Jika dihitung selama 5 tahun:
- Harga pembelian awal: Rp 27,5 juta
Tidak ada biaya bulanan
- Total pengeluaran 5 tahun: Rp 27,5 juta
Secara angka, total biaya 5 tahun terlihat sama dengan skema BaaS. Namun, ada satu faktor penting yang perlu diperhatikan yaitu umur dan kondisi baterai.
Pertimbangan Rasional Antara Battery as Service vs Buy to Own
![Polytron menyediakan subsidi pembelian motor listrik hingga Rp7 juta di IIMS 2026. [Dok Polytron]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/06/36109-polytron.jpg)
Jika hanya melihat angka kasar, kedua skema memang terlihat “imbang” di angka Rp 27,5 juta selama 5 tahun. Tapi dalam praktiknya, ada beberapa perbedaan krusial.
1. Risiko Biaya Tambahan
Pada skema BaaS, risiko biaya besar hampir nol karena baterai selalu dijamin. Sebaliknya, pada skema buy to own, jika baterai mulai menurun performanya setelah 3–5 tahun, biaya penggantian bisa sangat mahal bahkan mendekati Rp 17 jutaan.
2. Fleksibilitas Finansial
BaaS menawarkan harga awal yang jauh lebih ringan, cocok bagi pengguna dengan budget terbatas. Buy to own membutuhkan dana besar di awal, tetapi tanpa cicilan bulanan.
3. Nilai Jual Kembali
Motor dengan baterai sewaan cenderung lebih “aman” dari sisi depresiasi. Sementara motor dengan baterai milik sendiri akan mengalami penurunan nilai seiring usia baterai.
4. Kepemilikan Aset
Buy to own memberi rasa kepemilikan penuh atas kendaraan. Sedangkan BaaS membuat baterai tetap menjadi milik penyedia layanan.
Demikian itu hitung-hitung pengeluaran 5 tahunan Polytron Fox 350. Pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan dan kondisi finansial pengguna.
Pilih BaaS jika Anda ingin biaya awal rendah, tidak mau pusing soal baterai, dan mengutamakan kepastian biaya jangka panjang. Pilih Buy to Own jika Anda ingin kepemilikan penuh tanpa biaya bulanan, serta siap menanggung resiko baterai di masa depan.