- Pekerja lab Rusia bernama Daria Shipilova meninggal di Shelekhov pada September akibat paparan bakteri Yersinia pestis.
- Otoritas kesehatan Rusia menempatkan hampir 200 orang dalam pengawasan medis setelah melakukan kontak dengan korban tersebut.
- Para ahli menilai kemungkinan kasus ini memicu pandemi baru sangat rendah karena penularannya terbatas.
Pes dapat muncul dalam tiga bentuk utama, yakni pes bubonik, pes septikemia, dan pes paru.
Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum dan ditandai pembengkakan kelenjar getah bening atau munculnya bubo.
Sementara itu, pes septikemia terjadi ketika bakteri masuk ke dalam aliran darah dan dapat berkembang menjadi kondisi serius.
Pes paru merupakan bentuk yang paling berbahaya karena menyerang sistem pernapasan dan dapat ditularkan antarmanusia.
Penyakit tersebut dapat muncul sebagai komplikasi pes yang tidak ditangani maupun akibat menghirup droplet dari pasien yang terinfeksi.
![Kematian Misterius Teknisi Lab Rusia: Diduga Kebocoran Bakteri Pes, Bakal Ada Wabah Baru? [MundoEConflicto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/08/83563-otoritas-kesehatan-rusia.jpg)
Pes Paru Berkembang Sangat Cepat
Pes paru dikenal memiliki perjalanan penyakit yang cepat. Gejalanya dapat berupa lemas, sesak napas, nyeri dada, batuk serta keluarnya dahak yang terkadang bercampur darah.
Tanpa pengobatan, penyakit tersebut dapat berakibat fatal. Namun, pes dapat diobati dengan antibiotik jika diagnosis dan terapi dilakukan sedini mungkin.
Malick Gibani, profesor klinis vaksinologi bakteri di Imperial College London, menjelaskan bahwa pengobatan dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.
“Penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini,” ujar Gibani kepada Science Media Centre.
Orang yang diketahui memiliki paparan berisiko tinggi juga dapat diberikan antibiotik sebagai profilaksis setelah paparan atau menjalani karantina sesuai penilaian medis.
Apakah Bisa Menjadi Pandemi Baru?
Para ahli menilai kemungkinan kasus ini berkembang menjadi pandemi sangat rendah.
Salah satu alasannya adalah pasien pes paru biasanya mengalami perburukan kondisi dalam waktu relatif cepat sehingga peluang melakukan kontak dengan banyak orang menjadi lebih terbatas.
Selain itu, penularan pes paru terutama membutuhkan kontak dekat melalui droplet pernapasan.
Penyakit ini tidak menyebar melalui aerosol dalam jarak jauh seperti sejumlah penyakit pernapasan lainnya.
Alice Hughes, profesor ilmu konservasi di University of Melbourne, menilai kemungkinan penyebaran lebih lanjut juga kecil apabila paparan terjadi di laboratorium dan fasilitas tersebut telah menjalani proses dekontaminasi.
“Jika orang-orang segera dikarantina, sangat kecil kemungkinan penyakit ini menyebar lebih jauh,” ujar Hughes kepada Science Media Centre.
Ian Jones, profesor virologi di University of Reading, juga menilai kasus tersebut kemungkinan merupakan insiden laboratorium yang jarang terjadi dan tidak akan berkembang menjadi wabah besar.