- Oli CVT krusial untuk transmisi mobil modern karena berfungsi menjaga komponen, mendinginkan, serta memastikan kerja sabuk dan pulley optimal.
- Oli pabrikan (OEM) menjamin kompatibilitas dan menjaga garansi, meskipun harganya cenderung mahal dan ketersediaannya terbatas.
- Oli after market menawarkan harga lebih kompetitif namun memerlukan kehati-hatian dalam pemilihan agar sesuai spesifikasi mobil.
Suara.com - Transmisi CVT (Continuously Variable Transmission) semakin populer di mobil-mobil modern karena menawarkan kenyamanan berkendara yang halus dan efisiensi bahan bakar lebih baik.
Namun, di balik keunggulannya, CVT juga dikenal sensitif terhadap perawatan, terutama soal oli. Pertanyaan yang sering muncul di kalangan pengguna adalah: apakah aman mengganti oli CVT dengan produk after market, atau sebaiknya tetap menggunakan oli bawaan pabrikan?
Topik ini penting karena oli CVT bukan sekadar pelumas biasa. Fungsinya menjaga gesekan antar komponen, mendinginkan transmisi, sekaligus memastikan sabuk baja dan pulley bekerja optimal.
Salah memilih oli bisa berakibat fatal, mulai dari gejala slip, tarikan berat, hingga kerusakan transmisi yang biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Di pasaran, pilihan oli CVT cukup beragam. Ada yang berasal langsung dari pabrikan mobil (OEM), ada juga produk after market dari merek pelumas ternama. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami sebelum memutuskan.
Oli CVT Pabrikan

Oli bawaan pabrikan biasanya dirancang khusus sesuai spesifikasi transmisi mobil. Misalnya, Honda punya HCF-2, Toyota dengan CVT Fluid TC/FE, atau Nissan dengan NS-3. Keunggulannya jelas: kompatibilitas terjamin, risiko kerusakan minim, dan garansi kendaraan tetap aman.
Namun, harga oli pabrikan relatif lebih mahal. Selain itu, ketersediaannya kadang terbatas di bengkel resmi. Bagi sebagian pengguna, ini bisa jadi kendala, terutama jika mobil sudah berusia lebih dari 10 tahun dan garansi tidak lagi berlaku.
Baca Juga: 3 Beda Mendasar CVT vs AT untuk Atasi Kebingungan Calon Pembeli Mobil Matic
Produk after market hadir sebagai alternatif dengan harga lebih kompetitif. Beberapa merek pelumas global seperti Idemitsu, Motul, atau Castrol menawarkan oli CVT yang diklaim kompatibel dengan berbagai merek mobil.
Keunggulannya, lebih mudah ditemukan di toko pelumas umum, dan sering kali punya teknologi aditif tambahan untuk menjaga suhu transmisi tetap stabil.
Meski begitu, risiko tetap ada. Tidak semua oli after market benar-benar cocok dengan spesifikasi CVT tertentu. Jika salah pilih, performa transmisi bisa menurun.
Toms Racing sempat mempublikasikan karakter oli CVT pada banyak jenis kendaraan berdasarkan oli bawaan pabriknya. Anda bisa mengecek kadar viskositas oli bawaan pabrik untuk kemudian mencari alternatifnya di aftermarket (klik di sini).
Kanal Youtube Everyman Driver juga mengungkap bahwa oli CVT tidak semuanya bisa saling subtitusi sehingga perlu mengecek spesifikasi.
Karena itu, penting memastikan oli after market yang digunakan memiliki sertifikasi atau rekomendasi resmi untuk mobil yang dimiliki.