- Presdir BYD Indonesia, Eagle Zhao, berharap pemerintah melanjutkan insentif mobil listrik pada 2026 untuk jaga momentum pertumbuhan pesat.
- BYD akan meresmikan pabrik di Subang akhir 2025, dan insentif diperlukan mendukung ekspansi agresif di luar Jabodetabek 2026.
- Penjualan EV nasional naik signifikan dari 2% (2024) ke 12% (2025), pencapaian ini dinilai memerlukan dukungan berkelanjutan pemerintah.
Suara.com - Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao berharap pemerintah kembali memberikan insentif untuk mobil listrik di tahun 2026. Ia mengatakan insentif diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar EV Indonesia yang sedang pesat-pesatnya.
Eagle, dalam media gathering di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (11/12/2025) juga mengatakan pihaknya akan membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih lengkap di Indonesia pada 2026 dan insentif dibutuhkan untuk mendukung rencana tersebut.
"Kami berharap ada insentif di tahun 2026 untuk menjaga momentum di pasar EV," kata Eagle.
Momentum yang dimaksud Eagle adalah pertumbuhan pesat penjualan mobil listrik di Indonesia dalam dua tahun terakhir.
Ia mengungkap data bagaimana penjualan mobil listrik di Tanah Air naik dari hanya 2 persen di 2024 menjadi 12 persen di 2025. Capaian yang disebut ajaib oleh BYD ini, menurut Eagle, tak bisa dicapai tanpa sokongan pemerintah, termasuk insentif.
Lebih lanjut ia menekankan pentingnya insentif diberikan di awal tahun 2026, sesuai dengan rencana BYD untuk meresmikan pabriknya di Subang pada akhir tahun.
"Kami akan meresmikan pabrik di akhir 2025 dan akan beroperasi pada Kuartal I tahun depan," ungkap dia.
Insentif, kata Eagle, juga penting karena tahun depan BYD berencana berekspansi agresif di luar Jabodetabek. Ia mengatakan dalam dua tahun terakhir, penjualan mobil listik masih fokus di area Jakarta dan sekitarnya.
"Kami akan berekspansi di luar Jabodetabek pada 2026," tegas Eagle.
Baca Juga: BYD Perkuat Peran Strategis dalam Mendorong Pertumbuhan Industri Otomotif di GJAW 2025
Untuk mewujudkan rencana itu, BYD dan Denza akan membuka lebih banyak dealer di luar Jabodetabek pada tahun depan, dengan target 150 dealer. Hingga akhir 2025, BYD dan Denza sudah membuka 80 dealer.
Selain itu Eagle juga mengingatkan pemerintah bahwa kondisi pasar otomotif Indonesia sedang tidak baik-baik saja dalam dua tahun terakhir. Sehingga insentif masih sangat diperlukan untuk mendorong tumbuhnya pasar.
BYD sendiri telah menjual 47.300 unit di Indonesia sepanjang Januari - November 2025, dengan market share 57 persen di pasar mobil listrik.
"Semua capaian ini tidak akan akan bisa terwujud tanpa bantuan dari pemerintah," harap Eagle.
Permintaan Eagle disampaikan ketika pemerintah belum satu suara soal insentif untuk industri otomotif tahun 2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita belum lama ini mengatakan tahun depan pemerintah mengatakan akan memberikan insentif untuk industri otomotif. Agus bilang, industri otomotif terlalu penting untuk dibiarkan berjuang sendirian.