- Ratusan mahasiswa Universitas Trisakti berdemonstrasi di Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Kamis, 29 Oktober 2026.
- Aksi tersebut mengecam lambannya penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan yang mencemaskan warga di berbagai daerah.
- Massa menuntut agar Satgas PKH diadili karena dianggap mandul serta mendesak pemulihan ekosistem hutan yang rusak.
Suara.com - Ratusan mahasiswa Universitas Trisakti turun ke kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026) untuk mengecam lambannya penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan yang kian mencemaskan warga di berbagai daerah.
Dari atas mobil komando, orator aksi mengutarakan kepedihan mendalam atas bencana kabut asap yang melumpuhkan aktivitas dan merenggut kesehatan anak-anak di daerah.
"Saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan, Sumatera, Papua, terkena ISPA, sakit, tidak bisa bersekolah karena efek kebakaran hutan teman-teman!" pekiknya.
Ia turut mempertanyakan kesungguhan pemerintah dalam memulihkan ekosistem rimba yang hangus agar tidak dialihfungsikan menjadi konsesi bisnis ekstraktif.
![Massa mahasiswa Universitas Trisakti memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, untuk menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (29/10/2026). [Suara.com/Adiyoga]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/29/53502-massa-mahasiswa-universitas-trisakti-memadati-kawasan-patung-kuda.jpg)
"Apakah orang yang ada di sana bisa menjanjikan setelah kebakaran hutan ini selesai, apakah akan menjadi hutan kembali teman-teman? Atau hanya menjadi kelapa sawit, atau daerah-daerah tambang teman-teman?" tanya sang orator.
Selain menyengsarakan fisik masyarakat, dampak karhutla dinilai merembet hingga meremukkan tatanan perekonomian warga setempat.
Ketua BEM FH Trisakti, Zahra Nazira Firman, turut mempertegas kegetiran atas jurang nasib antara masyarakat di daerah terdampak karhutla dan warga ibu kota.
"Di Kalimantan hari ini, belum tentu mereka merasakan hawa segar yang kita rasakan hari ini, dan ini sangat miris," kata Zahra di sela kegiatan penyampaian pendapat.
Selain menuntut pemulihan ruang hidup, mahasiswa membidik kinerja Satgas PKH yang dianggap mandul dan luput dari pertanggungjawaban hukum.
"Satgas PKH ini sudah ada pada tahun 2025. Tapi hari ini, sama sekali Satgas PKH tidak disentuh. Bahkan kami sebagai mahasiswa pun, kami harus menagih. Mereka harus bertanggung jawab, mereka harus diadili," tutur Zahra.
![Sebanyak 350 petugas gabungan dari unsur TNI, Polri, Polhut, Brigade Manggal Agni masih berjibaku di lokasi untuk memadamkan api yang membakar sebagian kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). [ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/23/26733-karhutla-way-kambas.jpg)
Mereka menilai, para pemangku kebijakan justru saling melempar tanggung jawab alih-alih mengadili pihak yang lalai dalam menjaga kawasan hutan.
"Padahal kita sebagai rakyat, tanpa dituntut pun, sebagai seorang pemerintah, mereka memiliki tanggung jawab yang untuk memastikan bahwasanya hak kita sebagai masyarakat Indonesia terjamin, terpenuhi," kata Zahra.
Massa demonstran pun sempat menggelar aksi hening di depan barikade polisi sebagai perlambang duka cita atas ketidakberdayaan rakyat di kepungan asap.
Gerakan mahasiswa berikrar tidak akan tinggal diam sampai pemerintah benar-benar memulihkan hutan Indonesia dan menjamin hak hidup sehat bagi seluruh rakyat terdampak.