- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan novel berjudul Diana Memang Manja di Cikeas.
- Novel tersebut ditulis untuk merawat kenangan bersama mendiang istrinya sekaligus mencurahkan perjalanan batin dan pengalaman hidupnya.
- Acara peluncuran buku diakhiri dengan penyerahan novel secara simbolis kepada empat belas tokoh dari berbagai latar belakang.
Suara.com - Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluncurkan novel terbarunya berjudul Diana Memang Manja di Cikeas, Kamis (29/10/2026) malam.
Novel tersebut menjadi ruang bagi SBY untuk merawat kenangan bersama mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, sekaligus menuangkan perjalanan batinnya setelah ditinggalkan sang istri.
Dalam peluncuran yang dikemas melalui dialog bersama Gita Wirjawan, SBY menceritakan bagaimana pengalaman hidup, perenungan, dan imajinasi berpadu dalam proses kreatif penulisan novel tersebut.
Kepergian Ani Yudhoyono pada 1 Juni 2019 menjadi salah satu momen yang membawanya kembali menekuni dunia seni. SBY mengaku hingga kini masih menyimpan kenangan tentang sang istri.
“Meskipun she is gone, saya tidak pernah melupakan,” tutur SBY ketika berbicara tentang almarhumah Ani Yudhoyono, seperti dikutip dari keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Bagi SBY, melukis, bermusik, menulis puisi hingga novel menjadi bagian dari perjalanan untuk memulihkan diri. Namun, ia menegaskan seni bukanlah dunia baru yang baru digelutinya setelah pensiun dari jabatan publik.
“Saya bukan mualaf tentara, politisi menjadi seniman. Tetapi seni itu masa lalu saya. Yang betul adalah the return of the lost artist. Kembalinya seniman setelah mengembara ke mana-mana,” ucap SBY.
SBY mengungkapkan, kegemarannya menulis sudah tumbuh sejak duduk di kelas lima sekolah dasar. Kala itu, ia mulai menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa dan Indonesia.
Melalui Diana Memang Manja, SBY merasa memiliki keleluasaan untuk mengeksplorasi berbagai cerita, mulai dari romansa, misteri hingga dinamika perasaan manusia.
“Saya merasa punya kebebasan untuk menggambarkan apa saja,” kata SBY.
Ia tidak menampik pengalaman kehilangan Ani turut memengaruhi emosi dalam novel tersebut. Namun, SBY menyebut kondisi dirinya kini sudah lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Sebagian saya curahkan novel itu untuk mengekspresikan hati saya sekian tahun yang lalu. Tetapi sekarang saya lebih kuat. Saya sudah move on,” ungkap SBY.
Di luar kisah personal yang mewarnai proses penulisannya, SBY juga menyisipkan pesan bagi generasi muda agar berani mengambil langkah dan bersungguh-sungguh memperjuangkan pilihan hidup.
“Lebih bagus do something daripada do nothing. Bahwa nanti ada masalah, ada dinamika, selalu begitu kehidupan itu,” papar SBY.
Peluncuran novel terbitan Kompas Gramedia itu berlangsung hangat. Acara turut diisi pemutaran video “SBY & Dunia Seni” serta penampilan musik dari Neo Jibles.
Sebagai penutup, SBY menyerahkan novel Diana Memang Manja secara simbolis kepada 14 tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari seniman dan penulis hingga pejabat negara.
Di antara penerima tersebut terdapat Wakil Presiden ke-11 RI Boediono dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY.