- Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti menyerukan evaluasi total terhadap Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan pada Kamis, 29 Oktober 2026.
- Fahrul Lubis mempertanyakan kinerja lembaga tersebut karena kasus pembakaran hutan dan lahan justru semakin meluas.
- Mahasiswa juga mendesak Presiden mencopot Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni beserta wakil menterinya.
Suara.com - Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti menyerukan evaluasi total terhadap Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Seruan evaluasi tersebut berangkat dari penilaian bahwa Satgas PKH tidak melakukan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya.
Evaluasi total Satgas PKH menjadi salah satu sub-tuntuan mahasiswa Universitas Trisaksi dalam aksi membawa Tri Tuntuntan Rakyat (Tritura) pada Kamis (29/10/2026) kemarin.
Fahrul Lubis, selaku perangkat aksi negosiator Kepresma Trisakti mempertanyakan kinerja Satgas PKH.
Menurutnya, bila Satgas PKH benar-benar bekerja, lantas mengata pembakaran hutan dan lahan, bukan hanya masih terjadi, terapi justru meluas.
"Kenapa pembakaran hutan semakin melebar?" tanya Fahrul mewakili Kepresma Trisaksi.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah langkah penyitaan dan pamer-pamer uang hasil sitaan yang dilakukan Satgas PKH kepada publik.
"Yang kedua, jika penyitaan Satgas PKH yang kerap sekali memamerkan uang penyitaan perusahaan yang dianggap nakal maka kita bertanya, di mana transparansi penggunaan uang tersebut?" kata Fahrul.
Kepresma Trisaksi juga memepertanyakan kesungguhan Satgas PKH untuk memulihkan ekosistem.
"Apakah digunakan untuk pemulihan hutan atau justru melanjutkan niat buruk dari perusahaan swasta tersebut?" ujar Fahrul.
Berdasarkan poin-poin tersebut, Kepresma Trisaksi menuntut agar ada evaluasi total terhadap Satgas PKH.
Mereka turut menuntut agar Presiden Prabowo Subianto mencopot Menterhi Kehutanan Raja Juli Antoni beserta wakil menterinya.
"Maka dari itu kita dalam salah satu sub-tuntutan kita untuk meminta evaluasi Satgas PKH secara menyeluruh dan mendesak untuk dicopotnya menteri dan wamen kehutanan," kata Fahrul.