Tragedi Serangan 9/11 WTC Jadi Sajian Teori Konspirasi di Kalangan Gen Z, Bagaimana Bisa?

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 11 September 2026 | 10:52 WIB
Tragedi Serangan 9/11 WTC Jadi Sajian Teori Konspirasi di Kalangan Gen Z, Bagaimana Bisa?
Generasi muda menyaksikan rekaman tragedi 9/11 di platform digital yang diwarnai narasi teori konspirasi. (NY Daily News)
baca 10 detik
  • Generasi muda menyaksikan arsip video tragedi 9/11 untuk pertama kali melalui platform TikTok dan YouTube.

  • Beredarnya siaran langsung masa lalu diiringi oleh maraknya penyebaran teori konspirasi di media sosial.

  • Berbeda dengan media tahun 2001, platform digital saat ini tidak memiliki penyaring konten sensitif.

Suara.com - Generasi muda Gen Z yang lahir setelah tahun 2001 kini menyaksikan tayangan tragedi 11 September atau serangan 9/11 untuk pertama kalinya melalui platform media sosial seperti TikTok dan YouTube. Fenomena ini menghadirkan ruang edukasi sejarah baru sekaligus memicu maraknya penyebaran teori konspirasi liar tanpa filter redaksi.

Lebih dari seratus juta warga Amerika Serikat tidak memiliki ingatan langsung terkait peristiwa runtuhnya menara kembar. Kondisi tersebut mendorong penelusuran masif atas dokumen video lama yang kini beredar luas dalam format digital ringkas.

"Lebih dari 100 juta warga Amerika terlalu muda untuk mengingat hari itu," ungkap mantan Wali Kota New York City, Michael Bloomberg, dikutip dari CNN Internasional, Jumat (11/9/2026).

Sebanyak 73 pekerja restoran terjebak tanpa jalur evakuasi di lantai teratas WTC saat tragedi 9/11. (CNA)
Sebanyak 73 pekerja restoran terjebak tanpa jalur evakuasi di lantai teratas WTC saat tragedi 9/11. (CNA)

Algoritma platform digital menyajikan potongan video VHS masa lalu berdampingan dengan konten spekulatif yang menyesatkan. Situasi ini membuat penonton pemula kesulitan memisahkan fakta sejarah dari narasi bohong yang sengaja diunggah demi popularitas.

Sejumlah media besar berusaha mengimbangi disinformasi dengan menayangkan kembali program dokumenter serta wawancara penyintas. Salah satu film dokumenter bertema peringatan peristiwa tersebut bahkan berhasil menembus jajaran tayangan terpopuler secara global.

"Anak muda, hal yang tidak akan ditunjukkan oleh dokumenter mana pun kepada Anda adalah bagaimana pagi itu, setelah laporan pertama, tidak ada seorang pun yang tahu apa-apa," tulis Jim Geraghty dari National Review.

Rekaman siaran televisi saat peristiwa berlangsung kini banyak diunggah ulang dalam bentuk senarai putar di YouTube. Tayangan tersebut memperlihatkan kepanikan serta ketidakpastian situasi yang dialami para penyiar berita pada momen darurat tersebut.

Kekeliruan kecil penyampaian informasi awal dan gangguan teknis dalam siaran langsung justru dijadikan bahan oleh pembuat teori konspirasi. Gambar berresolusi rendah kerap dimanipulasi sebagai bukti palsu untuk mendukung klaim-klaim destruktif.

"Teori konspirasi yang beredar tentang serangan 9/11 sama sekali tidak berbahaya. Teori-teori tersebut membantu melegitimasi pemerintah demokratis. Mereka mendemonisasi kelompok tak bersalah yang disalahkan secara salah. Dan mereka mengalihkan perhatian dari penyebab dan pelaku yang sebenarnya," kata James M. Lindsay dari Council on Foreign Relations.

baca juga

Pada saat peristiwa terjadi, media massa konvensional memberlakukan kontrol ketat terhadap penayangan foto atau video korban jiwa. Foto ikonik karya Richard Drew yang merekam momen seorang pria jatuh dari gedung hanya dipublikasikan sekali oleh mayoritas surat kabar.

"Dipaksa membela diri dari tuduhan bahwa mereka memanfaatkan kematian seseorang, merenggut martabatnya, melanggar privasinya, mengubah tragedi menjadi pornografi yang mengerikan," tulis Tom Junod dalam artikel majalah Esquire mengenai reaksi publik saat itu.

Saat ini, platform media sosial tidak memiliki editor manusia untuk menyaring konten sensitif sebelum ditayangkan. Akibatnya, rekaman tragis diputar berulang kali secara otomatis dan berpotensi memberikan dampak psikologis bagi penonton era digital.

Siklus penayangan arsip berita 11 September 2001 bermula dari aksi terorisme yang menghancurkan gedung World Trade Center serta Pentagon. Pada masa itu, masyarakat mengandalkan siaran televisi analog dan situs berita sederhana tanpa keberadaan media sosial modern.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

25 Tahun Serangan 9/11, Terjebak di Restoran Lantai Teratas World Trade Center Tanpa Jalan Keluar

25 Tahun Serangan 9/11, Terjebak di Restoran Lantai Teratas World Trade Center Tanpa Jalan Keluar

News | Jum'at, 11 September 2026 | 09:43 WIB

Dilema Mental Gratisan: Membongkar Kemalasan dan Desakan Ekonomi Gen Z

Dilema Mental Gratisan: Membongkar Kemalasan dan Desakan Ekonomi Gen Z

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 16:35 WIB

Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal

Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal

Your Say | Jum'at, 11 September 2026 | 07:25 WIB

Terkini

Kepantasan Gibran Jadi Wapres Dipertanyakan, Ray Rangkuti: Masih Layak Kalau Tak Punya Ijazah SMA?

Kepantasan Gibran Jadi Wapres Dipertanyakan, Ray Rangkuti: Masih Layak Kalau Tak Punya Ijazah SMA?

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Ketika Kesempurnaan Menyimpan Rahasia Gelap dalam Novel Girls in the Dark

Ketika Kesempurnaan Menyimpan Rahasia Gelap dalam Novel Girls in the Dark

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya

Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:26 WIB

Cara Reapply Sunscreen di Atas Makeup Tanpa Merusak Riasan, Begini Langkah yang Benar

Cara Reapply Sunscreen di Atas Makeup Tanpa Merusak Riasan, Begini Langkah yang Benar

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:25 WIB

10 Tahun Debut Solo! Yesung Super Junior Bahas Perpisahan di Lagu Pedazos

10 Tahun Debut Solo! Yesung Super Junior Bahas Perpisahan di Lagu Pedazos

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:24 WIB

Tanggapi Temuan MK soal Ijazah Gibran, Deddy Sitorus: Sejak Awal Tak Penuhi Syarat

Tanggapi Temuan MK soal Ijazah Gibran, Deddy Sitorus: Sejak Awal Tak Penuhi Syarat

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:20 WIB

WhatsApp Siapkan Fitur Baru Sembunyikan Chat dari Perangkat Terhubung

WhatsApp Siapkan Fitur Baru Sembunyikan Chat dari Perangkat Terhubung

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Warga Kembali Temukan 2 Mortir Saat Mencari Tiram di Krueng Aceh

Warga Kembali Temukan 2 Mortir Saat Mencari Tiram di Krueng Aceh

Sumut | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:16 WIB

Kasus Perundungan di Pemalang, KemenPPPA Ingatkan Anak Terduga Pelaku Tetap Harus Dilindungi

Kasus Perundungan di Pemalang, KemenPPPA Ingatkan Anak Terduga Pelaku Tetap Harus Dilindungi

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:15 WIB

Tak Perlu Mahal, 6 HP Rp2 Jutaan Ini Sudah Dibekali Fitur NFC

Tak Perlu Mahal, 6 HP Rp2 Jutaan Ini Sudah Dibekali Fitur NFC

Your Say | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:15 WIB

×