- Direktur IPO Dedi Kurnia Syah menyatakan perbedaan survei kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia disebabkan oleh metodologi penelitian.
- Survei IPO mencatat kepuasan kinerja Bahlil tertinggi di sektor ekonomi sebesar 31,1 persen.
- Dedi menilai kajian Celios berbeda karena menggunakan sampling purposif yang dipengaruhi oleh orientasi kritik terhadap pemerintah.
Suara.com - Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyebut perbedaan penilaian kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam survei IPO dan Center of Economic and Law Studies (Celios) dipengaruhi perbedaan metodologi penelitian.
Dedi menegaskan, survei IPO mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Bahlil mencapai 31,1 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara menteri yang membidangi sektor ekonomi.
Capaian tersebut jauh di atas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebesar 4,5 persen dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri sebesar 2 persen.
"Perbedaan dengan Celios sangat mungkin karena metodologi yang digunakan juga berbeda. IPO menggunakan pengambilan sampel secara acak dan proporsional, sementara Celios menggunakan sampling purposif. Purposif itu artinya sampel ditentukan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan peneliti," ujar Dedi kepada wartawan, Jumat (30/10/2026).

Menurut Dedi, perbedaan karakteristik responden dan kelompok yang diteliti dapat memengaruhi hasil kajian.
Karena itu, hasil penelitian yang berbeda tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan buruknya kinerja seorang pejabat publik.
Ia juga menyoroti keterlibatan Kabinet Bayangan dalam kajian Celios yang dinilainya cenderung berorientasi pada kritik terhadap pemerintah.
"Tentu jika tujuannya kritik, bisa dipastikan hanya melihat sisi buruk," ungkapnya.
Dedi menyebut tingginya kepuasan terhadap Bahlil dalam survei IPO juga ditopang popularitasnya di masyarakat.
Di samping persoalan angka survei, Dedi mengapresiasi karakter kepemimpinan Bahlil, terutama saat menyikapi dinamika hubungan Indonesia dan Singapura.
Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan keberanian politik dan keberpihakan terhadap kedaulatan nasional.
"Apa yang ditunjukkan Bahlil adalah sikap nasionalis, demi kedaulatan. Soal diplomasi persuasi yang diabaikan dapat dimaklumi jika Singapura lebih dahulu reaktif dan provokatif," kata Dedi.
Dedi menegaskan, pemerintah harus mengutamakan kepentingan rakyat dan kedaulatan nasional dalam mengambil keputusan, bukan semata-mata mempertimbangkan keuntungan investasi luar negeri.