- Tim SAR memperluas area pencarian kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda pada Minggu (13/9/2026).
- Operasi pencarian delapan korban melibatkan 551 personel, 15 kapal, serta satu helikopter siaga di Pandeglang.
- Korban hilang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang berangkat menuju Gunung Anak Krakatau.
Suara.com - Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian kapal cepat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Pandeglang, Banten.
Pada hari ketujuh pencarian, Minggu (13/9/2026), area pencarian diperluas hingga mencapai 6.010 nautical mile (NM) persegi dan dibagi menjadi enam sektor.
Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Basarnas, Rangga Aribowo, mengatakan enam sektor tersebut terdiri atas lima sektor pencarian melalui jalur laut dan satu sektor udara.
"Untuk luas area pencarian 6.010 nautical mile persegi, pencariannya cukup luas, dan dibagi menjadi enam sektor terdiri dari lima sektor laut dan satu udara," kata Rangga di Pandeglang, Minggu, dikutip dari ANTARA.
Lima sektor laut tersebut diberi kode V, W, X, Y, dan Z. Masing-masing sektor memiliki luas dan unsur pencarian yang berbeda.
Sektor V memiliki luas 840 NM persegi dengan pengerahan dua kapal TNI AL, yakni KRI Kerambit dan KRI Teluk Gilimanuk.
Kemudian Sektor W mencakup area seluas 1.120 NM persegi. Pencarian di sektor ini dilakukan menggunakan KAL Anyer milik TNI AL.
Sementara Sektor X menjadi wilayah dengan jumlah unsur pencarian laut terbanyak. Sebanyak delapan kapal dikerahkan untuk menyisir area seluas 681 NM persegi.
Kapal yang terlibat di sektor tersebut yakni KN SAR Tetuka, RBB Peucang, RIB 02 Basarnas Banten, RIB 02 Basarnas Lampung, kapal polisi 2016, kapal polisi 2013, KM Garuda, dan KM Bima.
Selanjutnya, Sektor Y memiliki luas 497 NM persegi dengan pengerahan KP Sanjaya dan KRI Lepu.
Sedangkan Sektor Z mencakup area seluas 809 NM persegi. Pencarian dilakukan menggunakan KN SAR Basudewa milik Basarnas Lampung dan KN SAR Antasena dari Basarnas Jakarta.
Helikopter Masih Standby
Selain penyisiran melalui jalur laut, tim SAR juga menyiagakan satu helikopter untuk mendukung pencarian dari udara.
Helikopter tersebut saat ini masih berada dalam posisi siaga di ATS sambil memantau perkembangan kondisi di perairan Selat Sunda.
Rangga mengatakan penyisiran dari udara belum dilakukan karena kondisi jarak pandang di lokasi masih rendah berdasarkan hasil pemantauan visual sebelumnya.