alexametrics

Hasil Penelitian: Musik Mampu Menenangkan Jantung Saat Berkendara

RR Ukirsari Manggalani
Hasil Penelitian: Musik Mampu Menenangkan Jantung Saat Berkendara
Ekspresi stres saat menyetir. Sebagai ilustrasi (Shutterstock)

Stres, suasana macet, sampai lalu lintas semrawut bisa berpengaruh pada jantung.

Suara.com - Kondisi jalan raya tidak bisa diduga dan berpotensi membuat stres pengemudi mobil. Terjebak dalam situasi lalu lintas padat dan semrawut, atau tidak berpengalaman menyetir di kawasan macet bisa menjadi pemicu perasaan tertekan atau tegang.

Stres bisa berakibat buruk bagi jantung. Pakar menunjukkan hasil penelitian bahwa kondisi buruk saat berkendara ini bisa dihindari dengan mendengarkan musik.

Dikutip dari Medical News Today, hasil penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis dapat menjadi faktor risiko yang signifikan untuk penyakit kardiovaskular. Serangan ini terjadi pada pengemudi berusia 20 tahunan di Amerika Serikat.

Ilustrasi Macet. (pexels.com/@aayushsri)
Ilustrasi macet dan semrawut lalu lintas  (pexels.com/@aayushsri)

Salah satu sumber stres yang paling banyak ditemukan adalah stres saat mengemudi karena lalu lintas padat atau kecemasan akibat belum memiliki jam terbang banyak, alias belum berpengalaman.

Baca Juga: Kakek Sakit Jantung Akut Gagal Nonton Event Kendaraan Tua, Aksi Klub Mobil Ini Bikin Salut

Berdasar hasil penelitian yang dimuat di jurnal Complementary Therapies in Medicine, bagi pengemudi minim pengalaman penyetir diberikan saran. Yaitu mendengarkan musik saat mengemudi untuk membantu menghilangkan stres yang mempengaruhi kesehatan jantung.

Peneliti utama Vitor Engrácia Valenti mengatakan bahwa tim peneliti menemukan stres jantung pada responden berkurang lewat kegiatan mendengarkan musik saat mengemudi.

Sampel diambil dari lima perempuan berusia 18 - 23 tahun. Mereka dalam kondisi sehat, tidak mengemudi lebih dari dua kali seminggu, dan sudah mengantongi Surat Izin Mengemudi atau SIM antara satu hingga tujuh tahun sebelum ikut serta dalam peneltian.

"Kami memilih untuk observasi kaum Hawa yang bukan pengemudi biasa, karena orang yang sudah biasa mengemudi dan memiliki SIM untuk waktu lama sudah lbih beradaptasi dengan situasi stres dalam lalu lintas," demikian alasan Vitor Engrácia Valenti.

Pemilihan dari sampel berjenis kelamin perempuan juga karena peneliti ingin mengesampingkan potensi pengaruh hormon khusus jenis kelamin. Diketahui bahwa hormon testosteron lelaki lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Baca Juga: Australia Kembangkan Sistem Mengemudi Terhubung untuk Tingkatkan Kewaspadaan

Para responden diberi jadwal untuk berkendara selama 20 menit pada jam sibuk dengan rute 3 km di salah satu bagian tersibuk kota Marilia, Brasil.

Mobil pengetesan bukan milik pribadi, dan sengaja diberikan mobil baru untuk menimbulkan rasa ketidaknyamanan.

Hari pertama tes, tidak diperbolehkan mendengarkan musik, sedangkan hari berikutnya dengan rute dan keadaan yang sama peserta diharuskan mendengarkan musik.

Para peneliti kemudian menganalisis pengukuran yang telah mereka kumpulkan melalui monitor detak jantung pada dua kesempatan.

Hasilnya, relawan yang mendengarkan musik saat mengemudi dalam kondisi stres memiliki detak jantung lebih teratur daripada saat mengemudi dalam kondisi stres tanpa musik.

Lewat hasil percobaan ini para peneliti berpendapat, bahwa mendengarkan musik santai bisa menjadi cara mencegah stres yang meningkat dan mempengaruhi jantung.

Hanya perlu dipertimbangkan pula, sebaiknya tidak menggunakan headset agar masih bisa mendengar situasi lalu lintas di luar kendaraan.

Kathy Puteri Utomo

Komentar