecaman politisi.
-
Pemerintah Kota Paris meluncurkan investigasi resmi sementara pengelola monumen menyampaikan permohonan maaf.
Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire menegaskan akan ada penyelidikan atas keadaan kunjungan tersebut.
"Saya mencatat kemarahan yang diungkapkan oleh para karyawan Menara Eiffel, dan saya ingin memberi tahu mereka bahwa ketidakpuasan mereka adalah sah," tulisnya di X.
"Kesetaraan antara perempuan dan pria tidak akan pernah berhenti di kaki monumen bersejarah kita, atau di mana pun di kota ini. Ini harus diterapkan di mana saja, untuk siapa saja."
Kecaman serupa datang dari barisan politisi nasional yang memandang insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan nilai sosial bangsa. Berbagai figur kepemimpinan mempertegas posisi bahwa aturan keagamaan asing tidak boleh mengangkangi hak-hak perempuan di tanah Prancis.
Aksi mogok kerja karyawan Menara Eiffel ini berakar dari kedatangan delegasi BAPS, sebuah organisasi keagamaan berbasis sukarelawan asal India yang memiliki jaringan di berbagai kota besar dunia seperti London, Los Angeles, dan Sydney. Saat delegasi tersebut berkunjung pada Sabtu pagi, pengelola menyetujui permintaan pembatasan interaksi dengan staf wanita, yang berbuntut pada instruksi penggeseran posisi kerja.
Langkah pengelola yang menuruti permintaan kelompok pengunjung asing tersebut memicu krisis internal hingga menyebabkan penghentian operasional penuh Menara Eiffel pada hari Senin. Insiden ini berkembang menjadi isu nasional yang memicu penyelidikan resmi pemerintah kota Paris serta kecaman luas dari pimpinan parlemen dan tokoh politik Prancis.