- Agrinas berencana mengimpor ratusan ribu unit pikap asal India untuk kebutuhan Koperasi Merah Putih.
- Jumlah dealer resmi Tata Motors dan Mahindra di seluruh Indonesia ternyata masih sangat terbatas.
- Keterbatasan dealer mengindikasikan bahwa perawatan kendaraan kemungkinan besar menggunakan sistem servis internal atau fleet.
Suara.com - Masuknya 105.000 unit kendaraan niaga asal India—terdiri dari Tata Yodha, Tata Ultra, dan Mahindra Scorpio—untuk Koperasi Merah Putih memang memicu euforia berkat harganya yang murah dan sasisnya yang "badak".
Namun, ada satu pertanyaan kritis yang langsung muncul di benak para pencinta otomotif: "Bagaimana dengan jaringan servis dan ketersediaan suku cadangnya?"
Jika kita melihat kebiasaan konsumen Indonesia, jaringan diler (3S: Sales, Service, Sparepart) adalah kunci utama sebelum membeli kendaraan operasional.
Sayangnya, infrastruktur retail kedua pabrikan India ini di Tanah Air ternyata sangat terbatas.

Berdasarkan data resmi dari situs Tata Motors Indonesia, saat ini mereka hanya memiliki 9 titik diler resmi yang tersebar di seluruh Indonesia. Titik-titik tersebut meliputi:
- Jakarta Pusat (PT Jawa Indie Motor)
- Jakarta Utara (PT Citabaja Auto Mobil)
- Jakarta Timur (PT Wratama Indo Nusantara)
- Bandung (PT Pratama Transindo Bandung)
- Banyumas (PT Nugraha Prospera Indonesia)
- Semarang (PT Mulia Tata Lestari)
- Lampung Selatan (PT Simpur Mobil Lampung)
- Kubu Raya, Kalimantan Barat (PT Auto Griya Handal Mandiri)
- Balikpapan, Kalimantan Timur (PT Pratama Wana Motor)
Setali tiga uang, Mahindra Indonesia yang berada di bawah naungan RMA Group juga terpantau memiliki jaringan diler yang terbilang eksklusif. Melansir laman resminya, Mahindra hanya mencantumkan 5 diler/bengkel resmi, yaitu:
- Bandung (PT Pratama Transindo - 3S)
- Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (PT CMP Motor Sport - 3S)
- Bandung (PT Saluyu Motor - 2S)
- Jambi (Macchindo Service - 2S)
- Samarinda, Kaltim (PT Istana Tujuh Sukses - 2S)
Terjawab Sudah Mengapa Hanya Untuk "Plat Merah" & Koperasi
Total keseluruhan bengkel resmi kedua pabrikan ini di Indonesia bahkan tidak sampai 15 lokasi. Membawa masuk 105.000 unit kendaraan untuk diservis di belasan bengkel jelas merupakan hal yang mustahil jika mobil ini dijual secara retail kepada masyarakat umum (B2C).
Namun, dari sinilah strategi pengadaannya menjadi masuk akal.
Baca Juga: Ingat Pabrikan India Pemasok Kopdes Viral? Kini Rilis Mobil Listrik Rp120 Jutaan dengan Skema Unik
Karena didatangkan murni untuk operasional instansi pemerintah, BUMN, dan Koperasi Merah Putih (skema Fleet/B2B), perawatan kendaraan (servis berkala) kemungkinan besar tidak akan mengandalkan diler publik.
Biasanya, pengadaan kendaraan fleet dalam jumlah masif seperti ini sudah sepaket dengan skema Fleet Management. Artinya, pihak Agrinas, Tata Motors, atau Mahindra akan mendirikan pusat maintenance internal (bengkel khusus) langsung di titik-titik lokasi (site) operasional kendaraan tersebut, lengkap dengan pasokan suku cadang fast-moving yang dikirim langsung dari pabrik.
Selain itu, filosofi mesin Tata Yodha dan Mahindra Scorpio yang berteknologi konvensional (Less electronics, more mechanics) membuatnya jauh lebih mudah ditangani oleh mekanik bengkel internal koperasi tanpa memerlukan alat pemindai komputer (scanner) yang rumit.
Jadi, bagi masyarakat umum yang "ngiler" ingin membeli Tata Yodha 4x4 seharga Rp170 jutaan ini untuk kendaraan pribadi, rasanya Anda harus gigit jari. Mobil-mobil ini datang murni untuk menjadi "Kuda Pekerja" andalan negara, bukan untuk mejeng di jalanan kota!