Menteri HAM Pigai: Aparat Selalu Bela Non-Papua, Rasisme Jadi Penghambat Keadilan di Papua!

Muhamad Yasir, Dea Hardiningsih Irianto

Kamis, 17 September 2026 | 15:42 WIB
Menteri HAM Pigai: Aparat Selalu Bela Non-Papua, Rasisme Jadi Penghambat Keadilan di Papua!
Menteri HAM Natalius Pigai. (Suara.com/Lilis)
baca 10 detik
  • Menteri HAM Natalius Pigai meminta data jumlah personel TNI dan Polri di Papua dibuka agar publik bisa mengukur kecukupan perlindungan bagi warga sipil.
  • Pigai menyebut warga Papua tidak pernah menang di pengadilan saat berhadapan dengan warga non-Papua serta menilai aparat kepolisian tidak berlaku adil.
  • Aparat penegak hukum diminta memberikan perlindungan secara setara kepada seluruh masyarakat.

Suara.com - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta jumlah personel TNI dan Polri yang dikerahkan di Papua dibuka kepada publik. Menurut dia, data tersebut penting untuk mengukur apakah kekuatan aparat yang ada sudah memadai untuk memberikan perlindungan kepada warga sipil.

Pernyataan tersebut disampaikan Pigai ketika ditanya mengenai perlukah penambahan aparat TNI untuk memperketat penjagaan di Papua agar warga sipil lebih aman.

Pigai mengatakan dirinya sudah meminta TNI dan Polri menyampaikan data mengenai jumlah personel yang saat ini di-deploy atau dikerahkan di Papua.

"Saya sebulan lalu minta TNI dan Polri menyampaikan data berapa jumlah deploy (bersiaga) militer di Papua," kata Pigai di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Pigai mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah personel yang saat ini dikerahkan. Namun, menurut dia, data tersebut diperlukan agar kemampuan pengamanan di Papua bisa dihitung dan dinilai secara terbuka.

Dia menilai pengerahan aparat seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah pasukan, tetapi juga dari kemampuan mereka memberikan perlindungan kepada seluruh masyarakat di Papua.

"Saya tidak tahu jumlahnya. Tapi jumlah deploy militer di Papua itu kalau disampaikan kita bisa hitung secara terbuka, terukur, akuntabel apakah dengan kemampuan itu reliable, layak, dan pantas warga sipil bisa diterlindungi atau tidak," ujarnya.

Pigai kemudian menyoroti persoalan lain yang menurutnya turut memengaruhi rasa keadilan masyarakat Papua.

Dia menyinggung proses hukum ketika warga Papua berhadapan dengan warga non-Papua dalam perkara di pengadilan. Menurut Pigai, berdasarkan pengamatannya, warga Papua tidak pernah memenangkan perkara dalam situasi tersebut.

baca juga

"Sampai hari ini, kasus di pengadilan ketika orang Papua berhadapan dengan yang bukan Papua sama-sama ajukan gugatan di Papua, di pengadilan, tidak pernah menang orang Papua. Aparat polisi juga tidak pernah adil terhadap orang Papua."

Pigai kemudian mempertanyakan bagaimana aparat negara dapat diminta memberikan perlindungan kepada kelompok tertentu jika perlindungan tersebut tidak diberikan secara setara.

"Jadi, kalau kita minta aparat negara untuk melindungi si A, si B, si C atau melindungi pendatang, itu tidak adil. Kalau melindunginya untuk semua, semua orang dong," tegasnya.

Menurut Pigai, pendekatan perlindungan harus diterapkan kepada seluruh masyarakat di suatu wilayah tanpa membedakan latar belakang suku.

"Perlindungan untuk semua, maka perlindungan dalam konteks satu wilayah. Kabupaten ini layaknya berapa, aparat penegak hukum yang bisa melindungi. Bisa dihitung, tidak berdasarkan berapa suku, berapa yang harus kita lindungi," tegasnya.

Singgung Kesan Diskriminasi

Pigai juga mengungkapkan kesan yang menurutnya muncul di masyarakat Papua mengenai keberpihakan aparat ketika terjadi persoalan antara warga Papua dan non-Papua.

"Selama ini terkesan, ini kesan saya sebagai orang Papua, terkesan seperti itu. Karena semua ketika orang Papua berhadapan dengan non-Papua, aparat itu selalu melindungi yang non-Papua. Orang Papua merasa tidak adil," katanya.

Pigai pun layangkan kritik mengaitkan persoalan tersebut dengan tuntutan agar masyarakat Papua bersikap non-diskriminatif.

"Ketika kita meminta orang Papua berlaku non-diskriminatif, sementara kita sudah lakukan rasisme dan diskriminatif terhadap orang Papua. Kita meminta berlaku adil, sementara kita tidak melakukan keadilan bagi orang Papua. Kita tidak lakukan equal," kritiknya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pigai Duga Ada 'Penasihat' di Balik Aksi OPM yang Targetkan Warga Sipil

Pigai Duga Ada 'Penasihat' di Balik Aksi OPM yang Targetkan Warga Sipil

News | Kamis, 17 September 2026 | 15:19 WIB

Tanah ATR/BPN di Bali Dikuasai Swasta, Ada Dugaan Pembiaran hingga Negara Rugi Rp4,8 Triliun!

Tanah ATR/BPN di Bali Dikuasai Swasta, Ada Dugaan Pembiaran hingga Negara Rugi Rp4,8 Triliun!

News | Kamis, 17 September 2026 | 15:09 WIB

Menteri HAM Natalius Pigai Soal Teror Penembakan OPM ke Warga Sipil: Polanya Sudah Bergeser

Menteri HAM Natalius Pigai Soal Teror Penembakan OPM ke Warga Sipil: Polanya Sudah Bergeser

News | Kamis, 17 September 2026 | 14:35 WIB

Terkini

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

×