- Badan Geologi ESDM mempertahankan status Level III atau Siaga untuk Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
- Aktivitas gunung beralih menjadi erupsi Strombolian setelah letusan menerus selama 25 jam pada September 2026.
- Masyarakat dan nelayan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif akibat potensi erupsi.
Suara.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertahankan status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Level III (Siaga).
Keputusan ini diambil setelah aktivitas permukaan gunung api tersebut berangsur melandai dan beralih menjadi erupsi Strombolian pasca-erupsi menerus selama 25 jam pada 4–6 September 2026.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria menjelaskan, pihaknya mencatat ada 14 kali erupsi Strombolian setelah episode letusan menerus tersebut mereda hingga Jumat (11/9/2026).
"Erupsi Strombolian merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau. Munculnya kembali erupsi Strombolian menunjukkan bahwa episode erupsi menerus telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik masih berlangsung sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan," ujar Lana yang dikutip pada Sabtu (12/9/2026).
Erupsi Strombolian sendiri merupakan letupan berkala akibat pelepasan gas dari magma yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik di sekitar kawah.
Berdasarkan hasil pemantauan hingga evaluasi pada Jumat pagi, gempa permukaan seperti frekuensi rendah dan hybrid menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan menurun.
![Penampakan erupsi Anak Gunung Krakatau. [Nasa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/04/19/60654-penampakan-erupsi-anak-gunung-krakatau.jpg)
Kendati demikian, gempa vulkanik dalam tercatat mengalami peningkatan dibanding rata-rata normal. Kondisi ini mengindikasikan masih berlangsungnya suplai magma dari dapur magma dalam, sehingga potensi erupsi susulan tetap tinggi.
Terkait sarana pemantauan, Badan Geologi memastikan pengamatan aktivitas vulkanik tetap berjalan meski sejumlah peralatan sempat terdampak material erupsi.
Analisis data terus dilakukan dari stasiun pemantauan yang masih berfungsi serta pengamatan visual. Perbaikan peralatan akan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan petugas.
Seiring ditetapkannya status Siaga (Level III), Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pelaku pelayaran tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Masyarakat yang terpapar hujan abu juga diimbau menggunakan masker, pelindung mata, serta mengurangi kegiatan di luar ruangan.