- Kursi zero gravity di mobil listrik berisiko memicu submarining fatal saat kecelakaan.
- Tiongkok mulai mengevaluasi gagang pintu pop-out dan setir yoke karena masalah keselamatan.
- Regulator mendesak kembalinya tombol fisik untuk menggantikan fungsi krusial dari layar sentuh.
Suara.com - Persaingan industri otomotif, khususnya di segmen mobil listrik (EV), belakangan ini berlomba-lomba menyulap kabin layaknya lounge mewah berjalan. Sayangnya, tidak semua inovasi kemewahan ini sejalan dengan standar keselamatan.
Salah satu yang kini menjadi sorotan tajam adalah fitur kursi "zero gravity". Alih-alih memanjakan, fitur ini justru menyimpan bom waktu yang mematikan saat kondisi darurat.
Ancaman Nyata Bernama 'Submarining'
Dilansir dari Carscoops, Pemerintah Tiongkok kini tengah mengevaluasi keras penggunaan kursi zero gravity yang marak disematkan pada mobil listrik premium.
Kursi ini memungkinkan penumpang untuk bersandar sangat rebah, nyaris berbaring seperti di kursi pesawat kelas bisnis.
"Polisi Tiongkok Menemukan Hal Lain yang Harus Dilarang di Mobil. Kursi santai yang bisa direbahkan menjadi sasaran terbaru, seiring regulator mempertimbangkan dampak keselamatan dari tidak duduk tegak," tulis laporan Carscoops.
Namun, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok mengeluarkan peringatan keras.
Posisi duduk yang terlalu rebah terbukti secara drastis mengurangi efektivitas sabuk pengaman dan airbag ketika terjadi tabrakan frontal.
Dalam posisi rebah, tubuh penumpang berisiko tinggi melorot atau meluncur ke bawah sabuk pengaman saat benturan terjadi. Kondisi mengerikan inilah yang di dunia otomotif dikenal dengan istilah "submarining", yang bisa memicu cedera fatal pada organ dalam hingga tulang belakang.

Deretan Fitur Futuristik yang Ikut Disorot
Kekhawatiran terhadap ancaman submarining hanyalah puncak gunung es dari upaya Tiongkok menata ulang standar keselamatan EV.
Negara yang selama ini menjadi kiblat tren kendaraan listrik tersebut perlahan mulai "menarik rem darurat" terhadap desain-desain yang dinilai terlalu gimmick.
Beberapa fitur yang dulunya dianggap inovasi brilian kini masuk dalam radar evaluasi. Sebut saja gagang pintu model pop-out yang kerap menyulitkan proses evakuasi penumpang saat mobil mengalami kecelakaan atau kehilangan daya kelistrikan.
Selain itu, setir model yoke (setir terpotong yang tidak bulat penuh) juga disorot karena dianggap membahayakan respons spontan pengemudi saat bermanuver darurat.
Sistem one-pedal driving yang sangat bergantung pada pengereman regeneratif tak luput dari evaluasi ketat.
Back to Basic: Kembalinya Tombol Fisik
Menariknya, tren layar sentuh berukuran raksasa yang mendominasi dasbor mobil listrik kekinian juga mulai dibatasi.
Regulator mendorong pabrikan otomotif untuk mengembalikan fungsi tombol fisik pada area kontrol yang krusial.
Tujuannya sederhana: agar pengemudi bisa mengakses fitur darurat tanpa harus mengalihkan pandangan ke layar digital.
Sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia, langkah tegas Tiongkok ini jelas akan menciptakan efek domino.
Fitur-fitur mewah yang hari ini Anda lihat sebagai standar kemewahan masa depan, bisa jadi akan segera diharamkan atau dirombak total demi menjamin nyawa penumpang.