Konsolidasi, Ambisi, dan Ketegangan: Menilai Tahun Pertama Prabowo-Gibran

Dwi Bowo Raharjo | Bagaskara Isdiansyah | Suara.com

Senin, 20 Oktober 2025 | 19:16 WIB
Konsolidasi, Ambisi, dan Ketegangan: Menilai Tahun Pertama Prabowo-Gibran
Pengamat Politik Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Kristian Widya Wicaksono. (Foto dok. pribadi/Suara.com)
  • Pemerintah sejak awal disebut memusatkan perhatian publik pada program-program nasional yang bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonom.
  • Dari perspektif kelembagaan, sejumlah risiko struktural perlu mendapat perhatian.
  • Berdasarkan analisis tersebut, beberapa rekomendasi kebijakan dirumuskan secara pragmatis.
Presiden Prabowo Subianto meminta Tim Ekonomi untuk mendorong peningkatan lapangan kerja melalui investasi. (foto: Instagram @sekretariat.kabinet)
Presiden Prabowo Subianto meminta Tim Ekonomi untuk mendorong peningkatan lapangan kerja melalui investasi. (foto: Instagram @sekretariat.kabinet)

Ketiga, kebijakan ekonomi pemerintahan awal ini menghadapi trade-off yang kompleks antara dorongan pertumbuhan jangka pendek dan stabilitas makro jangka menengah.

Pemerintah menempatkan percepatan pertumbuhan sebagai prioritas dan menggunakan instrumen fiskal ekspansif untuk merangsang permintaan domestik.

Paket stimulus fiskal dan program distribusi langsung dapat menurunkan tekanan sosial sesaat dan meningkatkan konsumsi. Namun, langkah-langkah ini juga mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan kerentanan terhadap tekanan inflasi.

Dalam konteks tersebut muncul risiko keretakan koordinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter: apabila kebijakan fiskal yang ekspansif bertabrakan dengan keharusan menjaga stabilitas harga, maka tekanan terhadap independensi otoritas moneter menjadi nyata.

Ketidakjelasan kerangka pembiayaan, dan komunikasi yang kurang rapi antara pembuat kebijakan fiskal serta moneter, dapat menurunkan kredibilitas pengelolaan ekonomi dan menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar.

Keempat, dimensi demokrasi dan kebebasan sipil menjadi ujian penting kualitas pemerintahan. Tahun pertama pemerintahan ini, menyaksikan gelombang protes publik yang mengekspresikan ketidakpuasan terhadap sejumlah kebijakan dan menuntut akuntabilitas.

Respons aparat keamanan terhadap ekspresi publik tersebut—termasuk penggunaan taktik penegakan yang keras dan penahanan massal dalam beberapa kasus—mengangkat pertanyaan tentang keseimbangan antara pemeliharaan ketertiban dan perlindungan hak-hak sipil.

Ketika narasi pembangunan dan stabilitas menjadi prioritas utama, terdapat kecenderungan untuk menempatkan kontrol keamanan sebagai cara meredam kritik. Tapi, kebijakan seperti itu, apabila berulang, berpotensi mengikis ruang partisipasi publik dan mekanisme korektif yang diperlukan untuk pembelajaran kebijakan.

Erosi ruang-ruang demokrasi lokal mempersulit pengawasan publik terhadap kebijakan yang salah arah, dan mengurangi kapasitas masyarakat untuk memberi sinyal perbaikan sejak dini.

Kelima, posisi wakil presiden menimbulkan refleksi tersendiri tentang fungsi formal maupun politiknya dalam presidensi yang kuat.

Wapres hadir sebagai figur yang membawa simbol regenerasi dan kontinuitas politik, tapi peran strategisnya dalam menentukan kebijakan makro belum tampak dominan.

Banyak penugasan yang bersifat representasional dan implementatif—kunjungan daerah, pembukaan program, dan aktivitas-aktivitas yang memperlihatkan kedekatan dengan publik.

Fungsi seperti ini berguna untuk menjaga citra pemerintahan dan merangkul basis elektoral tertentu, namun tidak selalu menunjukkan pengaruh kebijakan di tingkat inti pengambilan keputusan.

Pertanyaan normatif yang muncul adalah apakah jabatan wakil presiden diarahkan untuk memperkuat kapasitas birokrasi dan reformasi institusional, atau cenderung menjadi instrumen manuver politik dan representasi semata.

Dari perspektif kelembagaan, sejumlah risiko struktural perlu mendapat perhatian.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Setahun Prabowo-Gibran, Ganjar: Evaluasi Semua Program Yang Tak Jalan Termasuk Jajaran

Setahun Prabowo-Gibran, Ganjar: Evaluasi Semua Program Yang Tak Jalan Termasuk Jajaran

News | Senin, 20 Oktober 2025 | 19:03 WIB

Demo Mahasiswa Soroti Kinerja 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta

Demo Mahasiswa Soroti Kinerja 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta

Foto | Senin, 20 Oktober 2025 | 18:57 WIB

Setahun Prabowo-Gibran: Kejutan di Sidang Kabinet dan Kode Retret Jilid 2?

Setahun Prabowo-Gibran: Kejutan di Sidang Kabinet dan Kode Retret Jilid 2?

News | Senin, 20 Oktober 2025 | 17:48 WIB

1 Tahun Prabowo-Gibran, Kemensos Klaim 77 Ribu Warga Miskin Sudah Mandiri: Tak Lagi Terima Bansos

1 Tahun Prabowo-Gibran, Kemensos Klaim 77 Ribu Warga Miskin Sudah Mandiri: Tak Lagi Terima Bansos

News | Senin, 20 Oktober 2025 | 17:30 WIB

Terkini

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Opini | Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Opini | Jum'at, 30 Januari 2026 | 16:35 WIB

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 19:05 WIB