Karhutla Berulang, Tata Air Gambut Jadi Kunci Lindungi Habitat Satwa

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:54 WIB
Karhutla Berulang, Tata Air Gambut Jadi Kunci Lindungi Habitat Satwa
Asap kebakaran hutan (dok.Pixabay)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang kali terjadi di Indonesia ini tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga menghilangkan habitat satwa liar.

Salah satu upaya pencegahannya bisa dimulai dari menjaga kondisi gambut tetap basah melalui pengelolaan tata air yang tepat.

Ketika gambut mengering dan terbakar, kerusakan ekosistem dapat menyebar luas hingga menghilangkan sumber pakan dan tempat berlindung satwa-satwa.

Urgensi mengenai pengelolaan gambut dan perlindungan satwa inilah yang menjadi sorotan dalam UGM Podcast yang menghadirkan anggota Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Kamis (15/10).

Diskusi tersebut menganalisis korelasi antara aktivitas manusia dengan kondisi lahan gambut serta dampak kebakaran terhadap keanekaragaman hayati.

Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengolahan Tanah, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Benito Heru Purwanto, memaparkan bahwa gambut terbentuk dari kumpulan sisa tumbuhan selama ribuan tahun.

Kandungan material organik tersebut yang membut gambut ini rentan mengalami kerusakan ketika kondisi hidrologinya mengalami gangguan.

Pengelolaan tata air menjadi sangat penting untuk mempertahankan kelembapan gambut, khususnya saat memasuki musim kemarau.

Melalui pembangunan kanal atau pengelolaan lahan yang menurunkan muka air tanah dapat membuat gambut mengering dan lebih mudah terbakar.

baca juga

Benito menekankan bahwa sumber penyalaan api perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan kebakaran.

"Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita," katanya.

Hal ini secara tidak langsung menegaskan betapa pentingnya untuk memperhatikan aktivitas manusia dalam pengelolaan lahan.

Saat gambut mengering dan terdapat sumber api, kebakaran bisa menjalar hingga ke lapisan organik yang letaknya di bawah permukaan tanah.

Kondisi ini membuat pemadaman menjadi lebih sulit. Sebab, api tidak lagi hanya membakar vegetasi di permukaan.

Menurutnya, penanganan kebakaran gambut membutuhkan upaya pembasahan kembali atau rewetting guna memulihkan kelembapan lahan.

Karena itulah, pengelolaan tata air tidak cukup dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pemeliharaan kelembapan gambut perlu dimulai sejakmusim hujan agar risiko kebakaran dapat diminimalisir sebelum kemarau tiba.

Kebakaran Menghilangkan Habitat dan Sumber Pakan Satwa

Dampak karhutla tidak berhenti begitu saja pada kerusakan lahan gambut, kebakaran tersebut turut mengancam satwa liar yang hidupnya mengandalkan sumber kekayaan hutan untuk memperoleh makanan, berlindung, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM sekaligus pemerhati satwa liar Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menerangkan bahwa kebakaran dapat membumihanguskan habitat serta sumber pakan mereka.

Kerusakan vegetasi turut mengurangi ketersediaan tumbuhan yang dibutuhkan satwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Wisnu menegaskan hilangnya sumber makanan menjadi salah satu persoalan utama bagi satwa ketika hutan terbakar.

"Masalah yang utama itu kehilangan sumber pakan karena kebakaran hutan," ungkapnya.

Sudah kehilangan makanan dan tempat berlindung, mereka juga harus menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat asap serta luka akibat permukaan tanah yang masih menyimpan bara.

Bahkan sebagian satwa bisa mengalami kematian tanpa terdeteksi karena berada di bagian dalam hutan yang sulit dijangkau petugas.

Tanpa disadari bahwa kerusakan habitat juga dapat mendorong satwa berpindah ke permukiman warga.

Ketika sumber makanan di hutan berkurang, satwa berpotensi memasuki lahan pertanian atau kawasan penduduk untuk mencari makan. Kondisi tersebut dapat memperparah risio konflik antara satwa liar dan masyarakat.

Pemulihan Hutan Harus Mempertimbangkan Kebutuhan Satwa

Untuk itu, pemulihan kawasan yang terbakar tidak otomatis mengembalikan fungsi habitat seperti semula.

Vegetasi yang tumbuh kembali belum menjamin dalam menyediakan jenis pakan yang sesuai dengan kebutuhan setiap satwa.

Itulah upaya restorasi habitat sebaiknya tetap mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan kebutuhan ekologis satwa yang hidup di dalamnya.

Langkah tersebut juga perlu diiringi dengan pencegahan kebakaran supaya kerusakan serupa tidak terus berulang.

Wisnu pun menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar hutan dan pelaku usaha yang memanfaatkan lahan.

Dengan edukasi serta pemantauan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambanan, dan perkebunan menjadi bagian dari upaya meminimalisir risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?

Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:56 WIB

Heboh Trio Wanita Berjilbab Bentangkan Poster Isu Sawit Indonesia Dikirim ke Israel

Heboh Trio Wanita Berjilbab Bentangkan Poster Isu Sawit Indonesia Dikirim ke Israel

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 09:57 WIB

Ketika Udara Bersih Harus Dibeli Mahal, Haruskah Hak Bernapas Dirampas?

Ketika Udara Bersih Harus Dibeli Mahal, Haruskah Hak Bernapas Dirampas?

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:15 WIB

Terkini

Karhutla Berulang, Tata Air Gambut Jadi Kunci Lindungi Habitat Satwa

Karhutla Berulang, Tata Air Gambut Jadi Kunci Lindungi Habitat Satwa

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:54 WIB

Freezer 200 Liter dengan Teknologi Antibunga Es, Diklaim Tahan Dingin 126 Jam

Freezer 200 Liter dengan Teknologi Antibunga Es, Diklaim Tahan Dingin 126 Jam

Tekno | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:53 WIB

7 Arti Mimpi Menjadi Imam Sholat Berjamaah Menurut Islam

7 Arti Mimpi Menjadi Imam Sholat Berjamaah Menurut Islam

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:50 WIB

Gagal Raih Ballon d'Or 2026, Thierry Henry Sindir Lamine Yamal Bikin Bintang Barcelona Salah Tingkah

Gagal Raih Ballon d'Or 2026, Thierry Henry Sindir Lamine Yamal Bikin Bintang Barcelona Salah Tingkah

Bola | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:49 WIB

Operasi Patuh 2026 Incar Pengendara yang Manipulasi Pelat Nomor demi Hindari ETLE

Operasi Patuh 2026 Incar Pengendara yang Manipulasi Pelat Nomor demi Hindari ETLE

Otomotif | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:48 WIB

The One About Matthew Perry: Menguak Sisi Lain Bintang Friends Lawan Kecanduan

The One About Matthew Perry: Menguak Sisi Lain Bintang Friends Lawan Kecanduan

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:47 WIB

Apakah Aman Membiarkan Charger HP Tertancap di Stop Kontak Terus Menerus?

Apakah Aman Membiarkan Charger HP Tertancap di Stop Kontak Terus Menerus?

Tekno | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:39 WIB

Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut

Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut

Kaltim | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:38 WIB

Kabar Baik! Tiket Pesawat Natal dan Tahun Baru Bakal Turun hingga 13 Persen

Kabar Baik! Tiket Pesawat Natal dan Tahun Baru Bakal Turun hingga 13 Persen

Sumut | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:37 WIB

5 Kebiasaan Malam Hari yang Bisa Mengganggu Kesehatan Ginjal, Jangan Disepelekan!

5 Kebiasaan Malam Hari yang Bisa Mengganggu Kesehatan Ginjal, Jangan Disepelekan!

Sumut | Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:35 WIB

×