Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang kali terjadi di Indonesia ini tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga menghilangkan habitat satwa liar.
Salah satu upaya pencegahannya bisa dimulai dari menjaga kondisi gambut tetap basah melalui pengelolaan tata air yang tepat.
Ketika gambut mengering dan terbakar, kerusakan ekosistem dapat menyebar luas hingga menghilangkan sumber pakan dan tempat berlindung satwa-satwa.
Urgensi mengenai pengelolaan gambut dan perlindungan satwa inilah yang menjadi sorotan dalam UGM Podcast yang menghadirkan anggota Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Kamis (15/10).
Diskusi tersebut menganalisis korelasi antara aktivitas manusia dengan kondisi lahan gambut serta dampak kebakaran terhadap keanekaragaman hayati.
Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengolahan Tanah, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Benito Heru Purwanto, memaparkan bahwa gambut terbentuk dari kumpulan sisa tumbuhan selama ribuan tahun.
Kandungan material organik tersebut yang membut gambut ini rentan mengalami kerusakan ketika kondisi hidrologinya mengalami gangguan.
Pengelolaan tata air menjadi sangat penting untuk mempertahankan kelembapan gambut, khususnya saat memasuki musim kemarau.
Melalui pembangunan kanal atau pengelolaan lahan yang menurunkan muka air tanah dapat membuat gambut mengering dan lebih mudah terbakar.
Benito menekankan bahwa sumber penyalaan api perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan kebakaran.
"Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita," katanya.
Hal ini secara tidak langsung menegaskan betapa pentingnya untuk memperhatikan aktivitas manusia dalam pengelolaan lahan.
Saat gambut mengering dan terdapat sumber api, kebakaran bisa menjalar hingga ke lapisan organik yang letaknya di bawah permukaan tanah.
Kondisi ini membuat pemadaman menjadi lebih sulit. Sebab, api tidak lagi hanya membakar vegetasi di permukaan.
Menurutnya, penanganan kebakaran gambut membutuhkan upaya pembasahan kembali atau rewetting guna memulihkan kelembapan lahan.
Karena itulah, pengelolaan tata air tidak cukup dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pemeliharaan kelembapan gambut perlu dimulai sejakmusim hujan agar risiko kebakaran dapat diminimalisir sebelum kemarau tiba.
Kebakaran Menghilangkan Habitat dan Sumber Pakan Satwa
Dampak karhutla tidak berhenti begitu saja pada kerusakan lahan gambut, kebakaran tersebut turut mengancam satwa liar yang hidupnya mengandalkan sumber kekayaan hutan untuk memperoleh makanan, berlindung, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM sekaligus pemerhati satwa liar Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menerangkan bahwa kebakaran dapat membumihanguskan habitat serta sumber pakan mereka.
Kerusakan vegetasi turut mengurangi ketersediaan tumbuhan yang dibutuhkan satwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Wisnu menegaskan hilangnya sumber makanan menjadi salah satu persoalan utama bagi satwa ketika hutan terbakar.
"Masalah yang utama itu kehilangan sumber pakan karena kebakaran hutan," ungkapnya.
Sudah kehilangan makanan dan tempat berlindung, mereka juga harus menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat asap serta luka akibat permukaan tanah yang masih menyimpan bara.
Bahkan sebagian satwa bisa mengalami kematian tanpa terdeteksi karena berada di bagian dalam hutan yang sulit dijangkau petugas.
Tanpa disadari bahwa kerusakan habitat juga dapat mendorong satwa berpindah ke permukiman warga.
Ketika sumber makanan di hutan berkurang, satwa berpotensi memasuki lahan pertanian atau kawasan penduduk untuk mencari makan. Kondisi tersebut dapat memperparah risio konflik antara satwa liar dan masyarakat.
Pemulihan Hutan Harus Mempertimbangkan Kebutuhan Satwa
Untuk itu, pemulihan kawasan yang terbakar tidak otomatis mengembalikan fungsi habitat seperti semula.
Vegetasi yang tumbuh kembali belum menjamin dalam menyediakan jenis pakan yang sesuai dengan kebutuhan setiap satwa.
Itulah upaya restorasi habitat sebaiknya tetap mempertimbangkan karakteristik ekosistem dan kebutuhan ekologis satwa yang hidup di dalamnya.
Langkah tersebut juga perlu diiringi dengan pencegahan kebakaran supaya kerusakan serupa tidak terus berulang.
Wisnu pun menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar hutan dan pelaku usaha yang memanfaatkan lahan.
Dengan edukasi serta pemantauan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambanan, dan perkebunan menjadi bagian dari upaya meminimalisir risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.
Penulis: Chairunisa