- Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo menyatakan 12,7 juta hektare hutan terdegradasi berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan biofuel.
- Pernyataan tersebut memicu kritik keras dari selebgram Siskaeee karena dinilai kurang berempati di tengah masalah kebakaran hutan.
- Warganet di media sosial turut mendukung kritik tersebut dengan menyoroti dampak kabut asap yang masih dirasakan masyarakat.
Suara.com - Pernyataan Hashim Djojohadikusumo mengenai potensi pemanfaatan 12,7 juta hektare hutan terdegradasi untuk pengembangan biofuel menuai kritik dari selebgram, Siskaeee.
Pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, tentang pemanfaatan hutan rusak untuk pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel menjadi sorotan di media sosial.
Kritik muncul ketika masyarakat di sejumlah wilayah masih mengeluhkan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Sebagian warganet mempertanyakan sensitivitas pemerintah dalam membicarakan potensi ekonomi dari lahan terdegradasi ketika persoalan kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat masih menjadi perhatian.
Salah satu kritik keras datang melalui unggahan akun Thread Siskaeee.
Fransiska Candra Novitasari itu menyindir soal empati pejabat negara di tengah situasi saat ini.
"ITU API MASIH NYALA! BANYAK KORBAN JIWA MENINGGAL DUNIA! TAPI ADIKNYA NGOMONGIN SOAL KEUNTUNGAN NILAI EKONOMIS AKIBAT HUTAN RUSAK DAN SOAL BIO ETANOL?!?!?!!"
"Gada empatinya sama sekali!
Benar memang! Empati tidak akan terlahir dari hati yg JAHAT!!!!" tulis Siskaeee.
Sejumlah pengguna media sosial turut menyampaikan dukungan terhadap kritik tersebut.
Salah satu pengguna Thread misalnya, menulis bahwa dirinya memutuskan mengikuti Siskaeee karena keberaniannya menyuarakan kritik terhadap pemerintah pada 2026.
Sementara itu, akun lainnya membandingkan sikap Siskaeee dengan para pejabat yang menjadi sasaran kritiknya.
"Siskaeee aja yg dinilai tak bermoral lebih punya moral daripada Bapak2 sekalian," tulis akun tersebut.
Hashim Sebut 12,7 Juta Hektare Hutan Rusak Berpotensi untuk Biofuel
Sebelumnya, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi pemanfaatan 12,7 juta hektare hutan terdegradasi untuk mendukung pengembangan bahan bakar nabati, termasuk program B50 hingga B100.
Menurut Hashim, kawasan hutan yang telah rusak dapat dipertimbangkan sebagai sumber bahan baku energi tanpa harus membuka hutan primer yang masih terjaga.
"Menurut pemerintah Kementerian Kehutanan terdapat saat ini 12,7 juta hektare hutan rusak, degraded forest, itu hutan tapi tidak ada kayu lagi. Sudah ditebang, sudah semak belukar dan sebagainya," kata Hashim.
Ia menilai kawasan terdegradasi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung penyediaan bahan baku biofuel.
Pendekatan itu, menurutnya, perlu diarahkan agar pengembangan energi tidak menambah tekanan terhadap hutan primer.
Program B50 merujuk pada campuran 50 persen biodiesel dengan 50 persen solar, sedangkan B100 merupakan bahan bakar biodiesel murni.
Pengembangan bahan bakar nabati menjadi salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.