Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Di Balik Laju Mobil Listrik, Bagaimana Adopsinya di Indonesia?

Fabiola Febrinastri, RR Ukirsari Manggalani

Kamis, 11 Desember 2025 | 12:00 WIB
Di Balik Laju Mobil Listrik, Bagaimana Adopsinya di Indonesia?
(Dok: ID COMM)

Suara.com - Diana, bukan nama sebenarnya, belakangan ini memulai pagi dengan kebiasaan baru. Sebelum matahari terbit, ia rutin mengecek dan mengisi baterai mobil listriknya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan ketika masih mengandalkan mobil berbahan bakar fosil. “Sejak memiliki mobil listrik, saya menjadi disiplin,” ujarnya.

Di tempat lain, Bobby juga membangun kebiasaan baru. Dengan mobilitas kerja yang tinggi, ia kini memasukkan perencanaan rute ke dalam rutinitas hariannya seperti menghitung kebutuhan daya, memastikan titik SPKLU, dan menghindari kejutan kehabisan baterai di tengah jalan. Baginya, beralih ke mobil listrik bukan sekadar mencoba teknologi baru, tetapi mengatur ulang cara ia mengelola waktu dan perjalanan.

Keduanya merupakan contoh dari kelompok early adopter (pengadopsi awal) mobil listrik di Indonesia. Mereka berani mengambil risiko, menjadi pelopor, serta bersedia merombak kebiasaan harian demi sebuah inovasi. Perubahan perilaku konsumen seperti ini terjadi di tengah pasar yang bergerak cepat.

Namun di tengah tren positif tersebut, pemerintah justru tengah mempertimbangkan penghentian insentif bagi industri otomotif karena menilai sektor ini sudah cukup kuat. Jika kebijakan ini diterapkan, harga mobil listrik dan mobil hybrid bisa melonjak tanpa sokongan fiskal, khususnya bagi yang belum memenuhi syarat tingkat komponen dalam negari (TKDN) minimal 40 persen. Meski begitu, keputusan belum final. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut insentif akan dihentikan pada 2026, sementara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berpendapat pemerintah justru perlu menyiapkan insentif untuk tahun depan.

Data menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik melonjak, menguasai 18,27% pangsa pasar pada 2025. Investasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pun menembus Rp 5,66 triliun tahun ini. Dalam tiga tahun terakhir, penjualan mobil listrik berkembang signifikan. Menurut GAIKINDO, jumlah battery electric vehicle (BEV) naik dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024, dan sudah menembus 51.191 unit hanya dalam delapan bulan pertama 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah target ambisius pemerintah untuk mencapai 2 juta unit mobil listrik pada 2030 sebagai bagian dari agenda transisi energi nasional.

Namun, kondisi pasar yang masih didominasi oleh early adopter dan sebagian early majority (pengikut dini) menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat umum masih terbatas dan membutuhkan dukungan lebih kuat agar pasar dapat berkembang lebih luas.

Riset ID COMM, sebuah firma PR berbasis isu SDGs, menunjukkan bahwa adopsi mobil listrik di Indonesia masih digerakkan oleh pertimbangan ekonomi, mulai dari hematnya biaya operasional hingga adanya insentif fiskal. Penggunanya pun didominasi kalangan menengah atas di wilayah urban yang sebelumnya telah memiliki mobil konvensional. Melalui laporan Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap, riset ini memetakan hambatan dan peluang utama dalam adopsi mobil listrik sebagai masukan strategis bagi para pemangku kepentingan. Temuan ini menegaskan bahwa pertumbuhan pasar tidak hanya ditentukan oleh dorongan kebijakan, tetapi juga bergantung pada bagaimana ekosistem mampu menjawab kebutuhan dan kekhawatiran konsumen.

Di balik upaya pemerintah dalam mendorong percepatan program bermotor listrik itu, terdapat dinamika lain yang tidak kalah penting yaitu kesiapan ekosistem dan kepercayaan publik.

Kebijakan pemerintah

baca juga

Terlepas dari pertimbangan untuk mencabut insentif mobil listrik dan mobil hybird, terutama kategori completely built up (CBU) tahun depan, kebijakan kendaraan listrik di Indonesia berkembang sejak 2019, bergerak dari tahap perintisan menuju penguatan ekosistem. Perpres No. 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai menjadi pijakan awal percepatan program kendaraan listrik, yang kemudian diperkuat oleh berbagai aturan turunan di tingkat kementerian hingga pemerintah daerah.

Secara umum, regulasi-regulasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. Untuk membaca arah kebijakan secara utuh, tim riset juga memetakan regulasi di sepanjang rantai pasok industri mobil listrik, yaitu mulai dari penambangan bahan baku hingga daur ulang komponen.

Keseluruhan kebijakan tersebut dirancang untuk membangun sistem kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mencakup aspek fiskal, industri, infrastruktur, hingga pengelolaan akhir masa pakai. “Kebijakan menjadi simpul yang menghubungkan pemerintah, swasta, dan masyarakat, sehingga tidak hanya berperan sebagai alat pengatur, tetapi juga katalis yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi yang adaptif bagi kebutuhan sosial dan ekonomi,” menurut studi ID COMM.

Wawancara dengan pemilik mobil listrik menunjukkan bahwa keputusan membeli tidak hanya didorong faktor ekonomi, seperti hemat biaya operasional, tetapi juga motivasi sosial dan emosional. Banyak responden merasa bangga menjadi pengguna awal dan menikmati pengalaman berkendara yang lebih halus, senyap, dan modern. Meski demikian, mereka masih menghadapi sejumlah kekhawatiran, mulai dari jarak tempuh dan ketersediaan SPKLU hingga layanan purnajual.

Suara konsumen

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian mobil listrik. Menurut riset ini, hal yang paling menentukan adalah aspek ekonomi dimana biaya operasional jauh lebih hemat, terutama bagi konsumen dengan mobilitas tinggi. Insentif pajak juga memperkuat minat karena pajak tahunan mobil listrik jauh lebih rendah, yaitu sekitar Rp150.000.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BCA Syariah WEpreneur Summit 2025: Dukung UMKM Perempuan Berdaya, Tumbuh, dan Memimpin

BCA Syariah WEpreneur Summit 2025: Dukung UMKM Perempuan Berdaya, Tumbuh, dan Memimpin

Bisnis | Senin, 08 Desember 2025 | 19:00 WIB

OVO Tutup 2025 dengan Pertumbuhan Positif, Perluas Akses Inklusi Keuangan bagi Pengguna dan UMKM

OVO Tutup 2025 dengan Pertumbuhan Positif, Perluas Akses Inklusi Keuangan bagi Pengguna dan UMKM

Bisnis | Rabu, 03 Desember 2025 | 19:44 WIB

Rumah BUMN Telkom Dorong Digitalisasi UMKM Pekalongan Naik Kelas dengan Teknologi AI

Rumah BUMN Telkom Dorong Digitalisasi UMKM Pekalongan Naik Kelas dengan Teknologi AI

Bisnis | Rabu, 03 Desember 2025 | 11:30 WIB

BRI Rilis Indeks Bisnis UMKM Q3-2025, Kinerja UMKM Tetap Ekspansif

BRI Rilis Indeks Bisnis UMKM Q3-2025, Kinerja UMKM Tetap Ekspansif

Bisnis | Selasa, 02 Desember 2025 | 23:07 WIB

BRI x SOGO Resmi Luncurkan UMKM Corner: Dorong Produk Lokal Masuk ke Pasar Modern

BRI x SOGO Resmi Luncurkan UMKM Corner: Dorong Produk Lokal Masuk ke Pasar Modern

Bisnis | Jum'at, 28 November 2025 | 21:00 WIB

Faber Instrument Hadirkan Inovasi Audio Kayu Jati Melalui Ekosistem BRI UMKM EXPO(RT)

Faber Instrument Hadirkan Inovasi Audio Kayu Jati Melalui Ekosistem BRI UMKM EXPO(RT)

Bisnis | Selasa, 25 November 2025 | 21:38 WIB

Terkini

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Health | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:54 WIB

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat,  Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:50 WIB

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Bola | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:42 WIB

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:34 WIB

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:31 WIB

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:07 WIB

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:38 WIB

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Jatim | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:30 WIB

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Sumbar | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:24 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Lampung | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:19 WIB

×