Demi Makan, Jutaan Orang Rela Kerja ke Sini Meski Terancam Tewas Terbunuh

Pebriansyah Ariefana

Senin, 14 September 2026 | 11:01 WIB
Demi Makan, Jutaan Orang Rela Kerja ke Sini Meski Terancam Tewas Terbunuh
Ratusan ribu pekerja migran India nekat bertahan di Kashmir demi upah tinggi meski terancam militan. (Al Jazeera)
baca 10 detik
  • Ratusan ribu buruh migran tetap membanjiri Kashmir demi upah tinggi walau diintai teror militan.

  • Ketiadaan tenaga kerja terampil lokal membuat sektor ekonomi dan pembangunan Kashmir bergantung pada perantau.

  • Aparat keamanan memperketat penjagaan lokasi penampungan buruh migran untuk mencegah jatuhnya korban penembakan.

Suara.com - Setiap musim semi, ratusan ribu buruh dari wilayah termiskin di India memilih datang ke Kashmir untuk memburu upah kerja yang jauh lebih tinggi. Langkah nekat ini terus berulang saban tahun walau risiko menjadi sasaran pembunuhan oleh kelompok militan lokal selalu mengintai mereka.

Mohammad Ghulam Sarwar menjadi salah satu dari 500 ribu pekerja migran yang menggantungkan hidupnya pada sektor pembangunan di wilayah konflik tersebut. Pria berusia 25 tahun itu merelakan keselamatan jiwanya demi mengantongi pendapatan yang sulit ia dapatkan di kampung halamannya.

Dominasi buruh pendatang kini menjadi tulang punggung utama sektor pembangunan dan pertanian masyarakat setempat. Ketergantungan ekonomi terhadap tenaga kerja luar daerah justru makin menguat di tengah ancaman kekerasan politik yang berkepanjangan.

Seorang anak Kashmir melintas di lokasi bekas pertikaian antara tentara India dengan kelompok militan di Kashmir. (Foto: AFP)
Seorang anak Kashmir melintas di lokasi bekas pertikaian antara tentara India dengan kelompok militan di Kashmir. (Foto: AFP)

Data media lokal menunjukkan sedikitnya 24 buruh migran tewas akibat serangan militan sejak tahun 2019. Pada periode yang sama, South Asia Terrorism Portal mencatat total korban tewas di kawasan tersebut mencapai lebih dari 1.500 jiwa, termasuk 219 warga sipil.

Insiden berdarah paling gres terjadi bulan lalu ketika penembak gelap mengeksekusi dua buruh pabrik batu bata asal Chhattisgarh. Kendati demikian, besarnya selisih pendapatan membuat para perantau memilih mengabaikan potensi bahaya maut yang bisa mengancam kapan saja.

"Kashmir adalah surga nyata. Saya akan terus datang setiap tahun selama saya masih memiliki kekuatan untuk bekerja," kata Sarwar, dari negara bagian Bihar di timur, dikutip dari Frace24, Senin (14/9/2026).

Penghasilan harian di wilayah ini terbukti jauh melampaui standar gaji tempat asal para buruh. Sarwar mengantongi 1.200 rupee (sekitar Rp220 ribu) per hari di Kashmir, berbanding jauh dari penghasilan 700 rupee di Bihar yang bahkan sangat sulit didapatkan.

Di sisi lain, kawasan mayoritas Muslim yang mencatatkan pengangguran tinggi ini makin bergantung pada tenaga kerja luar untuk memegang pekerjaan kasar. Warga lokal umumnya enggan mengambil peran di sektor domestik, pertanian, hingga proyek konstruksi bangunan.

Ketiadaan tenaga terampil dari masyarakat setempat membuat para pelaku usaha tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan jasa perantau. Kebutuhan tenaga kerja di luar sektor kerajinan tangan terus meningkat tajam setiap harinya.

baca juga

"Di luar sektor kerajinan tangan, hampir tidak ada cukup tenaga kerja terampil lokal yang tersedia di Kashmir," kata Mohammad Ashraf Mir dari Kamar Dagang dan Industri Kashmir. "Kami melihat ketergantungan yang meningkat pada pekerja migran, cenderung menuju ketergantungan mutlak."

Bagaimana Cara Buruh Pendatang Bertahan Hidup?

Setiap pagi, kerumunan perantau berkumpul di pusat kota Srinagar menunggu tawaran pekerjaan harian dari para kontraktor. Mayoritas buruh menetap selama delapan bulan sebelum pulang menghindari musim dingin ekstrem yang menghentikan aktivitas konstruksi.

Wilayah Kashmir sendiri terus bergejolak akibat sengketa perbatasan antara India dan Pakistan sejak kemerdekaan mereka pada tahun 1947. Pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan India yang meletus sejak 1989 telah menelan puluhan ribu korban jiwa.

Meski intensitas pertempuran terus menurun beberapa tahun terakhir, aksi penembakan acak masih sering menyasar para pendatang. Sarwar bahkan menyaksikan sendiri seorang tukang pangkas rambut dari daerah asalnya tewas ditembak kelompok pemberontak beberapa tahun lalu.

Kejadian traumatis tersebut tidak melunturkan niat para pekerja untuk terus mencari nafkah di wilayah perbatasan. Prinsip pasrah pada takdir Tuhan menjadi benteng mental utama mereka dalam menghadapi teror bersenjata.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lepas dari Bayang-bayang Kantoran, Gen Z Ditantang Jadi Job Creator di Gen Z Impact Fest 2026

Lepas dari Bayang-bayang Kantoran, Gen Z Ditantang Jadi Job Creator di Gen Z Impact Fest 2026

News | Sabtu, 12 September 2026 | 16:02 WIB

KTT BRICS di India: Presiden Prabowo Bawa Agenda Strategis Ekonomi hingga Ketahanan Pangan

KTT BRICS di India: Presiden Prabowo Bawa Agenda Strategis Ekonomi hingga Ketahanan Pangan

News | Sabtu, 12 September 2026 | 11:49 WIB

Bukan Sekadar Buruh Murah: Standar Upskilling Jalur Magang

Bukan Sekadar Buruh Murah: Standar Upskilling Jalur Magang

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 13:50 WIB

Terkini

Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman

Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM

Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:50 WIB

5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas

5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:46 WIB

P3MUDA PPP Dorong Anak Muda Aktif Mengawal Masa Depan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

P3MUDA PPP Dorong Anak Muda Aktif Mengawal Masa Depan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:44 WIB

Bahlil Hapus Perusahaan Cangkang dalam Impor BBM dan LPG, Negara Ambil Alih Kendali

Bahlil Hapus Perusahaan Cangkang dalam Impor BBM dan LPG, Negara Ambil Alih Kendali

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:44 WIB

Sudah Beroperasi, Pabrik Baterai Indonesia-China di Karawang Tunggu Diresmikan Prabowo

Sudah Beroperasi, Pabrik Baterai Indonesia-China di Karawang Tunggu Diresmikan Prabowo

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:40 WIB

Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas

Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:38 WIB

Kenali Perbedaan Fungsi Sabun Cuci Muka Kahf Warna Hitam, Biru, dan Hijau

Kenali Perbedaan Fungsi Sabun Cuci Muka Kahf Warna Hitam, Biru, dan Hijau

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:35 WIB

Perusahaan Tambang Bisa Kembali Beroperasi, ESDM Terbitkan RKAB Minerba 2026

Perusahaan Tambang Bisa Kembali Beroperasi, ESDM Terbitkan RKAB Minerba 2026

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:32 WIB

Jalani Sidang Perdana, Silmy Karim Didakwa Peras Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar

Jalani Sidang Perdana, Silmy Karim Didakwa Peras Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar

Foto | Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:31 WIB

×