Inovasi Urban Farming Keluarga, Agar Peternak Kecil Tidak Tergilas 'Oligarki Ayam'

Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPMGuru Besar Fakultas Peternakan UGM dan Pengurus ARPENAS.

Inovasi Urban Farming Keluarga, Agar Peternak Kecil Tidak Tergilas 'Oligarki Ayam'
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM. (Suara.com/Foto dok. Pribadi)
  • Pemerintah mengalokasikan kredit Rp20 triliun untuk pengembangan peternakan ayam demi mencapai kemandirian pangan nasional.
  • Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, menstabilkan harga, mendukung program makan bergizi, dan mengurangi impor bahan pangan.
  • Program ini memerlukan pengawasan ketat serta prioritas pada peternak kecil dan UMKM untuk menghindari risiko penyimpangan dana.

Suara.com - Pemerintah tengah menyiapkan terobosan dengan menggelontorkan kredit senilai Rp20 triliun dari dana Danantara, khusus untuk pengembangan peternakan ayam.

Suntikan dana masif ini bukan sekadar angka, melainkan amunisi strategis untuk mempercepat terwujudnya mimpi besar menuju kemandirian pangan nasional.

Kebijakan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan pasokan protein hewani bagi masyarakat, terutama dalam mendukung program makan bergizi gratis bagi siswa sekolah.

Dukungan pembiayaan yang besar ini dinilai tepat karena dapat meningkatkan kapasitas produksi peternak, menciptakan lapangan kerja, menstabilkan harga ayam di pasar, serta membantu pelaku usaha kecil yang selama ini terkendala modal.

Jika dijalankan dengan baik, program ini dapat meningkatkan kualitas gizi generasi muda.

Selain itu, program ini juga diperkirakan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan pangan, sehingga menjadi pondasi kuat bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Meskipun terlihat menjanjikan, kebijakan penyediaan kredit Rp20 triliun untuk sektor peternakan ayam juga menimbulkan kekhawatiran.

Besarnya alokasi dana berpotensi menimbulkan risiko jika penyalurannya tidak diawasi secara ketat.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa skema kredit besar sering kali tidak tepat sasaran, cenderung lebih menguntungkan perusahaan besar, dan menyulitkan peternak kecil yang memiliki keterbatasan jaminan serta akses informasi.

Selain itu, fokus yang terlalu besar pada satu komoditas, yaitu ayam, dapat menciptakan ketergantungan dan melemahkan diversifikasi pangan hewani lain seperti ikan, sapi, atau unggas alternatif.

Bila tidak dikelola secara hati-hati, program ini berisiko menimbulkan oversupply, jatuhnya harga di tingkat peternak, serta menambah beban APBN apabila tidak menghasilkan dampak yang signifikan terhadap ketahanan pangan.

Prioritas Perbaikan

Agar program ini berhasil dan memberikan manfaat maksimal, sejumlah langkah perbaikan dapat dipertimbangkan.

Pertama, prioritaskan peternak kecil dan UMKM. Skema kredit harus dirancang inklusif, mudah diakses, dan tidak terlalu membebani peternak kecil dengan persyaratan yang sulit dipenuhi.

Kedua, perkuat sistem pengawasan dan transparansi. Pemerintah perlu memastikan distribusi dana tepat sasaran, dengan mekanisme pelaporan publik dan evaluasi berkala agar anggaran terserap efektif dan bebas dari penyimpangan.

Ketiga, berikan pendampingan teknis dan pelatihan manajemen. Modal saja tidak cukup, peternak perlu peningkatan kapasitas terkait manajemen usaha, kesehatan ternak, teknologi pakan, hingga pemasaran.

Keempat, bangun rantai pasok dan infrastruktur terpadu. Mulai dari pasokan bibit unggul, pakan, fasilitas sapronak, hingga distribusi, agar hasil produksi tidak menumpuk (over supply) dan dapat terserap pasar secara optimal.

Kelima, jaga diversifikasi protein hewani. Meskipun ayam menjadi fokus utama, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan dengan mendukung subsektor pangan lainnya agar ketahanan pangan tetap beragam dan berkelanjutan.

Model Family Urban Farming

Selain pemberian kredit untuk sektor peternakan skala besar, pemerintah juga dapat mendorong model family urban farming, misalnya beternak ayam petelur di lingkungan rumah tangga perkotaan.

Ilustrasi peternak ayam. [Freepik.com/jcomp]
Ilustrasi peternak ayam. [Freepik.com/jcomp]

Program ini dapat dirancang sebagai pola usaha mikro keluarga yang tidak hanya menyediakan sumber protein hewani harian untuk konsumsi sendiri, tetapi juga memberi peluang pendapatan tambahan dari penjualan surplus produksi.

Dengan bantuan modal kecil, bibit unggas yang tersertifikasi, pelatihan teknis, serta pendampingan sanitasi lingkungan, keluarga perkotaan dapat mengelola mini kandang ayam petelur yang higienis, terukur, dan ramah lingkungan.

Hasil produksi yang tidak dikonsumsi dapat dijual melalui koperasi tingkat kelurahan misalnya, sehingga tercipta ekosistem usaha yang saling mendukung antara rumah tangga, koperasi (penyedia Sarana Produksi Peternakan (sapronak) dan pendamping pengelolaan usaha) dan pasar lokal.

Model ini memiliki beberapa manfaat sekaligus, di antaranya:

  1. Memperkuat ketahanan pangan keluarga secara langsung.
  2. Menciptakan sumber penghasilan tambahan dengan risiko usaha rendah.
  3. Memperluas basis produksi pangan nasional hingga ke akar rumput.
  4. Membangun budaya kemandirian dan produktivitas di masyarakat perkotaan.

Dengan pendekatan ini, program kredit Rp20 triliun tidak hanya menguatkan industri peternakan nasional berskala besar, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat level bawah, memperkuat ekonomi keluarga, dan mengurangi ketergantungan terhadap suplai pangan dari luar daerah.

Program ini sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi keluarga dan anak-anak untuk memahami pentingnya kemandirian pangan dan pola konsumsi sehat sejak dini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Industri Pangan dan Chef Profesional Dukung MBG, Pastikan Keamanan dari Hulu ke Hilir

Industri Pangan dan Chef Profesional Dukung MBG, Pastikan Keamanan dari Hulu ke Hilir

Lifestyle | Senin, 24 November 2025 | 16:28 WIB

Tim Koordinasi Lintas K/L Bahas Kebutuhan Ahli Gizi MBG dan Percepatan SLHS

Tim Koordinasi Lintas K/L Bahas Kebutuhan Ahli Gizi MBG dan Percepatan SLHS

News | Sabtu, 22 November 2025 | 14:15 WIB

PERSAGI Siapkan Lulusan Ahli Gizi untuk Perkuat Program Makan Bergizi Gratis

PERSAGI Siapkan Lulusan Ahli Gizi untuk Perkuat Program Makan Bergizi Gratis

News | Sabtu, 22 November 2025 | 14:08 WIB

Presiden Prabowo Usul Menu MBG Telur Ayam Diganti Telur Puyuh, Nutrisinya Lebih Oke Mana?

Presiden Prabowo Usul Menu MBG Telur Ayam Diganti Telur Puyuh, Nutrisinya Lebih Oke Mana?

Lifestyle | Sabtu, 22 November 2025 | 11:15 WIB

Terkini

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Opini | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:05 WIB

Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI

Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI

Opini | Selasa, 26 Mei 2026 | 12:40 WIB

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Opini | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:25 WIB

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Opini | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:44 WIB

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:30 WIB

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 14:00 WIB

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Opini | Senin, 18 Mei 2026 | 11:27 WIB

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Opini | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Opini | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25 WIB

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB