-
Erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung lebih dari 24 jam hingga terekam satelit NASA.
-
Semburan abu vulkanik mencapai 50.000 kaki dan sempat menutup delapan bandara di Indonesia.
-
Status Gunung Anak Krakatau saat ini bertahan pada level siaga dua atau Waspada.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan gejolak dahsyat dengan melontarkan abu vulkanik hingga ketinggian 50.000 kaki ke angkasa. Erupsi hebat yang berlangsung lebih dari 24 jam ini membumbung tinggi hingga citranya tertangkap jelas oleh satelit NASA dari ruang angkasa.
Kedahsyatan letusan yang terjadi pada 5 hingga 6 September tersebut berdampak langsung pada kelancaran transportasi udara di sekitar Samudra Hindia. Ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan serta delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatra terpaksa menghentikan operasinya sementara waktu.
Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebaran kolom abu membubung hingga 20.000 kaki di sisi timur dan mencapai 50.000 kaki ke arah barat. Fenomena ini membuktikan betapa besarnya daya dorong material vulkanik yang dikeluarkan dari perut bumi.

Hasil rekaman satelit Landsat 8 milik NASA dan U.S. Geological Survey memperlihatkan gumpalan abu tebal membentang luas menyeberangi Samudra Hindia. Sapuan angin membawa material erupsi tersebut melintasi jalur penerbangan sibuk yang menghubungkan wilayah Jawa dan Sumatra.
Meski situasi penerbangan di kedua pulau kini telah berangsur pulih, pihak berwenang tetap menempatkan gunung aktif ini pada status siaga level dua. Karakteristik erupsi Anak Krakatau kini kembali pada pola letusan kecil yang terjadi secara berkala.
Riwayat kebencanaan mencatat bahaya laten dari gunung ini pernah memicu tanah longsor bawah laut yang memicu tsunami dahsyat pada tahun 2018. Pengalaman kelam tersebut membuat otoritas terkait terus memantau pergerakan aktivitas magmatis secara ketat demi mengantisipasi ancaman susulan.
Lahir di tengah perairan Selat Sunda, pulau vulkanik ini tumbuh dari sisa-sisa kaldera pasca-letusan legendaris Krakatau pada tahun 1883. Erupsi induknya kala itu berlangsung selama lebih dari lima bulan dan diakui sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia.
Reruntuhan kaldera Krakatau yang awalnya tenggelam di bawah permukaan laut perlahan membentuk daratan baru yang muncul ke udara sekitar tahun 1930. Sejak saat itu, Anak Krakatau konsisten menunjukkan aktivitas vulkanik yang dinamis dan kerap bergolak secara tiba-tiba.
Posisi geografis Anak Krakatau berada tepat di dalam kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang membentang sepanjang 25.000 mil. Kawasan tektonik paling aktif di bumi ini mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi rumah bagi dua pertiga gunung berapi aktif di dunia.
Kondisi geologis yang berada di jalur cincin api membuat aktivitas vulkanik di kawasan ini sangat rentan mengalami peningkatan fase erupsi secara mendadak. Pemerintah mengimbau seluruh pihak untuk tetap waspada mengingat dinamika Anak Krakatau yang sulit diprediksi secara pasti.