Suara.com - Nissan kini tengah dalam proses finalisasi pembelian saham Mitsubishi. Sembari menunggu, Nissan mengatakan memiliki rencana besar dalam akuisisi ini, salah satunya soal teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) Mitsubishi.
Berbicara di sela-sela pameran Paris Motor Show 2016 yang berlangsung pada 1-16 Oktober, CEO Renault-Nissan Carlos Ghosn, tak sungkan-sungkan menunjukkan ketertarikannya pada teknologi PHEV Mitsubishi, salah satu satu mesin Plug-in Hybrid paling populer di dunia.
"Saat berbicara mengenai pembelian, keahlian kedua pihak, platform, mesin, dan teknologi PHEV, (yang dapat kami lakukan) sangat massif," beber Ghosn seperti dikutip dari Automotive News.
Bukan rahasia lagi jika Ghosn memang kepincut teknologi mesin PHEV Mistubishi. Nissan Leaf boleh saja unggul di pasar mobil listrik global, tetapi pabrikan itu tak punya teknologi mesin listrik hibrida seperti PHEV.
Mitsubishi sendiri punya Outlander PHEV yang merupakan salah satu mobil bermesin plug-in hybrid paling laris di dunia.
PHEV berbeda dari mesin listrik murni seperti pada Nissan Leaf, yang hanya mengandalkan energi dari baterai. PHEV memadukan mesin bahan bakar minyak dengan baterai listrik yang bisa diisi ulang. Dengan PHEV, mobil bisa punya daya jangkau lebih jauh.
"Ada beberapa teknologi yang dimiliki oleh Mitsubishi dan tak dimiliki oleh Renault/Nissan. Contohnya PHEV. Itu yang akan dikembangkan oleh Nissan," kata Ghosn di Australia pada Mei lalu seperit disitat Car Advice.
Tampaknya Nissan dan Renault kini tak perlu repot-repot mengembangkan mesin plug-in hybrid karena proses akuisisi Mitsubishi sebentar lagi rampung. Ghosn sendiri yakin proses pembelian 34 persen saham Mitsubishi akan berjalan lancar. Adapun nilainya mencapai 237 miliar Yen (Rp29,84 triliun).
"Kami tidak melakukannya dan kemudian baru berpikir apa yang bisa kami lakukan. Sejak kami mengumumkan langkah ini, kami telah mengetahui apa yang akan kami lakukan bersama-sama. Sesuatu yang besar antara Nissan dan Mitsubishi, dan mungkin juga bagi Renault serta Mitsubishi," lanjut Ghosn.
Sejak 17 tahun terakhir Nissan telah menjalin aliansi dengan Renault. Pabrikan Jepang dan Prancis ini berkolaborasi dalam pembelian, manajemen, plus riset dan pengembangan kendaraan.
Kini, Renault-Nissan ingin membesarkan aliansi dengan membeli Mitsubishi yang sedang limbung bisnisnya setelah ketahuan memanipulasi data konsumsi bahan bakar minyak di Jepang pada April lalu.
"Mitsubishi akan bergabung dengan aliansi kami. Aliansi kami adalah tentang mengembangkan sinergi. Kami tahu kami memiliki banyak sinergi dengan Mitsubishi dan secara strategis kedua pihak juga memiliki banyak keterhubungan," ucap Ghosn.
Berbekal mesin PHEV Mitsubishi ambisi Ghosn untuk mencaplok pasar lebih besar, khususnya pasar Amerika Serikat, akan lebih mudah tercapai. Ghosn mengatakan bahwa aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi menargetkan masuk dalam kelompok tiga besar produsen mobil terbesar di dunia, dengan penjualan 9-10 juta unit per tahun.