- Motor Yamaha RX-King, dijuluki "Raja Jalanan", bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah meskipun produksi berhenti sejak 2009.
- Performa mesin 135 cc dengan YEIS menghasilkan akselerasi kuat, namun menawarkan kenyamanan berkendara harian yang santai.
- Generasi RX-King Master 1999 populer karena striping khasnya dan komunitas solid yang mempertahankan daya tarik motor ini.
Suara.com - Motor Yamaha RX-King tengah menjadi sorotan setelah kabar aktor Gary Iskak meninggal dunia akibat kecelakaan naik motor lawas tersebut.
Tak bisa dipungkiri, Yamaha RX-King yang biasanya dijuluki sang "Raja Jalanan" ini memang masih banyak dicari, terutama untuk pecinta motor seperti Garry Iskak.
Alih-alih menjadi rongsokan besi tua, motor 2-tak legendaris ini malah bermetamorfosis menjadi "harta karun" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, produksinya sudah berhenti sejak 2009 silam.
Lantas, apa yang bikin motor boros bensin ini punya daya pikat magis yang bikin kolektor rela merogoh kocek dalam-dalam?
1. "Jambakan Setan" yang Bikin Candu
Di balik desainnya yang sederhana dan old school, tersimpan mesin 135 cc yang performanya sering disebut bikers sebagai "jambakan setan" pada motor RX King.
![Ilustrasi Yamaha RX King. [ChatGPT]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/03/86205-yamaha-rx-king.jpg)
Berbeda dengan motor 4-tak zaman now yang halus, RX-King dibekali teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS). Fitur ini bikin tenaganya melimpah ruah di setiap putaran mesin.
Bayangkan saja, motor tua ini mampu memuntahkan tenaga 18,5 PS pada 9.000 rpm. Dengan bodi yang enteng dan karburator Mikuni 26 mm, sedikit pelintiran pada grip gas bisa bikin RX-King "menghilang" dari pandangan mata dalam sekejap. Tak heran jika ia dijuluki Jet Darat.
2. Lebih Nyaman dari Ninja
Meski kencang, RX-King ternyata juara soal kenyamanan berkendara harian (daily use).
Jika dibandingkan dengan rival seangkatannya seperti Suzuki RGR 150 atau Kawasaki Ninja R 150 yang punya desain full fairing ala sirkuit, RX-King jauh lebih manusiawi.
Posisi duduk di RGR atau Ninja yang nunduk bikin pinggang gampang pegal kalau dipakai blusukan di jalanan macet.
Sebaliknya, RX-King menawarkan posisi berkendara tegak yang santai namun sigap. Apalagi ban profil tebal ring 18 inci, jalanan aspal rusak atau tanah bergelombang pun bisa disikat tanpa ampun.
3. Misteri RX-King Master 1999 dan Aura "Bad Boy"
Sejarah mencatat evolusi panjang sang Raja, mulai dari generasi "Cobra" (1983) hingga generasi terakhir yang terganjal regulasi emisi Euro 3.
Namun, ada satu era yang cukup ikonik, yakni RX-King Master (1996-2001).
Generasi ini punya ciri khas mesin yang sudah diproduksi di Indonesia. Salah satu yang paling dicari kolektor dan sempat viral dibahas di media sosial adalah RX-King Master tahun 1999.
Sebab, model tahun ini memiliki striping warna yang khas, yakni hijau, merah, dan ungu. Varian dengan striping hijau sering dikaitkan dengan aura maskulin yang kental.
4. Menolak Punah di Tengah Gempuran Skutik
Meski Yamaha sudah berhenti berinovasi pada motor ini, faktanya di jalan raya masih banyak orang yang naik motor lawas ini.
Bahkan, komunitas RX-King adalah salah satu yang paling solid. Solidaritas ini yang membuat harga bekasnya gelap dan tak masuk akal. Isu boros bensin dan asap ngebul seolah tak berarti dibanding sensasi akselerasi dan nilai sejarahnya.