- Pasukan di bawah pimpinan Letkol Untung menculik serta membunuh enam jenderal dan satu perwira TNI AD di Jakarta pada dini hari 1 Oktober 1965.
- Jenazah para korban ditemukan di sumur tua Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan kemudian diangkat sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keputusan Presiden Oktober 1965.
- Tragedi G30S/PKI ini memicu perubahan besar berupa jatuhnya pemerintahan Presiden Soekarno serta kemunculan era Orde Baru di Indonesia.
5. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Donald Isaac Panjaitan
D.I. Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, pada 19 Juni 1925 (ada sumber yang menyebut 9 Juni). Ia menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik.
Panjaitan ditembak mati di rumahnya saat berusaha melawan para penculik. Jenazahnya kemudian dibawa ke Lubang Buaya.
6. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922. Ia menjabat sebagai Inspektur Kehakiman atau Oditur Jenderal Angkatan Darat.
Sutoyo diculik hidup-hidup dan dibunuh di Lubang Buaya. Ia dikenal menentang pembentukan Angkatan Kelima PKI.
7. Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andreas Tendean
Meski bukan jenderal, Pierre Tendean (lahir 21 Februari 1939) selalu disebut bersama keenam jenderal tersebut. Ia adalah ajudan Jenderal A.H. Nasution. Ketika pasukan datang ke rumah Nasution, Pierre ditangkap karena menyamar atau dianggap sebagai Nasution.
Nasution sendiri berhasil melarikan diri, sementara Pierre dibawa ke Lubang Buaya dan dibunuh. Putri Nasution, Ade Irma Suryani, juga tewas tertembak dalam insiden tersebut.
Selain ketujuh tokoh di atas, terdapat korban lain di luar Jakarta, seperti Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono di Yogyakarta, serta Bripka Karel Sadsuit Tubun di Jakarta. Namun, keenam jenderal dan Pierre Tendean yang ditemukan di Lubang Buaya menjadi simbol utama tragedi tersebut.
Peristiwa G30S meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Nama-nama para jenderal yang gugur terus dikenang sebagai Pahlawan Revolusi dan kemudian juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.