PSW UGM Minta Pembalut Bebas PPN 11 Persen: Kebutuhan Sanitasi, Bukan Barang Mewah

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 03 November 2026 | 11:28 WIB
PSW UGM Minta Pembalut Bebas PPN 11 Persen: Kebutuhan Sanitasi, Bukan Barang Mewah
Ilustrasi pembalut kena pajak. (Pexels.com)
baca 10 detik
  • Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada mendesak pemerintah untuk mencabut Pajak Pertambahan Nilai sebelas persen pada pembalut wanita.
  • Kebijakan pajak tersebut dinilai memperberat beban ekonomi masyarakat rentan serta memicu masalah kesehatan reproduksi akibat kemiskinan menstruasi.
  • PSW UGM menyarankan penerapan kebijakan pajak nol persen dan penyediaan pembalut gratis bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu.

Suara.com - Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak pemerintah untuk segera mencabut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen pada produk pembalut wanita. Kebijakan pajak tersebut dinilai tidak tepat dan makin memperberat beban ekonomi masyarakat rentan di tengah tingginya angka kemiskinan menstruasi (period poverty) di Indonesia.

Kepala PSW UGM, Nurdiana Gaus, menuturkan bahwa pembalut tidak semestinya dipandang sekadar sebagai barang konsumsi yang dikenai pajak. 

Pemerintah perlu mempertimbangkan kebutuhan sanitasi menstruasi sebagai bagian dari kesehatan dan penghormatan terhadap martabat perempuan.

"Pusat Studi Wanita UGM menganjurkan pada pemerintah agar pembalut itu tidak dikenakan pajak 11 persen," kata Diana kepada Suara.com, Selasa (3/11/2026).

Diana memaparkan bahwa fenomena period poverty membuat banyak perempuan di Indonesia berada pada pilihan sulit antara membeli makanan atau memenuhi kebutuhan sanitasi dasar. 

Pengenaan PPN 11 persen pada pembalut justru memicu dampak turunan yang buruk bagi kesehatan reproduksi perempuan rentan.

Di tengah himpitan ekonomi, perempuan miskin rentan mengorbankan kesehatan reproduksinya dengan menggunakan bahan seadanya pengganti pembalut yang berisiko memicu penyakit. Situasi ini dinilai mengikis nilai kemanusiaan dan merendahkan kehormatan kaum perempuan.

PSW UGM mendorong pemerintah melihat praktik internasional, seperti di India, yang telah menetapkan kebijakan pajak nol persen (zero tax) untuk pembalut guna mencegah dampak buruk kesehatan akibat penggunaan alat sanitasi seadanya oleh perempuan dari keluarga miskin.

"Bahkan di negara-negara lain ya, misalnya India ya. Itu kan juga mungkin kondisinya sama dengan Indonesia ya, tapi kan sekarang di India itu tidak mengenakan pajak, zero tax pada produk pembalut," tandasnya.

baca juga

Selain pembebasan pajak, PSW UGM menekankan pentingnya peran negara untuk mengintervensi pasar secara langsung. Dalam hal ini melalui skema pemberian pembalut secara cuma-cuma kepada kelompok miskin guna mewujudkan kesetaraan menstruasi (menstrual equity).

"Sebaiknya pembalut itu tidak dikenakan pajak 11 persen, kalau bisa sih bagi masyarakat yang mengalami kesulitan digratiskan, kalau memungkinkan. Karena melihat kondisi data masih tingginya kemiskinan menstruasi di Indonesia," ujarnya.

Desakan penggratisan ini dinilai masuk akal secara finansial, mengingat pemerintah dinilai memiliki kapasitas anggaran yang memadai untuk membiayai program-program publik yang menyentuh kebutuhan mendasar warga negara. 

"Harusnya sih digratiskan, karena negara kan punya banyak duit saat ini ya, dari perspektif kami gitu ya, kan ada wacana juga untuk pendidikan gratis, berarti kan negara punya duit ya. Kenapa tidak dipertimbangkan juga untuk pembalut gratis untuk mendukung menstrual equity," tuturnya.

Lebih jauh, PSW UGM menyarankan penerapan konsep equal opportunity yang adaptif, di mana hak atas sanitasi gratis diberikan kepada kelompok rentan (by right). Sedangkan masyarakat kelas atas tetap membeli sesuai ketentuan pasar (by merit).

"Jadi equal opportunity-nya itu diterapkan adalah equal opportunity by right aja. Jadi ada peran negara di situ menggratiskan pembalut bagi masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi untuk membelinya," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pajak Pembalut Jadi Bukti Nafsu Belanja Negara Ugal-ugalan Saat Penerimaan Terbatas

Pajak Pembalut Jadi Bukti Nafsu Belanja Negara Ugal-ugalan Saat Penerimaan Terbatas

News | Senin, 02 November 2026 | 19:17 WIB

Respons Polemik Pajak Pembalut 11 Persen, MenPPPA: Tunggu, Semoga Ada Kabar Menggembirakan

Respons Polemik Pajak Pembalut 11 Persen, MenPPPA: Tunggu, Semoga Ada Kabar Menggembirakan

News | Senin, 02 November 2026 | 18:38 WIB

Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan

Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 10:10 WIB

Terkini

Heboh 7 Polisi Dimutasi Usai Ciduk Anggota DPRD Nyabu, Gerindra: Kami Dengar Mereka Minta Uang

Heboh 7 Polisi Dimutasi Usai Ciduk Anggota DPRD Nyabu, Gerindra: Kami Dengar Mereka Minta Uang

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:25 WIB

Pajak Pembayaran Digital: Negara Jangan Bikin Rakyat Makin Waswas

Pajak Pembayaran Digital: Negara Jangan Bikin Rakyat Makin Waswas

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 11:20 WIB

Stevia Beeru Diduga Mengandung Pemanis Buatan, BPOM Turun Tangan Uji Laboratorium

Stevia Beeru Diduga Mengandung Pemanis Buatan, BPOM Turun Tangan Uji Laboratorium

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:17 WIB

Siapa Ferry Boboho? Saksi Kunci yang Buka-bukaan di Sidang Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Siapa Ferry Boboho? Saksi Kunci yang Buka-bukaan di Sidang Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:14 WIB

Donald Trump Isyaratkan Kesepakatan Damai dengan Iran Jelang Pemilu Sela AS

Donald Trump Isyaratkan Kesepakatan Damai dengan Iran Jelang Pemilu Sela AS

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:13 WIB

Kemenkeu Optimistis Kejar Pertumbuhan 6% Lewat Kebijakan Fiskal Terukur

Kemenkeu Optimistis Kejar Pertumbuhan 6% Lewat Kebijakan Fiskal Terukur

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 11:11 WIB

Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November 2026, Ini Jadwal Seleksinya

Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November 2026, Ini Jadwal Seleksinya

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:09 WIB

Minyak Zaitun Mustika Ratu Bisa untuk Bersihkan Makeup? Kenali Manfaatnya

Minyak Zaitun Mustika Ratu Bisa untuk Bersihkan Makeup? Kenali Manfaatnya

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 11:07 WIB

PPP Memanas! Taj Yasin Dicopot dari Sekjen dan Agus dari Waketum, Mardiono Beberkan Pemicunya

PPP Memanas! Taj Yasin Dicopot dari Sekjen dan Agus dari Waketum, Mardiono Beberkan Pemicunya

News | Selasa, 03 November 2026 | 11:06 WIB

Kisah Rahman Sopir Bengkel Asal Kalimantan Ketiban Rezeki Miliarder Yamaha 2026

Kisah Rahman Sopir Bengkel Asal Kalimantan Ketiban Rezeki Miliarder Yamaha 2026

Otomotif | Selasa, 03 November 2026 | 11:05 WIB

×