NTB.Suara.com - Oesman Sapta Oedang tercatat sebagai salah satu pengusaha sukses yang terjun ke politik praktis dan menempati sejumlah jabatan strategis.
Tercatat memiliki sejumlah usaha di sektor properti, batubara, perkebunan, pria yang akrab disapa Oso ini ternyata mengawali bisnisnya dengan tidak mudah. Sebelum berjaya, sejak usia 16 tahun dia sudah bertarung mempertahankan hidup dengan berjualan rokok di pelabuhan pontianak. Kerasnya kehidupan Oso karena di usia 8 tahun dia ditinggal meninggal oleh ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Saya umur 8 tahun bapak meninggal. Umur 16 tahun kita tidak punya kemampuan lagi untuk sekolah karena saya sekolahnya di Inggris School di Kalimantan Barat. Jadi ndak kuat saya membiayai orang tua saya, sehingga saya berjualan rokok di pelabuhan. Senang dapat duit. Usia 16 tahun saya jual rokok, itu tekor terus, kadang untung bisa traktir teman," jelas Oso di podcast Akbar Faisal Uncensored.
Selain berjualan rokok, Oso kemudian bekerja memikul karet hasil sadapan yang akan dikirim melalui pelabuhan Pontianak. Kemudian Oso juga berjualan sayur dengan mengambil sayur langsung dari Jakarta.
"Kemudian saya pikul karet dari gudang ke kapal, dengan 30 kg karet yang saya pikul. Akhirnya berkembang, saya dagang dengan anak buah kapal dengan titip jual, kemudian saya menjadi grosir rokok di seluruh kalbar di usia 17-18 tahun. Kemudian saya dagang sayur dari pelabuhan juga, dulu itu ndak ada orang dagang sayur cuma saya yang dagang sayur, dari pontianak saya bawa kelapa,jahe, sampai jakarta saya tukar sayur, kentang, bawang, cabai, kul, bawa ke kalbar," kenang Oso.
Setelah usaha dan modalnya berkembang, Oso kemudian merambah usaha properti. Dia juga aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kamar Dagang Indonesia (Kadin). Aktif di organisasi tersebut menjadi pintu masuk Oso ke dunia politik.