Sistem Pengereman ABS Mampu Tekan Angka Kecelakaan

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Sistem Pengereman ABS Mampu Tekan Angka Kecelakaan
Sistem pengereman ABS pada R2 seperti ditampilkan di IMOS 2018 [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].

Sanggup menjaga kestabilan berkendara dan teknologinya dinilai berdampak positif.

Suara.com - Berdasarkan data yang dikeluarkan Universitas Indonesia (UI), sistem pengereman Anti-Lock Braking System (ABS) untuk kendaraan roda dua (R2) atau sepeda motor diketahui mampu menekan angka kecelakaan hingga 27 persen.

Sedangkan data milik Mabes Polri, angka kecelakaan selama 2017 di Tanah Air untuk sepeda motor tercatat paling banyak, yaitu sebesar 72 persen. Sementara untuk roda empat hanya 11 persen, truk 12 persen, dan bus 1 persen.

“Keselamatan menjadi salah satu tantangan paling mendesak di pasar sepeda motor,” kata Andrew Powell, Managing Director Bosch di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Itu sebabnya mengapa perlu diterapkan pemakaian ABS. Namun mengapa harus ABS?

Menurutnya, sistem ini bisa menjaga kestabilan berkendara saat posisi pengereman, sehingga roda tidak terkunci. Pasalnya cara kerja ABS sendiri umumnya sanggup melakukan pengereman dengan sistem komputer.

Atau dengan kata lain, dalam satu detik saat tuas rem ditekan, sistem ini akan beroperasi dengan menjepit cakram sebanyak 15 kali.

“Kami percaya bahwa implementasi teknologi ini mampu memberikan dampak positif di Indonesia dan membantu menyelamatkan hingga 5.000 jiwa per tahun,” katanya.

Namun, untuk Indonesia sendiri, hingga kini ABS belum menjadi kewajiban bagi produsen dalam menghadirkan produk R2. Di Tanah Air, sistem ini diketahui hanya bisa ditemui pada segmen motor tertentu saja.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS