-
Ratusan ribu buruh migran tetap membanjiri Kashmir demi upah tinggi walau diintai teror militan.
-
Ketiadaan tenaga kerja terampil lokal membuat sektor ekonomi dan pembangunan Kashmir bergantung pada perantau.
-
Aparat keamanan memperketat penjagaan lokasi penampungan buruh migran untuk mencegah jatuhnya korban penembakan.
"Hidup dan mati ada di tangan Tuhan," katanya. "Jika saya tetap takut, saya tidak akan punya apa-apa. Tetapi jika saya berhasil mengatasinya, saya akan memiliki segalanya."
Sarwar tinggal di sebuah bangunan penampungan Srinagar bersama sekitar 200 buruh lainnya dalam kondisi yang sangat padat. Satu kamar sempit berbiaya sewa lima dolar AS per bulan diisi 7 hingga 10 orang untuk tidur sekaligus memasak.
Di luar area pemukiman, aparat kepolisian bersama pasukan paramiliter memperketat penjagaan dengan kendaraan taktis serta kamera pengawas 24 jam. Langkah pengawalan ketat ini diambil untuk menekan angka serangan terhadap kelompok perantau yang tergolong rentan.
"Mereka telah menjadi sasaran empuk bagi teroris di masa lalu," kata seorang pejabat senior keamanan yang berbicara tanpa menyebut nama. "Tetapi pengaturan keamanan untuk mereka telah menjadi kuat dari waktu ke waktu."
Otoritas kepolisian mengimbau para perantau untuk selalu hidup berkelompok dan menghindari aktivitas di luar rumah saat malam hari. Beberapa pekerja Hindu bahkan dilaporkan memilih menggunakan nama samaran bergaya Muslim guna menghindari penargetan berbasis agama.
Di sisi lain, kelompok militan mengklaim serangan terhadap buruh migran dilakukan sebagai aksi balasan atas tindakan pelecehan polisi terhadap keluarga mereka. Kondisi perselisihan ini membuat sebagian besar pekerja enggan mengomentari situasi keamanan secara terbuka.
"Saya tidak menghadapi masalah di sini," kata Mohammad Iqbal, seorang tukang cat berusia 53 tahun dari negara bagian Uttar Pradesh yang telah bekerja di Kashmir sejak sebelum pemberontakan dimulai dan kini didampingi putranya. "Rasa-rasanya damai."
Pandangan berbeda disampaikan oleh generasi pekerja yang lebih muda mengenai dinamika ancaman di kawasan tersebut. Faktor cuaca yang sejuk dan kondisi kerja yang luas kerap menjadi penawar rasa takut mereka terhadap aksi terorisme.
"Saya takut pada teroris di sini," kata Shahid Sofi, seorang tukang batu berusia 24 tahun asal Bihar yang sebelumnya bekerja di Delhi dan Mumbai.
"Tapi secara keseluruhan kondisi kerja di sini bagus, cuacanya bagus, dan saya suka bekerja di ruang terbuka Kashmir yang luas."
Kashmir secara historis menjadi wilayah sengketa geopolitik utama di Asia Selatan sejak pemisahan daratan India dan Pakistan pada 1947. Eskalasi konflik bersenjata yang meningkat sejak akhir 1980-an secara perlahan mengubah dinamika ekonomi dan keselamatan para pekerja perantau hingga hari ini.