Sentil Sindiran Prabowo ke Pakar, Pengamat: Kebijakan Harus Berbasis Data, Bukan Saling Merendahkan

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Sabtu, 19 September 2026 | 12:03 WIB
Sentil Sindiran Prabowo ke Pakar, Pengamat: Kebijakan Harus Berbasis Data, Bukan Saling Merendahkan
Presiden Prabowo Subianto. (Foto BPMI Sekretariat Presiden)
baca 10 detik
  • Presiden Prabowo melontarkan sindiran keras kepada oknum pakar saat HUT ke-28 PAN pada 19 September 2026.
  • Dosen UMY Fajar Junaedi menyatakan penggunaan istilah pejoratif oleh presiden berisiko merusak etika komunikasi publik demokrasi.
  • Fajar menyarankan pemerintah dan akademisi kembali pada kebijakan berbasis data serta menjaga kejujuran intelektual tanpa penghinaan.

Suara.com - Sindiran keras Presiden Prabowo Subianto terhadap oknum pakar dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) mendadak jadi sorotan publik. Pernyataan tersebut dinilai mencerminkan dinamika kualitas wacana di ruang publik saat ini.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menegaskan bahwa kebijakan negara sepatutnya dilandasi oleh argumen berbasis data (evidence-based policy), bukannya terjebak dalam aksi saling merendahkan antara pemerintah dan para pengkritiknya.

"Saya melihat pernyataan Presiden Prabowo Subianto di HUT ke-28 PAN tidak boleh dibaca hanya dari satu kata yang paling keras, yaitu goblok," kata Fajar kepada Suara.com, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Fajar, pola pidato tersebut diawali dengan komitmen kesejahteraan dan gizi anak, sebelum akhirnya bergeser pada sindiran terhadap praktik kepakaran tertentu di ruang publik.

Ia menegaskan bahwasanya gaya bahasa lisan yang digunakan Presiden berfungsi merapatkan audiens di forum internal partai.

Meski demikian, dari sisi etika komunikasi publik, Fajar memberikan catatan kritis terhadap pemilihan diksi oleh seorang pejabat tertinggi negara.

Penggunaan istilah pejoratif oleh pemimpin publik dinilai berisiko menurunkan derajat diskursus dan menciptakan preseden buruk dalam menyikapi perbedaan pendapat.

"Pemimpin publik sebaiknya menjaga martabat bahasa karena kata dari presiden membentuk iklim diskursus. Kata pejoratif mudah menjadi preseden bahwa perbedaan pendapat boleh diselesaikan dengan penghinaan status," kata dia.

Dalam demokrasi yang sehat, kata dia, membutuhkan hubungan yang saling menghormati antara pemegang kekuasaan dan komunitas intelektual.

baca juga

Menurutnya, pemerintah maupun akademisi harus kembali pada substansi data ketimbang mengandalkan narasi emosional.

"Negara butuh pakar yang berani mengkritik kebijakan. Sebaliknya pakar butuh negara yang tidak meremehkan nalar," tegasnya.

Perdebatan publik belakangan ini berisiko bergeser menjadi sekadar pertunjukan emosi. Apabila pemegang kekuasaan menggunakan otoritasnya untuk melabeli pengkritik, sementara kalangan ahli melemparkan tuduhan tanpa bukti sahih.

"Demokrasi komunikasi yang sehat bukan yang paling lantang. Namun adalah yang paling jujur, yaitu pemimpin menahan godaan merendahkan lawan wacana, intelektual menahan godaan menjual kepakaran tanpa bukti," ujarnya.

Di sisi lain, Fajar mengingatkan bahwa keharusan menjaga kejujuran intelektual (intellectual honesty) juga membebankan tanggung jawab yang sama beratnya kepada para akademisi dan pengamat. Kepakaran tidak boleh dijadikan kedok untuk menyamarkan agenda politik atau melontarkan analisis yang tidak akuntabel.

Ia menekankan pentingnya semua pihak dalam hal ini pemerintah, akademisi, hingga media massa untuk menurunkan suhu ketegangan dan kembali pada substansi data.

Kegagalan menjaga kejujuran dan etika komunikasi hanya akan merugikan masyarakat yang membutuhkan informasi jernih dan berimbang.

"Jika ketiga pihak itu gagal, yang dirugikan bukan presiden atau pakar, melainkan publik yang seharusnya mendapat informasi, bukan perang status," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenakan Baju Koko Putih, Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo

Kenakan Baju Koko Putih, Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo

News | Sabtu, 19 September 2026 | 11:31 WIB

Prabowo Singgung PAN Bokek di HUT ke-28: Acara Megah, Utang Belum Lunas

Prabowo Singgung PAN Bokek di HUT ke-28: Acara Megah, Utang Belum Lunas

News | Sabtu, 19 September 2026 | 11:00 WIB

Presiden Prabowo Hina Pakar Goblok, Artis Ini Sindir Telak: Padahal Beliau 2+8 Aja 11

Presiden Prabowo Hina Pakar Goblok, Artis Ini Sindir Telak: Padahal Beliau 2+8 Aja 11

Entertainment | Sabtu, 19 September 2026 | 10:09 WIB

Kasus Keracunan Massal Meluas, Daerah Ramai-ramai Mulai Berani Tolak MBG

Kasus Keracunan Massal Meluas, Daerah Ramai-ramai Mulai Berani Tolak MBG

News | Sabtu, 19 September 2026 | 10:00 WIB

Tak Hanya Prabowo, Kata Goblok Pernah Diucapkan Presiden Indonesia yang Dilengserkan dengan Tragis

Tak Hanya Prabowo, Kata Goblok Pernah Diucapkan Presiden Indonesia yang Dilengserkan dengan Tragis

News | Sabtu, 19 September 2026 | 09:51 WIB

Terkini

Sentil Sindiran Prabowo ke Pakar, Pengamat: Kebijakan Harus Berbasis Data, Bukan Saling Merendahkan

Sentil Sindiran Prabowo ke Pakar, Pengamat: Kebijakan Harus Berbasis Data, Bukan Saling Merendahkan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 12:03 WIB

Manga Geopolitik Funso Deshitara Hatta Made Resmi Dapat Adaptasi Anime TV

Manga Geopolitik Funso Deshitara Hatta Made Resmi Dapat Adaptasi Anime TV

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 12:00 WIB

Pelaku Penendang Perempuan di Senayan City Ditangkap, DPR: Jangan Ada Keistimewaan!

Pelaku Penendang Perempuan di Senayan City Ditangkap, DPR: Jangan Ada Keistimewaan!

News | Sabtu, 19 September 2026 | 11:55 WIB

Borong Dua Penghargaan Kemendagri, Gubernur Sulsel Bawa Pulang Insentif Miliaran Rupiah

Borong Dua Penghargaan Kemendagri, Gubernur Sulsel Bawa Pulang Insentif Miliaran Rupiah

Sulsel | Sabtu, 19 September 2026 | 11:54 WIB

4 Cara Membersihkan Pantat Panci yang Hitam Tebal dan Berkerak, Mudah dengan Bahan Rumahan

4 Cara Membersihkan Pantat Panci yang Hitam Tebal dan Berkerak, Mudah dengan Bahan Rumahan

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 11:46 WIB

Tak Sekadar Sertifikat, Brand Kuliner Asal Garut Jadikan Halal Integrity Fondasi Utama

Tak Sekadar Sertifikat, Brand Kuliner Asal Garut Jadikan Halal Integrity Fondasi Utama

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 11:44 WIB

Bongkar Kebocoran APBN Rp480 T! Prabowo: Padahal Bisa Hemat Buat MBG!

Bongkar Kebocoran APBN Rp480 T! Prabowo: Padahal Bisa Hemat Buat MBG!

Video | Sabtu, 19 September 2026 | 11:34 WIB

Kenakan Baju Koko Putih, Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo

Kenakan Baju Koko Putih, Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo

News | Sabtu, 19 September 2026 | 11:31 WIB

Berawal Dikejar Deadline, Review Novel Progresnya Berapa Persen?

Berawal Dikejar Deadline, Review Novel Progresnya Berapa Persen?

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 11:30 WIB

Novel Sabtu Bersama Bapak: Hangatnya Pesan Seorang Ayah

Novel Sabtu Bersama Bapak: Hangatnya Pesan Seorang Ayah

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 11:20 WIB

×