- Jaguar Land Rover berencana memangkas sekitar 4.000 posisi pekerjaan global melalui skema sukarela dalam dua tahun mendatang.
- Kebijakan efisiensi tersebut diambil akibat tekanan persaingan ketat dengan produsen China, tarif, geopolitik, serta insiden serangan siber tahun 2025.
- Meski melakukan pemangkasan tenaga kerja, perusahaan tetap berkomitmen melanjutkan investasi elektrifikasi dan meluncurkan lima produk baru.
Suara.com - Jaguar Land Rover (JLR) merencanakan pemangkasan sekitar 4.000 posisi pekerjaan dalam kurun dua tahun mendatang. Kebijakan pengurangan tenaga kerja tersebut setara dengan hampir 10 persen dari total keseluruhan karyawan JLR di tingkat global.
Saat ini JLR mempekerjakan sekitar 43.000 orang di seluruh dunia, termasuk 34.000 pekerja yang berbasis di Inggris. Meski belum merinci lokasi mana saja yang terkena imbas, pihak manajemen memastikan program efisiensi ini akan dijalankan melalui skema pemutusan hubungan kerja secara sukarela.
Tekanan berat terhadap bisnis JLR datang dari berbagai arah. Industri otomotif global sedang berada dalam pusaran persaingan yang kian ketat, terutama akibat gempuran produsen asal China, hambatan tarif perdagangan, hingga ketidakpastian kondisi geopolitik.
Pabrikan kendaraan premium ini juga harus menanggung konsekuensi dari serangan siber berskala besar pada tahun 2025 lalu. Insiden kejahatan digital tersebut sempat melumpuhkan aktivitas produksi sekaligus mengacaukan rantai pasokan komponen perusahaan.
Di tengah pemangkasan skala besar, JLR menegaskan tidak akan menghentikan komitmen investasi. Perusahaan tetap mengalokasikan dana segar untuk durasi lima tahun ke depan yang difokuskan pada pengembangan elektrifikasi, teknologi digital, proses manufaktur, serta peningkatan kualitas pengalaman pelanggan.
Dalam kurun 12 bulan mendatang, JLR dijadwalkan meluncurkan lima produk kendaraan baru. Langkah berani ini membuktikan strategi JLR yang berusaha menyeimbangkan efisiensi anggaran operasional dengan investasi pertumbuhan jangka panjang.
Gelombang PHK di tubuh JLR kian mempertegas badai krisis yang tengah melanda pabrikan Benua Biru. Keputusan ini menyusul pengumuman restrukturisasi masif dari Volkswagen yang berencana memangkas hingga 50.000 pekerja, menandakan persaingan pasar yang kian tidak ramah bagi produsen otomotif Eropa.