- Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago menyatakan Presiden Prabowo Subianto berencana merombak kabinet untuk menghadapi babak kedua pemerintahan.
- Arifki menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat 18 September 2026 berdasarkan wawancara program Prabowo Menjawab.
- Rencana perombakan bertujuan mempercepat program prioritas dan mengevaluasi kinerja menteri berdasarkan hasil kerja nyata kepada masyarakat.
Suara.com - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago menilai Presiden Prabowo Subianto tengah memberi kode mengenai rencana menyiapkan formasi baru untuk memasuki babak kedua pemerintahannya.
Kode tersebut dilihat Arifki melalui pernyataan Prabowo yang membuka peluang melakukan perombakan kabinet menjelang dua tahun pemerintahannya dalam wawancara program Prabowo Menjawab.
“Menurut saya, ini bukan sekadar soal mengganti menteri. Prabowo sedang menyiapkan formasi untuk babak kedua. Setelah dua tahun pertama membangun tim, sekarang tantangannya adalah bagaimana tim ini bekerja lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak,” kata Arifki dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Menurut Arifki, pernyataan Prabowo yang menganalogikan kabinet seperti kesebelasan sepak bola menjadi menarik.
Dalam sebuah pertandingan, pergantian pemain tidak selalu berarti pemain sebelumnya gagal. Pergantian dapat dilakukan karena strategi dan kebutuhan tim berubah.
“Kalau kabinet adalah kesebelasan maka presiden bukan hanya memilih pemain, tetapi juga menentukan formasi. Ketika pertandingan memasuki babak kedua, bisa saja strategi berubah dan pemain yang diturunkan juga berubah,” kata Arifki.
Memasuki tahun ketiga pemerintahan, ukuran keberhasilan menteri akan semakin mudah dilihat dari hasil kerja.
Arifki mengatakan, dua tahun pertama merupakan masa untuk membangun dan menguji tim. Setelahnya, menteri tidak cukup hanya bisa bermain, tetapi juga harus mampu mencetak gol.
“Artinya, program harus berjalan, masalah harus diselesaikan, dan hasilnya harus dirasakan masyarakat,” kata Arifki.
Menurut Arifki, publik sebaiknya tidak hanya sibuk menebak siapa yang keluar dan siapa yang masuk jika Prabowo benar-benar melakukan reshuffle.
“Jangan terjebak pada teka-teki nama. Lihat strateginya. Siapa yang masuk harus menjawab kebutuhan apa yang ingin diselesaikan Presiden,” ujar Arifki.
Melalui reshuffle, Prabowo memiliki momentum untuk mempercepat program-program prioritas pemerintah memasuki paruh kedua masa pemerintahannya.
“Yang akan menentukan makna reshuffle bukan banyaknya menteri yang diganti, tetapi seberapa cepat pemerintahan bergerak setelahnya. Kalau pergantian pemain membuat permainan lebih cepat dan lebih efektif, berarti reshuffle punya tujuan yang jelas,” kata Arifki.
Arifki menambahkan, pernyataan Prabowo juga menunjukkan bahwa posisi menteri bukanlah posisi yang bersifat permanen.
“Kursi menteri itu bukan kursi nyaman, tapi kursi kerja. Ketika Presiden merasa membutuhkan pemain baru, itu bagian dari kewenangan Presiden untuk memastikan pemerintahannya berjalan sesuai target,” pungkasnya.