Era Revolusi Industri 4.0, SMK di Kudus Kembangkan KBL

RR Ukirsari Manggalani
Era Revolusi Industri 4.0, SMK di Kudus Kembangkan KBL
Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (kiri) mencoba mobil listrik peserta Jambore Kendaraan Listrik Nasional saat singgah di kantor PLN Solo, Jawa Tengah, Kamis (29/8/2019). Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menggelar Jambore Kendaraan Listrik Nasional dengan berkeliling mengendarai purwarupa mobil listrik karya anak bangsa dari ITS Surabaya menuju Jakarta. Sebagai ilustrasi mobil listrik [ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/wsj].

Kerennya, sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kudus kembangkan Kendaraan Bermotor Listrik.

Suara.com - Era Kendaraan Bermotor Listrik atau KBL tengah bergulir, dan kesiapan masyarakat menuju era bermotor atau bermobil tanpa menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) terus menggeliat. Pihak-pihak akademisi di Tanah Air pun menyikapinya dengan temuan berbagai purwarupa keren sekaligus efisien.

Salah satunya adalah SMK NU Ma'arif Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dikutip dari kantor berita Antara, sekolah menengah kejuruan ini mencoba mengembangkan mobil listrik sebagai salah satu bentuk pembelajaran bagi siswa di sekolah dalam menyongsong era Revolusi Industri 4.0. Serta mendukung komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan industri mobil listrik di dalam negeri.

Mobil bertenaga listrik karya SMK NU Ma'arif Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dengan menggunakan framework produk Eropa [ANTARA Foto/Antaranews.com].
Mobil bertenaga listrik karya SMK NU Ma'arif Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dengan menggunakan framework produk Eropa [ANTARA Foto/Antaranews.com].

"Kami ingin menyiapkan siswa didik di SMK NU Ma'arif siap menghadapi era revolusi industri, salah satunya terkait keinginan pemerintah mewujudkan kendaraan bertenaga listrik yang lebih ramah lingkungan," demikian papar Masrukin, Kepala Jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) di Kudus, Selasa (15/10/2019).

Adapun projek mobil listrik ini juga tindak lanjut amanat dari Direktorat Kementerian Pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sekolah dengan model STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Dalam membuat mobil listrik, demikian paparnya, pihaknya melibatkan guru dan siswa dari berbagai jurusan, mulai guru matematika, fisika, kimia, dan teknik gambar desain karena model STEM.

"Kami melibatkan kelas industri, mekanikel, serta elektrikel secara bergiliran yang dibagi per kelompok untuk menyelesaikan proyek pengembangan mobil listrik ini," jelas Masrukin.

Dikarenakan masih dalam tahap riset, mobil yang sudah bisa dioperasikan itu masih menggunakan baterai basah dan belum menggunakan baterai kering yang tetap bisa diisi ketika energi listriknya benar-benar habis.

"Untuk sementara, kecepatan mobil listrik yang menggunakan bodi mobil hatchback keluaran Eropa ini, hanya berkisar 60 km per jam. Namun masih bisa ditingkatkan hingga kecepatan 100 km per jam," imbuh Masrukin seraya menyatakan bahwa tenaga si mobil mencapai 75 daya kuda.

Rencananya, pihak SMK NU Ma'arif akan membuat beberapa unit mobil listrik, guna kepentingan mobilisasi sekolah serta tidak menutup kemungkinan untuk masyarakat sekitar.

Berbicara soal biaya perakitan mobil listrik, diperkirakan menghabiskan anggaran hingga Rp 60-an juta dengan pemanfaatan baterai kering, sedangkan menggunakan baterai jenis lithium bisa mencapai Rp 100 juta.

"Jangka panjang juga akan dilengkapi panel solar cell di atas mobil untuk memenuhi sebagian pengisian baterai," tukas Masrukin.

Kelak juga akan dibuatkan charging station agar baterai tahan lama. Dan untuk menyelesaikan projek mobl itu sendiri dibutuhkan satu bulan, sedangkan untuk risetnya hingga beberapa bulan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS