- Pemuda bernama Aweng meninggalkan profesinya sebagai koki di Bandung pada tahun 2020 untuk pulang kampung menjadi petani kopi di Kabupaten Bandung Barat.
- Kehadiran Koperasi Rimba Lestari membantu Aweng memasarkan hasil panen kopinya dengan harga menguntungkan sehingga kehidupannya menjadi jauh lebih baik.
- Remaja berusia 17 tahun bernama Zainul Afwa juga mengelola kebun kopi warisan orang tuanya di Tangsi Jaya demi mendapatkan penghasilan tanpa merantau ke kota.
Suara.com - Seorang pemuda bernama Aweng pernah menghabiskan hampir tujuh tahun hidupnya di dapur sebuah rumah makan di Kota Bandung, Jawa Barat. Namun, pekerjaan sebagai koki tak kunjung memberinya penghasilan yang cukup.
Alih-alih bertahan di kota, pria berusia 28 tahun itu justru memilih pulang kampung dan mengubah jalan hidupnya menjadi petani kopi.
Keputusan besar itu diambil Aweng pada 2020. Ia meninggalkan profesi yang selama ini ditekuni untuk memulai kehidupan baru di Kampung Tangsi Jaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat.
Baginya, tak ada alasan memaksakan diri mencari penghidupan di kota jika kampung halaman sendiri menyimpan peluang yang menjanjikan.
"Buat apa susah-susah ke kota kalau di kampung juga ada," jelas Aweng kepada Suara.com pada Rabu, (4/11/2026).
Pilihan Aweng bukan tanpa perhitungan. Kampung Tangsi Jaya dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kopi.
Peluang itu semakin terbuka dengan kehadiran Koperasi Rimba Lestari yang membantu petani memasarkan hasil panen dengan harga yang menguntungkan.
Buah kopi arabika dihargai Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Sementara robusta dibeli dengan kisaran Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.
Melihat peluang tersebut, Aweng mulai belajar menanam dan membudidayakan kopi.
Awalnya, ia memanfaatkan lahan milik orang tuanya. Berbekal pengalaman dan ketekunan, kini ia berhasil memiliki kebun sendiri untuk dikelola.
Hasilnya, kehidupan Aweng terasa jauh lebih baik dibandingkan ketika masih bekerja sebagai koki di Bandung.
Bukan hanya soal penghasilan, ia juga merasa lebih leluasa mengatur waktu dan pekerjaannya sendiri.
"Kalau di kota itu, kan, ibaratnya jadi kayak ikut orang. Terus pengetahuan saya sebagai koki hanya terbatas pada bidang memasak saja jadinya," kata Aweng seraya tertawa.
Rutinitasnya kini tak lagi berkutat di dapur restoran.
Pagi atau sore hari, Aweng menyempatkan diri memantau kebun kopi setelah menyelesaikan pekerjaannya di Koperasi Rimba Lestari sebagai penyaring biji kopi yang telah matang.
Kesibukannya bertambah ketika musim panen tiba.
Ia harus mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk memastikan kebunnya terurus. Musim panen kopi di wilayah tersebut biasanya berlangsung pada awal tahun.
Meski telah menemukan kehidupan yang lebih baik, perjalanan Aweng sebagai petani muda bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang dikeluhkan adalah harga pupuk yang terus melambung dan semakin membebani biaya produksi.
Ia berharap pemerintah tidak mempersulit petani dalam mendapatkan pupuk untuk kebutuhan perkebunan.
"Harapan ke pemerintah sih, enggak muluk-muluk. Jangan dipersulit aja pembelian pupuk," ujar dia.
![Zainul Afwa remaja asal Kampung Tangsi Jaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat telah mengelola kebun kopi di usianya yang masih 17 tahun. [Suara.com/Alif]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/11/05/22615-petani-kopi-kampung-tangsi-jaya.jpg)
Afwa, Usia 17 Tahun Sudah Punya Kebun Kopi
Kisah Aweng bukan satu-satunya cerita anak muda yang memilih bertahan dan membangun masa depan dari kampung halaman. Di Tangsi Jaya, minat generasi muda untuk menjadi petani kopi juga cukup tinggi.
Salah satunya Zainul Afwa. Meski baru berusia 17 tahun, remaja ini sudah memiliki kebun kopi yang kini dikelolanya setelah diwariskan oleh orang tuanya yang pensiun dari dunia pertanian.
Afwa sudah mengenal pekerjaan berkebun sejak kecil. Ia mulai belajar bertani langsung dari orang tuanya ketika berusia 13 atau 14 tahun.
"Kalau bertani saya sudah bisa daru umur 13 atau 14 tahun. Ikut orang tua (belajar)," ungkap Afwa.
Bagi Afwa, meneruskan kebun keluarga bukan semata-mata urusan mencari penghasilan. Ia menganggapnya sebagai bentuk bakti kepada orang tua sekaligus cara menjaga lahan keluarga agar tetap menjadi sumber penghidupan.
"Enggak mau menyusahkan orang tua," tegas dia.
Meski begitu, Afwa tak ingin masa remajanya habis hanya untuk bekerja di kebun. Ia tetap ingin punya waktu bermain dan berkumpul bersama teman-temannya.
Karena itu, ia mengatur sendiri jadwal pekerjaannya. Pagi hari digunakan untuk merawat kebun, kemudian pulang menjelang waktu zuhur agar masih memiliki waktu untuk kegiatan lain.
"(Bertani) enggak ganggu waktu nongkrong. Pasti ada saja waktunya. Pembagian waktunya kalau pagi datang ke kebun, nanti kalau udah adzan dzuhur baru balik ke rumah," jelas dia.
Jika tak ada pekerjaan di kebunnya sendiri, Afwa kerap membantu merawat kebun milik orang lain. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh upah sekitar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per hari.
Penghasilan tersebut sudah cukup baginya untuk menjalani kehidupan sederhana di kampung. Bahkan, Afwa mengaku belum tertarik merantau ke kota untuk mencari pekerjaan.
"Di sini juga sudah cukup," ungkap dia.
Afwa pun berpesan kepada anak-anak muda seusianya agar tidak ragu menekuni dunia pertanian. Menurutnya, menjadi petani memang membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak bisa diperoleh secara instan.
"Intinya jangan pernah menyerah," tandasnya.
Reporter: Alif Bintang