-
Penguasaan Houthi di Selat Bab el-Mandeb mengancam jalur ekspor minyak utama Arab Saudi.
-
Kerugian ekonomi dan keengganan AS mendorong negara Teluk membuka diplomasi langsung dengan Iran.
-
Posisi geografis strategis Houthi memberi Teheran daya tawar tinggi dalam peta geopolitik global.
Suara.com - Keberhasilan kelompok Houthi menguasai pulau-pulau strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb memaksa negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit antara menanggung kerugian ekonomi atau membuka diplomasi dengan Iran.
Kondisi ini mengubah peta kekuatan kawasan sekaligus memperkuat posisi tawar Teheran dalam konfrontasi global.
"Penguasaan Houthi atas pulau-pulau strategis di dekat Bab el-Mandeb adalah pengubah permainan," kata analis Timur Tengah Fawaz Gerges, dikutip dari CNA, Senin (14/9/2026).

"Ini mengubah keseimbangan kekuatan dan memberi mereka daya tawar geopolitik serta geoekonomi yang jauh lebih besar atas Arab Saudi, Teluk, Amerika Serikat, dan perdagangan global."
Langkah kelompok yang bersekutu dengan Iran ini menciptakan titik tekan baru terhadap jalur distribusi energi global.
Penutupan jalur pipa utama Arab Saudi pada Jumat (11/9) akibat serangan balasan membuat pengalihan ekspor minyak dari Selat Hormuz ke Laut Merah tidak lagi aman.
Kombinasi gangguan di Hormuz dan ancaman di Laut Merah sengaja dirancang untuk memicu kenaikan harga minyak serta inflasi dunia.
Strategi tersebut menjepit posisi ekonomi negara-negara Teluk yang selama ini mengandalkan bantuan keamanan dari Washington.
Keputusan Presiden AS Donald Trump yang dilaporkan menolak permintaan Arab Saudi untuk menyerang Houthi kian memperkuat dorongan diplomasi mandiri dengan Teheran.
Pertemuan menteri luar negeri negara Teluk dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Oman sempat ditunda akibat ketidaksepakatan mengenai syarat negosiasi.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengonfirmasi penundaan agenda yang semula dijadwalkan di Salalah tersebut demi mencapai kesepakatan bersama.
"Kami tetap berkomitmen untuk membina dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama yang berlanjut di wilayah kami," tulis Badr Albusaidi di media sosial X.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan telah menggelar pembicaraan positif dengan Putra Mahkota UEA Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan di New Delhi.
"Kami setuju untuk mengesampingkan masa lalu dan menatap masa depan, serta bagaimana kita dapat membangun masa depan bersama," kata Masoud Pezeshkian di sela-sela KTT BRICS.
Kondisi geografi membuat keberadaan Iran di sepanjang jalur energi dan perdagangan utama kawasan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Konflik terbuka yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran gagal menghilangkan pengaruh Teheran di kawasan.
Ketika ditanya mengenai kekhawatiran atas pertemuan negara-negara Teluk dengan Iran, Donald Trump menyatakan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan mereka.
Alex Vatanka dari Middle East Institute menilai negara-negara Teluk kini berfokus pada strategi bertahan hidup ketimbang persoalan tingkat kepercayaan pada Teheran.
"Negara-negara Teluk sedang mempertimbangkan realitas dasar bahwa mereka mungkin harus membuat kesepakatan dengan pihak Iran secara mandiri, terlepas dari apakah hal itu menyakiti perasaan Amerika atau tidak, karena Amerika tidak dapat mengeluarkan mereka dari rawa ini," kata Alex Vatanka.
Reskalasi ini memanggil kembali ketegangan historis antara kelompok Houthi dan Arab Saudi sejak penguasaan Sanaa pada 2014.
Meskipun digempur serangan udara selama bertahun-tahun, kelompok dari minoritas Syiah Zaydi ini justru terus meningkatkan kapasitas militernya.
Mantan negosiator AS Aaron David Miller menyoroti keunggulan posisi geografis yang dimanfaatkan kelompok tersebut.
"Houthi bukanlah wakil tradisional," kata Aaron David Miller.
"Mereka dapat menyertajajahi geografi sebagai senjata dan memiliki dampak dramatis pada ekonomi internasional dan ekonomi minyak global."
Seorang pejabat kawasan menyebut keberhasilan ekskalasi di Laut Merah sebagai bagian dari kalkulasi matang Teheran.
"Bagi Iran, ini adalah permainan catur. Mereka merencanakan apa yang terjadi selanjutnya. Mereka tidak menekan semua tombol pada saat yang sama karena panik," ujar pejabat kawasan tersebut.
"Houthi adalah satu-satunya sekutu wakil Iran dengan kemampuan operasional tangguh yang tersisa."
Sanksi dan tekanan ekonomi AS terhadap Iran pada akhirnya justru memicu efek samping yang tidak terduga bagi sekutu Washington di Teluk.
Negara-negara Teluk kini mulai mempertanyakan kembali apakah konfrontasi berkepanjangan dengan Iran masih realistis untuk dipertahankan.