- Dubes Iran menggunakan sedan mewah BMW Seri 7 G70 saat menemui tokoh Jusuf Kalla.
- BMW G70 tawarkan varian bensin 735i M Sport dan mobil listrik murni i7 xDrive60.
- Kenyamanan paripurna kabin Seri 7 menjadi ironi di tengah eskalasi konflik panas Timur Tengah.
Ironi Kesenyapan Kabin dan Ledakan Rudal
Ironisnya, kesenyapan level dewa dan kenyamanan paripurna di dalam kabin BMW Seri 7 ini berbanding terbalik dengan situasi "bising" nan tragis yang melanda tanah air sang Dubes.
Di balik kaca kedap suara itu, Dubes Boroujerdi membawa beban yang sangat berat.
Pertemuannya dengan JK membahas peluang Indonesia, dan kesiapan Presiden Prabowo Subianto, untuk menjadi penengah dalam perang terbuka yang baru saja meledak antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Timur Tengah berubah menjadi lautan api usai Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, yang segera disusul operasi tempur militer AS pimpinan Donald Trump.
Rentetan tujuh roket dikabarkan menghantam Teheran. Buntutnya, pada 1 Maret 2026, Iran mengonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah masa berkabung 40 hari, Iran meluncurkan serangan balasan ke berbagai titik di kawasan Teluk, memakan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak sekolah.
Dalam laporannya yang pilu kepada JK, Dubes Iran berharap ada jalan tengah. JK pun merespons bahwa Presiden Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog damai, asalkan ada lampu hijau dari kubu-kubu yang berseteru.
Pada akhirnya, sebuah mobil tak lagi sekadar alat mobilitas. Bagi seorang diplomat di tengah krisis dunia yang di ambang Perang Dunia Ketiga, kabin BMW Seri 7 G70 yang super nyaman ini mungkin menjadi satu-satunya "ruang aman" tersisa.
Tempat yang paling tenang untuk merenungkan strategi, sebelum pintu dibuka dan ia harus kembali menghadapi badai geopolitik yang sesungguhnya.