- Penjualan mobil listrik naik berkat insentif pemerintah, namun keberlanjutan adopsi terancam saat subsidi dicabut.
- Pembeli saat ini didominasi early adopters mapan; pasar perlu menjangkau segmen early majority lebih luas.
- Tantangan utama adalah persepsi depresiasi nilai jual kembali yang membuat masyarakat enggan membeli mobil listrik.
Suara.com - Tren penjualan mobil listrik di Indonesia menunjukkan grafik yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan angka penjualan ini tidak lepas dari peran aktif pemerintah yang menggelontorkan berbagai kebijakan insentif dan subsidi. Langkah tersebut dinilai efektif dalam menstimulus pasar otomotif tanah air yang mulai melirik teknologi elektrifikasi. Namun, situasi ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai keberlanjutan adopsi kendaraan ramah lingkungan tersebut apabila keran subsidi ditutup di masa depan.
Research Associate ID COMM, Inu Machfud, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Ia menilai bahwa insentif yang ada saat ini berfungsi sebagai pemicu awal, namun belum tentu menjamin loyalitas pasar jangka panjang tanpa bantuan pemerintah.
“Kebijakan ini sifatnya menciptakan momentum untuk market. Momentum untuk orang yang ingin beli mobil listrik. Tapi ternyata yang membeli justru bukan segmen pengguna mobil Rp200 jutaan. Yang beli adalah mereka yang punya affordability lebih,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Analisis tersebut mengindikasikan bahwa konsumen kendaraan listrik saat ini masih didominasi oleh kelompok early adopters. Profil pembeli di segmen ini umumnya adalah masyarakat yang melek teknologi, mapan secara finansial, dan menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan tambahan, bukan satu-satunya aset transportasi. Agar ekosistem ini bertahan, pasar harus bisa menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas atau early majority.
“Artinya kalau mau sustain, pasar harus bergeser dari early adopters ke early majority. Maka dari itu PR nya adalah bagaimana menembus segmen yang lebih luas,” katanya.
Tantangan terbesar untuk menembus pasar massal adalah pola pikir masyarakat Indonesia yang masih menganggap mobil sebagai aset investasi. Depresiasi harga atau penurunan nilai jual kembali mobil listrik bekas yang drastis menjadi momok tersendiri bagi calon konsumen.
“Harga jual mobil listrik jatuh banget. Bahkan, banyak responden bilang mobil listrik akan dipakai “sampai habis”, bukan dijual. Padahal bagi masyarakat, mobil itu bukan cuma alat transportasi tapi juga aset,” tambahnya.
Kendati demikian, mobil listrik memiliki keunggulan kompetitif dari sisi efisiensi biaya harian yang jauh lebih hemat dibandingkan mobil konvensional. Inu memaparkan data perbandingan biaya operasional antara Toyota Yaris dan Wuling Binguo yang cukup mencolok.
“Yaris itu setahun total bensin, servis, pajak sekitar Rp35 juta. Sementara Wuling Binguo, dipakai 1,5 tahun totalnya cuma Rp5 juta. Edukasi seperti ini penting supaya market yang lebih luas bisa meng-absorb,” ujarnya.
Di sisi lain, peneliti ID COMM, Claudius Surya, menekankan bahwa faktor fundamental ekonomi makro tidak bisa diabaikan. Keberhasilan transisi ke kendaraan listrik tanpa subsidi sangat bergantung pada kemampuan dompet masyarakat.
“Supaya sustainable tanpa subsidi, daya beli kita harus naik dulu. Kalau daya beli nggak naik, nggak bakal sustainable,” katanya.
Claudius menyoroti fakta bahwa mobil paling laris di Indonesia masih berada di kisaran harga Rp200 juta. Hal ini berbeda dengan pasar negara maju di mana standar mobil terlaris sudah berada di angka Rp300 juta hingga Rp400 juta.