- Kelompok Houthi menyerang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, dengan rudal balistik pada Sabtu, 19 September.
- Putra Mahkota Saudi meminta serangan langsung AS terhadap Houthi, tetapi Washington menolak dan hanya memberikan dukungan intelijen.
- Ofensif terbaru Houthi membuat pasukan pro-Saudi kehilangan wilayah strategis pesisir serta meningkatkan risiko terhadap ekspor energi.
Suara.com - Kelompok Houthi memperluas ofensifnya di Yaman hingga mendekati jalur strategis selat Bab el-Mandeb, sementara Arab Saudi menghadapi tekanan untuk membendung laju kelompok tersebut tanpa dukungan militer langsung dari Amerika Serikat.
Kelompok Houthi juga diketahui menyerang ibu kota Arab Saudi, Riyadh dengan menggunakan rudal balistik, Sabtu (19/9) waktu setempat.
Menurut laporan CNN Internasional, Washington sejauh ini memilih memberikan dukungan intelijen dan data penentuan sasaran kepada Saudi, tetapi belum mengambil langkah untuk melancarkan serangan langsung terhadap Houthi.
Menurut CNN, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah dua kali berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan sebelumnya untuk meminta serangan AS terhadap Houthi.
Namun, permintaan tersebut sejauh ini ditolak. Washington memilih memberikan dukungan melalui pertukaran informasi intelijen dan data target kepada Saudi.
![Rudal Houthi Serang Riyadh, Negara Arab Ramai-Ramai Bela Arab Saudi Desak DK PBB Bertindak [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/20/89211-riyadh.jpg)
Seorang pejabat AS yang dikutip CNN mengatakan belum ada serangan ofensif Amerika Serikat terhadap Houthi dalam eskalasi terbaru.
Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan Trump yang menyebut Houthi tidak ingin berperang dengan Amerika Serikat.
Trump juga mengatakan kelompok tersebut lebih memilih tidak terlibat langsung dengan Washington.
Saudi selama hampir satu dekade telah melatih pasukan pemerintah Yaman yang menjadi mitranya dalam menghadapi Houthi.
Namun, kekuatan yang didukung Riyadh tersebut belum mampu menghentikan kemajuan Houthi.
Reuters melaporkan ofensif terbaru kelompok tersebut bahkan telah membuat pasukan yang didukung Saudi kehilangan sejumlah wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah.
CNN mengutip sejumlah sumber yang mempertanyakan kemampuan Saudi menghentikan Houthi hanya dengan mengandalkan kekuatan Yaman yang didukung kerajaan.
Sejumlah sumber di kawasan juga menilai kemampuan Houthi berkembang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dukungan Iran, pelatihan, serta pengalaman tempur disebut menjadi faktor yang meningkatkan kemampuan kelompok tersebut.
AS Tak Ingin Terjebak Konflik Baru
Amerika Serikat sebelumnya pernah melancarkan kampanye militer terhadap Houthi.
Namun, menurut CNN, serangkaian serangan tersebut tidak berhasil sepenuhnya mengusir kelompok tersebut dari wilayah yang dikuasainya dan kemudian berakhir dengan gencatan senjata.
Kini Washington kembali memilih pendekatan yang lebih terbatas.
Dukungan intelijen dan informasi target diberikan kepada Saudi, sementara pasukan AS tidak dilibatkan dalam serangan ofensif langsung.
Seorang pejabat Houthi yang dikutip CNN mengatakan pihaknya menerima pesan bahwa Amerika Serikat tidak ingin bergabung dengan Saudi dalam konflik tersebut.
“Pesan ini kami terima secara positif,” kata pejabat Houthi tersebut kepada CNN.
Sejumlah sumber kawasan menilai serangan Houthi dan situasi di sekitar Bab el-Mandeb ikut memengaruhi pembicaraan mengenai Hormuz. D
ua jalur strategis tersebut kini berada di tengah ketegangan regional yang saling berkaitan.
Sementara itu, Saudi juga menghadapi sejumlah tekanan lain, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan kebutuhan menjaga jalur ekspor minyak tetap terbuka.
Reuters melaporkan konflik terbaru telah meningkatkan risiko terhadap ekspor energi Saudi dan perdagangan global.