- Teknologi BYD DM mampu menempuh jarak hingga 1.800 km, setara rute Jakarta-Bali.
- Konsumsi BBM sangat hemat mencapai 65 km/liter, mengalahkan efisiensi mobil 1.500 cc.
- Membawa filosofi G.A.S.S (Gesit, Andal, Senyap, Super Irit) sebagai solusi mobilitas masyarakat.
Suara.com - Perjalanan darat jarak jauh lintas provinsi selalu menghadirkan tantangan tersendiri, terutama soal efisiensi bahan bakar. Bagi pengguna mobil listrik murni (BEV), kekhawatiran kehabisan daya di tengah jalan tol atau yang dikenal dengan range anxiety masih jadi momok utama.
Namun, bagaimana jika ada teknologi yang memungkinkan Anda berkendara sejauh 1.800 kilometer—setara dengan menempuh rute Jakarta hingga Pulau Bali bolak-balik—tanpa perlu pusing memikirkan titik pengisian daya atau pom bensin?
Inilah klaim ambisius yang dibawa oleh pabrikan otomotif BYD lewat peluncuran teknologi plug-in hybrid (PHEV) terbarunya di Indonesia yang diberi nama DM atau Dual Mode.
Kombinasi Gila: 1.800 Km dan 65 Km/Liter
Melalui pengembangan teknologi DM, BYD mencoba menawarkan jalan tengah yang cerdas. Mereka merancang sistem elektrifikasi yang menggabungkan efisiensi energi khas kendaraan listrik dengan fleksibilitas daya jelajah jarak jauh milik mesin pembakaran internal.
Berdasarkan pengujian internal BYD, perpaduan kombinasi baterai terisi penuh dan tangki bahan bakar maksimal pada sistem DM mampu memuntahkan daya jelajah hingga lebih dari 1.800 kilometer.
Tidak berhenti di jarak tempuh, angka konsumsi bahan bakarnya juga patut menjadi sorotan. Teknologi ini mencatatkan konsumsi BBM hingga 65 km/liter. Angka ini secara kasar 60 persen jauh lebih efisien dibandingkan mobil keluarga bermesin bensin 1.500 cc konvensional yang saat ini mendominasi jalanan Indonesia.

Membedah Karakter G.A.S.S
Menariknya, BYD tidak sekadar membawa teknologi ini mentah-mentah ke pasar Tanah Air. Untuk menyesuaikan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia yang dinamis, mereka memperkenalkan filosofi khusus yang disebut DM G.A.S.S.
Akronim ini bukan sekadar bahasa marketing, melainkan representasi mekanis dari cara kerja teknologi Dual Mode tersebut:
- Gesit: Mengandalkan motor listrik, sistem ini memberikan respons tenaga instan dan torsi halus. Ini sangat krusial untuk stop-and-go di kemacetan perkotaan maupun saat butuh akselerasi spontan di jalan tol.
- Andal: Sistem komputasi Dual Mode mampu beradaptasi secara cerdas. Mesin bisa membagi peran antara penggerak utama atau sekadar menjadi generator pengisi daya baterai, menyesuaikan kontur jalanan Indonesia yang beragam.
- Senyap: Karena dominasi penggerak listrik pada kecepatan rendah hingga menengah, Noise, Vibration, and Harshness (NVH) berhasil ditekan drastis, menghadirkan kabin yang tenang bak mobil listrik premium.
- Super Irit: Eksekusi akhir dari sistem ini adalah efisiensi operasional. Menekan biaya pengeluaran untuk bahan bakar tanpa mengorbankan fleksibilitas pemakaian sehari-hari.
Solusi Transisi yang Relevan
Pendekatan Dual Mode ini memungkinkan penggunanya tetap merasakan sensasi berkendara torsi instan khas mobil listrik murni, namun tanpa kecemasan saat diajak road trip lintas pulau.
Di tengah masifnya dorongan pemerintah menuju elektrifikasi, teknologi PHEV seperti BYD DM ini tampaknya menjadi jembatan transisi paling masuk akal bagi konsumen Indonesia yang mendambakan efisiensi super namun belum sepenuhnya siap bergantung pada infrastruktur charging station.