- Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 62.400 kasus ISPA pada anak balita hingga 12 Oktober 2026.
- Menteri PPPA Arifah Fauzi mengimbau orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah pada 15 Oktober 2026.
- Kementerian PPPA berkoordinasi dengan dinas setempat untuk menyalurkan bantuan masker dan menyediakan layanan kesehatan.
Suara.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah menjadi ancaman bagi kesehatan anak-anak. Kementerian Kesehatan mencatat 62.400 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada kelompok usia 0-5 tahun hingga 12 Oktober 2026.
Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengimbau orang tua di wilayah terdampak karhutla untuk membatasi aktivitas anak di luar rumah, terutama balita, guna mengurangi risiko paparan asap.
"Kami memberikan pemahaman kepada keluarga-keluarga paling tidak anaknya tidak diajak untuk bepergian," kata Arifah Fauzi di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Menurut Arifah, perlindungan anak dari dampak karhutla tidak cukup hanya mengandalkan penanganan setelah muncul gangguan kesehatan.
![Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sulbar menimbulkan asap yang dapat mengakibatkan dampak kesehatan bagi masyarakat di Mamuju, Senin (05/10/2026) [SuaraSulsel.id/ANTARA/HO-Pemprov Sulbar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/06/29832-kebakaran-hutan.jpg)
Upaya pencegahan di lingkungan keluarga juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko paparan asap.
"Jadi upaya preventif di keluarga masing-masing itu sangat penting," ujarnya.
Kementerian PPPA, lanjut Arifah, telah berkoordinasi dengan dinas setempat untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak. Bantuan yang diupayakan antara lain masker, disertai layanan kesehatan dan imbauan agar masyarakat disiplin menggunakan masker.
"Selama ini kita melakukan koordinasi dengan dinas setempat ya untuk memberikan salah satu bantuan yang paling cepat, masker," katanya.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan beban gangguan pernapasan di tengah karhutla tidak hanya terjadi pada anak-anak. Hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif, termasuk 62.400 kasus pada kelompok usia 0-5 tahun.
Jumlah tersebut memperlihatkan besarnya kasus gangguan pernapasan yang tercatat selama periode pemantauan. Namun, data kumulatif tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh kasus ISPA disebabkan oleh paparan asap karhutla.
Ancaman kesehatan juga tergambar dari hasil pemantauan kualitas udara. Sebanyak 37 stasiun pemantau indeks standar pencemar udara menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.
Dari jumlah tersebut, 13 daerah berada dalam kategori berbahaya, 11 daerah masuk kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya berada pada kategori tidak sehat.
Kondisi itu membuat perlindungan kelompok rentan, termasuk anak-anak, menjadi penting selama karhutla masih berlangsung. Selain membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara buruk, masyarakat juga perlu mengikuti informasi kualitas udara setempat dan arahan petugas kesehatan.
Bagi orang tua, langkah pencegahan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi udara di lingkungan masing-masing, terutama saat asap pekat menyelimuti permukiman dan berpotensi meningkatkan paparan polutan pada anak.