- Pakar UGM Agung Harijoko menyatakan fasilitas pemantauan 127 gunung api di Indonesia masih belum merata.
- Gunung Merapi memiliki teknologi paling lengkap, sementara gunung lain hanya mengandalkan seismometer dasar di wilayah pelosok.
- Penyebaran hoaks erupsi di media sosial mengancam publik, sehingga masyarakat harus memverifikasi data ke PVMBG.
Suara.com - Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko, membeberkan bahwa fasilitas pemantauan gunung api di Indonesia belum merata.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang terbagi dalam tiga kategori.
Pemantauan utama sejauh ini diprioritaskan pada gunung api tipe A, yakni gunung yang memiliki catatan sejarah erupsi sejak tahun 1600.
Dari seluruh gunung api aktif yang ada, Gunung Merapi disebut menjadi lokasi dengan fasilitas dan teknologi pengamatan yang paling memadai.
"Yang paling lengkap itu memang di Gunung Merapi ya. Di Gunung Merapi ini pengamatannya paling lengkap, paling bagus teknologinya," kata Agung, Jumat (11/9/2026).
Sistem pemantauan pada gunung api aktif lainnya mayoritas masih sebatas instrumen dasar. Sebagian besar pos pengamatan di luar Gunung Merapi hanya mengandalkan seismometer untuk merekam aktivitas kegempaan visual dan geofisika.
"Kalau di beberapa gunung api, itu dikatakan proper ya proper. Jadi tapi masih terbatas hanya seismometer, itu yang paling utama," ucapnya.
Kondisi ini menyisakan celah mitigasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api di daerah pelosok.
Meskipun teknologi pemantauan jarak jauh dari Bandung sudah berjalan, keterbatasan akses informasi di tingkat lokal masih menjadi kendala nyata.

"Nah, ini mungkin masyarakat sekitar gunung api yang mungkin di daerah-daerah pelosok, ini bagaimana mungkin mereka tidak langsung bisa tahu informasinya kalau mereka tidak punya akses ke informasi yang di PVMBG," ungkapnya.
Selain masalah pemerataan fasilitas, penyebaran disinformasi atau hoaks terkait erupsi gunung api di media sosial juga menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Narasi palsu yang dikemas secara visual sering kali memicu kepanikan publik sebelum informasi resmi terverifikasi.
"Masalahnya adalah kadang masyarakat kita mudah termakan hoaks. Jadi kadang yang membuat hoaks itu sudah pintar, membuat video seolah-olah kejadiannya beneran, kemudian diberitakan secara cepat sehingga itu yang dikhawatirkan," tegas Agung.
Oleh sebab itu masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi setiap rumor atau unggahan tular di media sosial langsung ke saluran resmi PVMBG seperti aplikasi MAGMA Indonesia.
Lembaga resmi tersebut menjalankan pengamatan secara real time sehingga datanya dapat dipertanggungjawabkan.