-
Seluruh atlet Indonesia di Nagoya dipastikan aman dari dampak banjir dan cuaca ekstrem.
-
Tim CdM menyiapkan arena latihan alternatif untuk menjaga ritme persiapan para atlet kontingen.
-
Indonesia mengirimkan 430 atlet dan 145 ofisial untuk berlaga pada Asian Games 2026.
Suara.com - Kondisi cuaca ekstrem yang memicu banjir di Nagoya, Jepang, menjadi perhatian Kontingen Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia, Todotua Pasaribu, memastikan para atlet Indonesia yang sudah berada di Jepang dalam kondisi aman.
Tim CdM terus memantau perkembangan situasi sekaligus berkoordinasi dengan panitia penyelenggara dan otoritas setempat.

Perhatian khusus diberikan karena Atlet Village yang menjadi tempat menginap para peserta Asian Games berada di kawasan pelabuhan yang relatif dekat dengan laut.
Hujan deras dalam beberapa waktu terakhir turut berdampak terhadap kondisi di sekitar kawasan tersebut.
“Memang kebetulan posisi Atlet Village yang dijadikan tempat penginapan bagi seluruh atlet yang ikut berkompetisi di Asian Games itu berada di wilayah pelabuhan, di pinggir dan tidak jauh dari laut,” ujar Todotua saat pelepasan Kontingen Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Panitia penyelenggara disebut telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi kondisi tersebut.
Salah satunya dengan melakukan evakuasi sebelumnya serta meningkatkan status kesiagaan di kawasan Atlet Village.
Todotua memastikan Tim Indonesia akan mengikuti arahan yang dikeluarkan pemerintah dan panitia penyelenggara Asian Games.
Menurutnya, kondisi atlet Indonesia sejauh ini masih aman sambil menunggu perkembangan cuaca.
“Kita akan mengikuti aturan dari panitia dan pemerintah setempat. Sejauh ini atlet kita yang sudah berada di sana posisinya aman. Kita tinggal menunggu, mudah-mudahan dalam waktu segera kondisi bisa reda,” katanya.
Situasi banjir di Nagoya telah dipantau oleh Tim CdM sejak malam hari. Dampaknya tidak hanya menyentuh aktivitas olahraga, tetapi juga berbagai kegiatan masyarakat di kota tersebut.
Sejumlah pembatasan aktivitas diberlakukan oleh otoritas setempat akibat kondisi cuaca ekstrem. Layanan umum seperti rumah sakit dan sekolah turut terdampak.
“Ini situasi major. Bukan hanya venue olahraga, tetapi juga pelayanan umum. Jadi ini memang keputusan pemerintah setempat dan merupakan kondisi force majeure,” jelasnya.
Di tengah situasi tersebut, Tim CdM tetap berupaya menjaga program persiapan atlet. Koordinasi dilakukan untuk mencari alternatif tempat latihan bagi cabang olahraga yang membutuhkan fasilitas latihan, sehingga persiapan dapat tetap berjalan ketika kondisi memungkinkan.