- Pemerintah Indonesia sedang mengkaji ulang kebijakan insentif kendaraan listrik yang rencananya akan diberlakukan mulai tahun 2026 mendatang.
- Hyundai Motors Indonesia menyarankan pemberian insentif berkelanjutan bagi pengguna kendaraan listrik saat operasional, bukan hanya pada awal pembelian.
- Pihak Hyundai berharap insentif pemerintah turut menjangkau level dealer sebagai bentuk dukungan atas upaya edukasi kepada calon konsumen.
Suara.com - Wacana pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan insentif kendaraan listrik pada 2026 mulai mendapat respons dari pelaku industri otomotif.
Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dikabarkan tengah mengkaji ulang skema insentif kendaraan listrik untuk tahun ini.
Menanggapi rencana tersebut, Chief Operating Officer PT HMID, Fransiscus Soerjopranoto berharap agar insentif tidak hanya berfokus pada pembelian awal kendaraan seperti pemotongan pajak.
Namun arah kebijakan pemerintah diharapkan bisa mendukung penggunaan energi ramah lingkungan selama masa kepemilikan kendaraan, tidak hanya saat awal pembelian.
“Kalau mengenai insentif listrik, tentu itu kebijakan pemerintah. Tapi yang penting bagaimana kendaraan yang lebih ramah lingkungan bisa diberikan benefit lebih,” ujar Soerjopranoto di Jakarta, Kamis (16 April 2026).
“Benefit itu jangan berhenti saat membeli kendaraan saja. Tapi saat digunakan, misalnya saat penggunaan untuk membayar tol atau parkir, jadi bisa ada kelebihan bagi pengguna kendaraan ramah lingkungan,” sambungnya.
Lebih lanjut, kata Soerjo, konsumen yang membeli kendaraan listrik telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, insentif sebaiknya diberikan berdasarkan kontribusi kendaraan terhadap lingkungan baik dari sisi efisiensi bahan bakar maupun emisi gas buang.
Selain itu, ia menilai, dealer juga memiliki peran penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Sebab dealer memiliki tanggung jawab dalam memberikan edukasi kepada calon konsumen.
Oleh karena itu, Hyundai berharap skema insentif juga dapat menjangkau hingga ke level paling bawah seperti dealer sebagai bagian dari ekosistem kendaraan listrik.
“Dealer itu melakukan edukasi ke konsumen atau calon pembelinya dan itu butuh effort. Jadi kalau bisa, insentif tidak hanya untuk pembelian dan penggunaan tapi juga sampai ke level dealer,” pungkasnya.