- Ketua Anfia Roberto Vavassori mendesak Uni Eropa mengenakan tarif impor hingga 80 persen bagi produk otomotif China pada Sabtu (12 September 2026).
- Pangsa pasar mobil merek China di Uni Eropa telah menembus angka di atas 9 persen pada paruh pertama tahun ini.
- Ekspor komponen Italia ke Jerman diproyeksikan merosot 10 persen tahun ini dan terancam anjlok hingga 50 persen pada 2028.
Suara.com - Industri otomotif Eropa mulai merasakan ketakutan hebat akibat derasnya gempuran produk asal China. Kondisi memprihatinkan ini memicu asosiasi pemasok otomotif Italia, Anfia, mendesak Uni Eropa segera mengambil langkah tegas demi melindungi industri dalam negeri dari kehancuran.
Ketua Anfia, Roberto Vavassori, mengusulkan agar kendaraan dan komponen buatan China dikenakan tarif hingga 80 persen jika jumlah impornya melampaui ambang batas tertentu. Ia menilai kendaraan China seharusnya hanya boleh masuk tanpa tarif tambahan selama volumenya tidak melebihi 8 persen dari total kendaraan yang terdaftar di Uni Eropa setiap tahun.
"Kami sangat menghormati pencapaian industri China tetapi rasa hormat itu kini telah berubah menjadi ketakutan. Eropa tidak boleh kehilangan industri yang sangat penting bagi otonomi strategisnya," ujarnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (12 September 2026).
Vavassori menegaskan pembatasan ketat ini wajib mencakup suku cadang karena komponen menyumbang sekitar 80 persen dari total nilai satu unit kendaraan.
Ancaman ini kian nyata seiring pesatnya ekspansi produsen asal Negeri Tirai Bambu. Data European Automobile Manufacturers' Association (ACEA) mencatat pangsa pasar mobil merek China di Uni Eropa telah menembus angka di atas 9 persen pada paruh pertama tahun ini.
Saat ini Uni Eropa sebenarnya telah menerapkan bea masuk tambahan untuk mobil listrik buatan China di luar tarif standar 10 persen. Kebijakan itu membuat total beban impor berada di kisaran 18 hingga 45 persen tergantung pada masing-masing merek.
Tak hanya persoalan impor, Anfia menyoroti investasi pabrikan seperti BYD dan Chery di Eropa yang dinilai masih sebatas pabrik perakitan tanpa melibatkan pemasok lokal. Mayoritas komponen masih diimpor dari China atau kawasan berbiaya rendah.
Dampak tekanan ini sudah menghantam pemasok otomotif Italia. Ekspor komponen mereka ke Jerman yang bernilai 4,9 miliar euro pada 2025 diproyeksikan merosot 10 persen tahun ini menyusul imbas restrukturisasi Volkswagen. Tanpa proteksi regulasi yang kuat, Anfia memperkirakan ekspor suku cadang Italia bisa anjlok hingga 50 persen pada 2028.