Sungai Cileungsi Menghitam Saat Kemarau, Pakar Ungkap Penyebabnya

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 23 September 2026 | 11:30 WIB
Sungai Cileungsi Menghitam Saat Kemarau, Pakar Ungkap Penyebabnya
Air sungai Cileungsi yang menghitam. Sumber: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Suara.com - Fenomena menghitamnya air sungai Cileungsi bukan sekadar pemandangan yang menganggu mata. Bagi Prof Etty Riani, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University sekaligus pakar pencemaran dan ekotosikologi, kondisi ini adalah alarm bahwa sungai mengalir hingga ke Kali Bekasi itu mungkin sudah tidak sanggup lagi menampung beban limbah yang terus dibuang ke badan airnya.

"Harusnya dicek daya dukung dan daya tampung sungainya. Jangan-jangan sebenarnya sudah jauh terlewati sehingga tidak boleh lagi ada kegiatan yang membuang limbah ke sungai," tegasnya seperti dikutip dalam laman IPB University.

Peringatan ini bukan tanpa alasan. Sungai Cileungsi berperan penting sebagai bagian dari sumber air baku di wilayah hilir, sehingga setiap gangguan kualitas airnya berpotensi berdampak langsung pada masyarakat yang bergantung pada aliran tersebut.

Kemarau Panjang, Sungai Kehilangan Daya Encer

Menurut Etty, warna hitam dan bau menyengat yang muncul biasanya adalah gejala klasik yang berulang setiap musim kemarau, terutama saat kemarau berlangsung lama. Saat debit air menurun drastis, kemampuan sungai untuk mengencerkan limbah organik dari domestik, peternakan, maupun industri pun ikut melemah.

Bahan organik yang menumpuk itu lalu diuraikan mikroorganisme dengan "memakan" oksigen terlarut dalam air. Prosesnya digambarkan lewat dua indikator utama: BOD (kebutuhan oksigen biologis) dan COD (kebutuhan oksigen kimiawi). "Banyaknya bahan organik akan menyebabkan oksigen dimanfaatkan untuk menguraikannya, sehingga BOD dan COD meningkat serta oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) menurun," jelasnya.

Ketika oksigen terlarut anjlok hingga kondisi nyaris tanpa oksigen (anaerob/anoksik), bakteri mulai mereduksi sulfat menjadi sulfida, yang kemudian mengikat besi dan membentuk besi sulfida dan menjadi pemicu warna hitam pada air. Gas hidrogen sulfida yang terbentuk pun menyisakan bau seperti telur busuk, sementara reduksi senyawa mangan turut menambah kekeruhan gelap air sungai.

Meski gejalanya tampak jelas secara kasat mata, Etty mengingatkan agar publik tidak buru-buru menuduh pihak tertentu sebagai biang keladi pencemaran. Ia menekankan, warna dan bau air hanyalah tanda peringatan dini, bukan bukti forensik. "Tanpa hasil laboratorium, kita hanya dapat mengatakan terdapat indikasi pencemaran atau gangguan kualitas air, bukan menyatakan jenis limbah atau pelakunya," katanya.

Ancaman lain justru datang setelah hujan pertama mengguyur pasca-kemarau panjang. Hujan tersebut dapat mengaduk kembali sedimen dasar sungai yang selama musim kering menyimpan bahan organik dan kontaminan, melalui proses yang disebut resuspensi.

baca juga

Akibatnya, kadar padatan tersuspensi (TSS) dan kekeruhan air melonjak, oksigen terlarut kembali tertekan, sementara amonia, sulfida, fosfat, dan logam terlarut ikut terlepas ke kolom air.

Ancaman Bagi Ekosistem hingga Rantai Makanan

Dampak dari rangkaian proses ini tidak main-main. Insang ikan bisa rusak, pertumbuhan dan reproduksi biota air terganggu, bahkan memicu kematian ikan, plankton, larva, dan organisme dasar sungai yang sensitif terhadap perubahan kualitas air.

Dalam jangka panjang, pencemar berisiko terakumulasi di tubuh organisme dan berpindah lewat rantai makanan—termasuk berpotensi sampai ke manusia yang mengonsumsi ikan dari perairan tersebut.

Karena itu, Etty mendorong pemeriksaan kualitas air Sungai Cileungsi dilakukan secara menyeluruh dan rutin, bukan hanya ketika air sudah terlanjur menghitam.

Parameter yang perlu diuji meliputi DO, BOD, COD, TSS, pH, amonia, sulfida, logam berat, minyak dan lemak, hingga parameter mikrobiologis—satu-satunya cara untuk benar-benar mengetahui apakah sungai ini masih layak menampung beban limbah yang ada, atau justru sudah harus disetop total.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tong Kalap, Tong Nyesa: Siasat Kafe di Bandung Kurangi Limbah Makanan

Tong Kalap, Tong Nyesa: Siasat Kafe di Bandung Kurangi Limbah Makanan

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 15:55 WIB

Potret Sungai Cileungsi Menghitam Akibat Dugaan Limbah Industri

Potret Sungai Cileungsi Menghitam Akibat Dugaan Limbah Industri

Foto | Rabu, 16 September 2026 | 18:31 WIB

Mengenal Barik, Upaya Olah Limbah Daun Nanas Kelud Menjadi Tekstil Berkelanjutan

Mengenal Barik, Upaya Olah Limbah Daun Nanas Kelud Menjadi Tekstil Berkelanjutan

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 12:05 WIB

Terkini

Desil 10 tapi Gaji Rp3,5 Juta, Apakah Tetap Dapat BSU Kemnaker Rp900.000? Ini Penjelasannya

Desil 10 tapi Gaji Rp3,5 Juta, Apakah Tetap Dapat BSU Kemnaker Rp900.000? Ini Penjelasannya

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 12:19 WIB

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Wamen HAM Desak Pengusutan Transparan

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Wamen HAM Desak Pengusutan Transparan

News | Sabtu, 07 November 2026 | 12:15 WIB

Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS

Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 12:15 WIB

Apakah Kulit Berminyak Tetap Membutuhkan Moisturizer? Simak Faktanya

Apakah Kulit Berminyak Tetap Membutuhkan Moisturizer? Simak Faktanya

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 12:15 WIB

Kasus Penyadapan Listyo, ICW Soroti Celah Hukum 16 Tahun yang 'Dibiarkan' Ugal-ugalan

Kasus Penyadapan Listyo, ICW Soroti Celah Hukum 16 Tahun yang 'Dibiarkan' Ugal-ugalan

News | Sabtu, 07 November 2026 | 12:14 WIB

Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?

Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 12:00 WIB

Viral, Staf Pemprov Kaltim Joget saat Demo Mahasiswa Bakal Diperiksa Inspektorat

Viral, Staf Pemprov Kaltim Joget saat Demo Mahasiswa Bakal Diperiksa Inspektorat

Kaltim | Sabtu, 07 November 2026 | 11:55 WIB

Targetkan Stok Minyak 60 Hari! Bahlil Diingatkan Jangan Cuma Bangun 'Tangki' Tanpa Isi

Targetkan Stok Minyak 60 Hari! Bahlil Diingatkan Jangan Cuma Bangun 'Tangki' Tanpa Isi

News | Sabtu, 07 November 2026 | 11:47 WIB

Irene Umar Kenang Kesuksesan Lobi-lobi M4 Mobile Legends Biar Digelar ke Indonesia

Irene Umar Kenang Kesuksesan Lobi-lobi M4 Mobile Legends Biar Digelar ke Indonesia

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 11:37 WIB

Dapur Jadi Kunci Bisnis Kuliner, Begini Pentingnya Menjaga Kualitas Bahan Makanan

Dapur Jadi Kunci Bisnis Kuliner, Begini Pentingnya Menjaga Kualitas Bahan Makanan

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 11:31 WIB

×