- Iran secara aktif mengupayakan keanggotaan resmi dalam New Development Bank milik aliansi BRICS.
- NDB BRICS akan dimanfaatkan Iran untuk membiayai proyek energi menggunakan mata uang lokal.
- Langkah ini menjadi strategi Teheran keluar dari tekanan sanksi ekonomi Barat secara berkelanjutan.
Suara.com - Iran secara agresif memacu integrasi finansialnya dengan mengajukan diri menjadi bagian dari New Development Bank (NDB) milik BRICS. Langkah strategis ini diambil guna menembus isolasi ekonomi dan membuka kran pendanaan alternatif bagi pembangunan nasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa pemerintahannya sedang memproses pendaftaran tersebut secara aktif.
“Kami sedang mengupayakan hal ini,” kata Araghchi dikutip dari kanal Telegram resminya saat menjawab pertanyaan media mengenai kemungkinan Iran bergabung dengan bank BRICS.
![Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia mengecam keras serangan yang disebut dilakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah Iran pada Selasa malam, 1 September 2026. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/44163-serangan-militer-as-ke-iran.jpg)
Penyertaan Iran ke dalam institusi keuangan BRICS diproyeksikan mengubah peta transaksi internasional negara tersebut secara drastis. Teheran bertekad meninggalkan ketergantungan pada sistem finansial konvensional yang kerap dijadikan instrumen penekanan geopolitik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pentingnya peran NDB dalam mendukung ekspansi pembangunan ekonomi berbasis mata uang lokal saat forum bisnis BRICS di New Delhi, Jumat (11/9).
Pada Jumat (11/9), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam forum bisnis BRICS di New Delhi bahwa NDB diharapkan menjadi struktur utama untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur dan energi di negara-negara anggota kelompok tersebut menggunakan mata uang nasional.
Keseriusan Teheran untuk masuk ke dalam lembaga ini sejatinya telah dipersiapkan sejak beberapa waktu lalu oleh otoritas moneter tertinggi mereka. Sebelum pengumuman Menlu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati telah memberikan sinyal kuat terkait keanggotaan ini.
Sebelumnya pada Agustus 2026, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan Iran akan segera bergabung dengan NDB milik BRICS. Dia juga menyebut Teheran tengah mendorong kerja sama mata uang secara bilateral dan multilateral dengan negara-negara anggota BRICS.
Tekanan finansial global yang berkepanjangan memaksa Teheran mencari pelindung ekonomi yang lebih tangguh dan bebas sanksi. Pembentukan jalur transaksi yang terpisah dari dominasi Barat menjadi kebutuhan mendesak bagi stabilitas domestik Iran.
Iran, yang selama bertahun-tahun menanggung dampak negatif dari sanksi berskala besar, secara rutin menyerukan pembentukan mekanisme keuangan yang independen dan berkelanjutan untuk menghadapi pembatasan tersebut.
Upaya ini sejalan dengan dinamika pembentukan BRICS yang terus meluas sebagai kekuatan ekonomi tandingan di tingkat global. Blok ini menyediakan wadah kerja sama strategis bagi negara-negara berkembang untuk membangun kemandirian ekonomi.
BRICS merupakan asosiasi antarpemerintah yang dibentuk pada 2006 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, dengan Afrika Selatan bergabung pada 2011. Gelombang perluasan anggota terus berlanjut seiring meningkatnya daya tarik aliansi ini di mata negara-negara berkembang. Sejumlah negara lain bergabung dengan BRICS sejak 2024.
Momentum penguatan posisi Iran di BRICS ini bertepatan dengan perhelatan agenda tahunan penting aliansi tersebut di Asia Selatan. India memegang kepemimpinan bergilir BRICS tahun ini dan menggelar KTT BRICS ke-18 pada 12–13 September di New Delhi.